RESET

resetffindo

RESET

Title : Reset

Author : Zeya

Genre : slice of life – angst – romance

Length : Oneshot.

Cast(s) : SEVENTEEN’s Joshua Hong Jisoo | LOVELYZ’s Seo Jisoo | other casts

FFINDO SERIES – LOVE : Happily Ever After

Disclaimer : Saya gapunya castnya, punyanya cuman storyline sama copyright atas fanfic ini. Author’s Note below (will be long, bear with it!) Semoga menyukai fanfic ini, comments are really appreciated!

FFINDO PROJECT – 2017

©ZEYA 2017

.

 

“Junhoe, pesanan untuk meja delapan!”

“Ah, aku masih harus mengantarkan fettucini ke meja satu! Noona, bantu aku!”

“Meja delapan? Check!”

Suasana restaurant dengan masakan Italia yang berada di antara jajaran restaurant di Hongdae memang ramai. Alasan utamanya pasti karena makan siang, namun, tidak dipungkiri, pekerja di restaurant Italia itu memang primadona bagi para pengunjung.

“Totalnya ₩80.000, Nona.” Pemuda dibelakang mesin kasir nampak tersenyum manis, menunjukkan senyuman tanpa matanya. Membuat beberapa pengunjung nampak berteriak kecil.

“Terima kasih sudah datang ke Restaurant kami, sampai bertemu di kunjungan anda selanjutnya.”

 

*

 

“Yoona noona! Jiwon hyung menggangguku terus!” rajuk Junhoe ketika seluruh karyawan restaurant itu tengah membersihkan restaurant. Waktu mereka tiga jam sebelum harus kembali buka sebelum makan malam. Rajukan dari si bungsu diantara mereka semua mengundang tawa semua orang, kecuali gadis yang tengah melipat kain serbet.

“Terkadang, ketika melihatmu hanya diam membisu seperti itu membuat aku sedih, Princess.” Suara pemuda dibalik mesin kasir tadi membuat rekan kerjanya diam, memperhatikan sang adam dan hawa. Gadis yang disebut princess tadi langsung saja mendelik kesal. “Oops.”

“Aku lebih suka kalau kau diam, mengepel, menyapu, atau melakukan hal apapun yang tidak melibatkan aku, sebenarnya.” Ucap sang hawa, sebelum melengos kembali membuat kain serbet yang sangat… kalau boleh dikatakan sih, sempurna.

“Noona, terima saja ajakan kencan dari Hanbin. Nampaknya, dia akan berhenti mengganggu noona ketika noona sudah mengiyakan ajakan kencannya yang kesekian kali.” Celetuk Jiwon, yang tengah mengepel lantai. Lemparan serbet yang tengah terproses di tangan Jisoo mengenai wajah Jiwon. “Aduh.”

“Sudah kubilang mulutmu itu dicuci dulu, sana. Kau selalu mengatakan hal-hal yang benar tidak masuk diakal.” Keluh Jisoo, kali ini berdiri dari posisi duduknya. Membawa seluruh serbet yang telah dibuatnya, meletakkannya serapi mungkin di tiap meja.

Seo Jisoo sebenarnya tidak kesal dengan semua anak-anak lelaki rekan kerjanya di restaurant Italia ini. Namun, mereka benar-benar selalu menggodanya, sedangkan dirinya bukanlah orang yang suka di goda. Apalagi dengan mereka, yang sudah dianggap adik olehnya. Anak-anak nakal, keluh Jisoo dalam hati.

Telepon restaurant berbunyi, si bungsu dari mereka semua, Junhoe berjalan mendekati telepon, mengangkatnya sopan. “Halo? Maaf, restaurant kami masih tutup—Oh. Tunggu-” si bungsu menurunkan gagang telepon, memandang ke seluruh penjuru ruangan.

“Jisoo noona, telepon untukmu.” Ujarnya, menyerahkan gagang telepon. Sang gadis berjalan malas, sedikit menggerutu karena pekerjaannya harus terhenti untuk sekian lama.

“Halo?”

“Seo… Jisoo?”

“Iya, namaku Seo Jisoo. Ini dengan siapa?” tanyanya, suaranya sedikit ketus setelah mengetahui suara lelaki diseberang. Hal yang selalu dilakukannya ketika menerima telepon yang tidak dikenalnya—dan jika Hanbin menghubunginya.

“Jisoo noona, ini Mingyu, Kim Mingyu. Jisoo hyung sudah sadar, noona.”

 

*

 

Namanya Hong Jisoo. Berusia dua puluh satu tahun. Lahir dan besar di Amerika, sehingga ia lebih sering memperkenalkan namanya sebagai Joshua Hong. Rambutnya cokelat—terakhir kali. Dan akhirnya, dirinya sadar setelah tiga setengah tahun berada dalam kondisi koma.

“Namamu?”

“Jo…shua. Joshua… H-Hong.”

“Umurmu?”

“Delapan belas… ‘kan?”

“Apa kau ingat, terakhir kali kau melakukan apa sebelum akhirnya bangun?”

Hening.

“Merayakan ulangtahun…. Eh. Bukannya ini April? Siapa yang ulangtahun di April?”

“Apa kau merasa…. Memiliki kekasih?”

“Kekasih? Yang benar saja, baru-baru ini saja, Choi Seungcheol—si sialan itu, mencemoohku karena tidak memiliki kekasih.” Ujarnya, tertawa lemah.

“Aku ragu dengan hasilnya.”

Ucapan baritone Kim Mingyu membuat sang gadis bersurai hitam tersadar dari lamunannya, sembari matanya masih terfokus pada sosok pasien yang tengah berbicara dengan dokter.

Jisoo melupakan namanya.

 

*

“Sebagian memorinya nampak hilang. Dia sendiri sedikit kaget setelah mengetahui sudah koma sekitar tiga setengah tahun, dan mengetahui usianya sudah dua puluh satu. Amnesia disosiatif memang sering terjadi, tapi… biasanya karena trauma.”

Seo Jisoo memilih diam, tidak menjawab. Penjelasan Dokter Yoon didepannya membuat dirinya kebingungan. Apa, perjuangannya selama ini sudah sia-sia? Bukannya ia yakin, ketika Joshua bangun—mereka akan hidup pada kehidupan bahagia mereka? Seperti yang lalu?

‘Noona, aku mencintaimu.’

‘…Mencemoohku karena tidak memiliki kekasih.’

Oh Tuhan, yang benar saja!

“Noona? Noona!”

Ucapan itu membuat sang dara tersadar. Ia menatap Kim Mingyu, adik sepupu dari Joshua Hong. “Dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi, tenang saja.” Tenang? Mana mungkin dirinya bisa tenang ketika dirinya terlupakan. Pria itu mencintainya, kan?

“Mhm, terima kasih, Mingyu.”

 

*

 

Beberapa hari kemudian, dengan mood yang masih kacau, bosnya kembali dari kunjungan keluarganya, dan dirinya memilih tidak merespon, alias lebih sering diam. Seluruh ucapan anak-anak lelaki yang merupakan rekan kerjanya dianggapnya mengesalkan. Bahkan, dirinya harus marah-marah pada Hanbin dan Jiwon—dan juga Junhoe sebenarnya, ah sungguh dirinya kerepotan. Bahkan ketika sepupu bosnya datang, ia mangut-mangut saja ketika disuruh pergi.

Hei, masalah hidupnya sudah banyak, tidak butuh mencampuri masalah hidup orang lain—lagi. Apalagi bosnya, yang sudah dirinya anggap kakak perempuannya sendiri.

“Selamat da—Mingyu?” ketika restaurant dibuka untuk makan malam, dirinya baru saja akan menyambut ramah tamu yang datang, ketika menemukan pria muda berusia sembilan belas tahun datang ke restaurant tempatnya bekerja.

“Hey, noona. Aku membawa—”

“Masakan Italia! Apa ini restaurant baru, Mingyu-ya? Aku baru pertama kali melihatnya. Kau pintar sekali, aku terharu—Kau masih mengingat aku menyukai Fettucini.” Aku yang membuatmu menyukai fettucini.

“O-Oh.”

Hening. Ia merasa dirinya tidak berada di restaurant atau dimanapun. Hanya sendirian, dan menatap sosok Hong Jisoo didepannya. Nyata, dengan senyum lebar miliknya. Dengan tingkah aktifnya yang nantinya akan berubah diam ketika sudah duduk. Sama persis.

“Noona, cepat. Ada tamu lain dibelakang!” seruan Kim Jiwon membuatnya tersadar dan mengangguk sebelum tersenyum—sopan.

“Ayo, ikuti aku.” Ujarnya, berjalan didepan dua pria dengan perbedaan tinggi yang kontras itu. Ia mempersilahkan mereka duduk di meja panjang—setelah Mingyu menginfokan mereka berjumlah banyak, walaupun baru mereka berdua yang datang.

“Ini menunya, Tuan.” Ujarnya, menyerahkan buku menu kearah Mingyu—saja. Dirinya menghela napas panjang, dalam hati. Dirinya pasti bisa! Bukankah dirinya sudah jago dengan sifat professional? Menyembunyikan perasaan aslinya. Kamuflase.

“Kami akan memesan nanti, Nona…..” suara pria—yang sangat dikenalnya itu, membuatnya reflex menoleh.

“Jisoo. Seo Jisoo.” Ujarnya—parau.

“Hei! Nama kita sama! Aku Jisoo, juga!” aku tahu. “Hong Jisoo, biasa aku dipanggil—”

“Hyung, berhenti. Kau mengganggu noona ini bekerja.” Keluh Mingyu. Terima kasih, Mingyu, kau jenius.

“Jika sudah ingin memesan silahkan panggil saya saja.” Ujarnya, sebelum berjalan kearah pantry. Membantu Hanbin—yang tengah kebingungan mengurutkan pesanan. Dengan lihai, dirinya mengatur pesanan yang tercatat, menyuruh Hanbin, juga Junhoe untuk mengantarkannya.

Malam panjang.

 

*

 

“Kau tahu, Mingyu, aku merasa pernah melihat gadis pelayan itu tadi.” Bisik Joshua, pelan-pelan. Kim Mingyu berpura-pura serius membaca menu, walaupun pada kenyataannya dirinya hanya melihat nama ‘Plum Juice’ berulang-ulang.

“Jisoo!”

Suara itu membuat dirinya menoleh, serasa terpanggil. Sekali lagi, dirinya menemukan sang gadis pelayan juga menoleh, kali ini berlari kecil menuju kearah seorang wanita yang nampak berusia dua puluhan.

Rambut gadis itu kali ini terikat kebelakang.

Ia nampaknya memang pernah mengenali sang gadis. Tapi… dimana?

“Jisoo! Kau hidup, sobat!”

Suara Choi Seungcheol—yang benar-benar dikenalinya, membuatnya tersadar dan tersenyum lebar. Teman-temannya berkumpul—Seungcheol, Junghan, Jihoon, Seungkwan, Seokmin—dan beberapa yang lain yang tidak bisa datang.

“Aku harus akui, praduga kau akan bangun sangatlah kecil, kau tahu. Kami beberapa kali memutuskan untuk mencabut life support-mu. Namun ditahan oleh—”

“Olehku, tentunya!” sahut Mingyu, menutupi suara kecil Junghan yang menyebut nama Jisoo. Yoon Junghan mengernyitkan dahinya kearah Mingyu, membuat Mingyu menelan ludah. Membuat Jisoo ikut mengernyit.

“Seo Jisoo? Hey, pacarmu bekerja disini, Hong?”

Pacar?

‘Noona, aku mencintaimu.’

‘Orang terbahagia adalah orang tersedih. Apa kau sedang bersedih, Jisoo?’

“Jisoo! Hey, Jisoo! Kesini!”

“H-Hyung! Jangan dipanggil!”

“Memangnya kenapa? Jisoo kan kekasih Jisoo, tidak masalah jika aku memanggilnya!”

“Seungcheol?”

“Kau bekerja disini? Kenapa Jisoo diam-diam saja? Biasanya dia selalu mengganggumu—kau ingat kan ketika—”

BRUK.

“Kau bahkan tidak pernah menghargai usahaku padamu, noona. Apa kau benar menganggapku ini kekasihmu? Hubungan bukan hanya dijalani oleh satu orang, kuharap kau sadar akan hal itu.”

Tidak pernah Seo Jisoo sehisteris itu, meraih pria berusia dua puluh satu tahun ke dekapannya. Membuat restaurant heboh.

 

*

 

“Jangan paksa dirinya mengingat. Ingatannya akan kembali, sedikit demi sedikit. Bersabarlah.”

“Aku minta maaf, noona. Seharusnya, aku memberitahu yang lain, mengenai keadaan Jisoo hyung.”

“Hey, kami akan membantumu. Kau tahu itu, kan?”

Tidak ada yang salah, itu pikir Seo Jisoo.

Dirinya memutuskan menemani Hong Jisoo di Rumah Sakit—cepat atau lambat, pria itu pasti akan mencarinya, mengingat sifat penasaran pria itu. Lebih baik dirinya sudah berada disini, menunggu seluruh pertanyaan yang akan dilontarkan sang adam.

‘Unnie, aku mencintai seorang lelaki. Walaupun lebih muda dariku, sejujurnya aku tidak yakin bisa mencintai orang lain selain lelaki ini.’

‘Lalu?’

‘Dia menyerah. Padahal, aku menunjukkan aku mencintainya dengan seluruh senyuman dan apresiasiku. Maksudku—Aku tahu aku tidak pandai menunjukkan perasaanku, namun… Apa itu tidak cukup?’

‘Tindakan adalah bukti nyata, Jisoo. Tanpa tindakan, tidak akan ada gunanya. Tidak akan ada yang percaya kau mencintainya.’

‘Dia menyerah…… unnie.’

‘Maka kau yang harus maju.’

“Jadi…. Kau kekasihku?”

Ucapan itu membuat lamunan Seo Jisoo buyar. Ia menoleh, mendapati Hong Jisoo sudah sadar, dengan tatapan mata tepat kearahnya. Ia ikut menatap sang adam. Diam, tidak menjawab.

“Aku sering mendapati gadis dalam mimpiku—mimpinya tidak terlalu bagus, jika aku boleh jujur. Kuharap itu bukan kau.” Mungkin itu aku. Mengingat aku jahat sekali padamu.

Jisoo tersenyum tipis, mendengar penuturan sang adam. Kekasihnya? Jika tiga setengah tahun berlalu dan sekarang pria ini melupakannya, apa status kekasih masih berlaku? Tapi, sang dara hanya tersenyum kecil, memilih untuk tidak menjawab.

“Kau tahu—Kau harus berbicara. Aku masih bingung dengan hubungan… kita.” Ujar sang adam lagi.

“Dokter mengatakan ingatanmu akan kembali, sedikit demi sedikit.” Kalimat pertama dilontarkan oleh sang dara bermata besar itu. “Seungcheol menyuruhku membantumu mendapatkan kembali ingatanmu sekitar enam bulan sebelum kau koma.” Tambahnya lagi.

“Apa aku mencintaimu?”

Ya.

Kau mencintaiku.

Sangat.

Dan aku juga.

Tapi sayang aku bodoh, Hong Jisoo.

Maafkan aku.

 

*

 

“Hey, Princess. Nampaknya, aku berhak tahu siapa lelaki yang datang, dan pingsan, sehingga membuat dirimu panik.”

Ucapan Hanbin membuat Jisoo menoleh. Wajah letihnya sempat membuat Hanbin terkejut. Mengingat selama ini Seo Jisoo adalah perempuan ambisius dan paling bersemangat yang pernah ia temui. “Aku harap itu bukan kekasih gelapmu. Aku tersiksa.”

“Hanbin, kau seharusnya membantu Yoona noona, bodoh.” Pukulan kecil di pantat Hanbin membuat sang adam menoleh, mendapati Jiwon. “Biarkan Jisoo noona. Kau mengganggu.”

“Hey, dia kan calon kekasihku. Calon, sih. Tapi kan tidak apa-apa.” Celoteh Hanbin, kesal.

“Kim Hanbin! Dalam hitungan kelima kau tidak ada di dapur, gajimu kupotong!” teriakan Im Yoona, bosnya, membuat Hanbin berlari cepat menuju dapur.

Seo Jisoo terkekeh.

Ah, ia harus berterima kasih kepada restaurant Italia tempatnya bekerja… untuk biaya Jisoo dirumah sakit dulu, sebelum dirinya bangun.

“Maaf, kami masih—” ucapan Junhoe terhenti ketika melihat tamu yang masuk. “Oh! Anda yang kemarin pingsan saat makan disini. Teman Jisoo noona?” ucapan itu membuat Jisoo menoleh. Hong Jisoo berdiri didepan pintu masuk dengan kemeja putih, lalu rompi tebal berwarna biru gelap, dan celana jeans. Tersenyum.

“Aku kekasihnya.” Ujar pria itu, santai.

Masih saja rasanya sama. Seperti ada kupu-kupu berterbangan di perutku ketika ia berujar aku kekasihnya.

“Jisoo noona sudah memiliki kekasih?!” pekikan Junhoe sontak membuat Kim Hanbin keluar dari dapur. “Hanbin hyung! Kau tidak apa-apa?” ujar Junhoe, berpura-pura panik kearah Hanbin.

“My princess!” ujar Hanbin, berlebihan.

“Dia tidak bercerita memiliki kekasih?” ujar Jisoo, bingung. “Aku sedikit kecewa.” Manik matanya menatap Jisoo dengan tatapan jenaka, membuat sang dara tersipu. Bukan salahku, aku memilih low profile agar tidak ditanya macam-macam mengenaimu.

“Kukira kau akan datang nanti malam? Aku meminta izin saat shift malam.” Ia berjalan mendekati sang adam, tidak mengindahkan tindakan berlebihan yang dilakukan Hanbin juga Junhoe—kali ini Jiwon juga ikut bersedih, trio sialan.

“Aku hanya ingin melihatmu.” Sekali lagi. “Lagipula, sisa setengah jam.” Ia menunjuk jam diujung ruangan. Menunjukkan pukul setengah enam waktu Seoul. “Kutunggu disini, ya.”

“Oh—Temannya Jisoo.” Suara manis bosnya, Im Yoona membuat Jisoo menoleh. Berjalan cepat kearah bosnya. Air mukanya menunjukkan ucapan maaf karena temannya—kekasihnya datang sebelum waktu izinnya. “Kalian boleh pergi sekarang, lagipula, Jisoo sudah menyelesaikan tugasnya daritadi. Tiga bocah ini yang belum selesai—Jiwon! Hanbin! Junhoe!”

Trio sialan itu berlari ke arah berbeda, menyelesaikan pekerjaan mereka.

“Aku pamit, unnie.” Ia melepas ikatan rambutnya, menggenggam erat tangan bosnya. “Doakan aku.” Bisiknya.

 

*

 

‘Seharusnya kau tidak usah menungguku, Jisoo. Diluar dingin, kau tahu.’

‘Dan membiarkan kekasihku pulang sendiri? Tentu saja tidak. Ayo, noona.’

“Ah—”

“Kau tidak apa-apa?”

“Tidak.” Sang adam menggeleng. “Aku mengingat sesuatu.”

“Apa?”

“Aku selalu menjemputmu, dulu?” tanyanya. Ya, setiap hari, bahkan ketika aku memarahimu karena kau sampai kedinginan. Ia hanya menatap sang adam, tersenyum. “Nampaknya, aku tahu kenapa aku jatuh cinta padamu. Tatapanmu, aku menyukainya.”

‘Aku suka matamu, noona. Cantik. Ketika kau menatapku, kau seperti… Hm, bagaimana mengatakannya, ya. Intinya, aku sangat menyukainya. Matamu milikku.’

“Apa kau bisa menceritakan bagaimana kita pertama kali bertemu?”

 

*

 

“Kau menanyakan namaku lewat Choi Seungcheol. Ketika anak-anak lain mengejekmu tidak pernah pacaran, kau menanyakan tentang diriku kepada Choi Seungcheol, didepan anak-anak lain.”

‘Cheol. Kau mengenal…. Seo Jisoo? Dari major manajemen perhotelan?’

‘Tentu! Dia masuk di klub masak. Bersama—kau tahu Jiae noona, kan?’

‘Oh, begitu.’

‘Hey, Hong. Jangan bilang… Kau suka Jisoo sunbae?!’

“Lalu? Bagaimana aku berkenalan denganmu?”

“Kau menungguku didepan ruangan klub masak.”

‘Jisoo sunbae?’

‘Siapa?’

‘Namaku Hong Jisoo, biasa dipanggil Joshua oleh temanku yang lain. Majorku administrasi bisnis.’

‘Oh, begitu. Seo Jisoo. Manajemen perhotelan.’

‘Aku tahu. Jisoo sunbae, boleh kuantar pulang?’

“Aku tahu aku anak yang nekat—tapi, senekat itu?”

“Aku juga tidak percaya.”

Mereka berdua tertawa.

‘Noona!’

‘Oh, Jisoo. Kau tidak ada kelas?’

‘Sudah selesai. Noona, ayo pulang bersama.’

‘Aku… Ada kerja part-time di restaurant lokal dekat Hongdae—Kau pulang saja duluan.’

‘Kutunggu. Ayo!’

“Kau menarik tanganku. Perlu aku akui, tindakan tidak sopan seorang hoobae terhadap seniornya. Kalau dipikir-pikir, kenapa aku tidak marah, ya?”

“Karena kau sudah jatuh cinta padaku?”

Masuk akal.

Memang benar, sih.

‘Untukmu.’

‘Bekal? Untukku? Noona serius?’

‘Kalau tidak mau, sini.’

‘Hey! Tentu saja aku mau! Aku sangat sangat mau!’

“Setelah itu, kau merajuk terus padaku. Memintaku membuatkanmu bekal setiap hari. Katamu, masakanku mirip dengan masakan mendiang Ibumu.”

“Mungkin. Aku rindu Ibuku. Dan Ayahku.”

“Kau selalu mengatakan hal itu padaku, dulu.”

“Kuharap aku tidak membebanimu dengan ucapan anehku.”

Tidak. Aku menyukainya, aku senang kau bergantung padaku, Hong Jisoo.

 

*

 

“Jisoo-ya.”

Panggilan dari Im Yoona membuat sang dara berbalik, tersenyum kecil kearah bos—sekaligus seseorang yang ia anggap kakak. “Ya, unnie?”

“Kau mau ikut denganku ke Italia?”

Italia?

“Aku mendapatkan kesempatan belajar langsung dengan Chef kesukaanku, Gianfraco Chiarini. Slot yang kudapatkan ada dua, dan kau sangat ingin—”

“Aku! Aku mau, unnie!”

“Kita akan berangkat akhir bulan. Unnie akan menyiapkan tiket, paspor dan visamu. Persiapkan dirimu, Jisoo.”

Sang dara mengangguk dengan antusias. Tentu saja dirinya akan bersiap! Meninggalkan bangku kuliah merupakan keputusannya—yang sebenarnya ditolak oleh bibi yang mengurusnya, namun, hasil yang ia tunjukkan membuat sang bibi ikut menyetujui keputusannya ke bidang tata boga.

“Kuharap kekasihmu tahu, Jisoo.”

Hong Jisoo.

 

*

 

Princess, kau terlihat cantik sekali sore ini.” Ucapan Hanbin membuat Jisoo menoleh, tersenyum jenaka. Hal yang jarang dilihat Hanbin, dan tentu saja membuat sang adam merasa harapannya naik. “Apa ini suatu pertanda kau sebenarnya mulai tertarik denganku, Princess?”

“Noona, bodoh.” Keluh Jisoo, memukul kepala sang adam dengan celemek yang baru dilepasnya dari tubuhnya.

“Hey, noona. Aku serius ketika mengatakan kau mengambil hatiku.”

“Dan kau sudah mengetahui bahwa aku memiliki—kekasih.” Ujar Jisoo, membereskan barang-barangnya, memasukkannya kedalam tas selempang miliknya.

“Selama aku tidak mendapatkan undangan pernikahanmu, kesempatanku masih terbuka lebar.” Mau tidak mau, Seo Jisoo tertawa. Ia menepuk bahu Kim Hanbin—pengganggu nomor satunya.

“Aku akan pergi bersama Yoona unnie, Hanbin. Jaga teman-temanmu disini. Kita akan merekrut beberapa orang untuk membantu kalian selama aku dan Yoona unnie pergi, sebenarnya.”

“Hey, aku akan menunggumu. Kuharap kau belum memakai cincin di jari manis tangan kananmu. Itu akan menyebalkan.”

Kuharap Jisoo juga tidak.

Kecuali cincin kami berdua.

 

*

 

“Aku tidak bermaksud mengajakmu makan di stal snack Dongdae-mun, Noona. Tapi—Kau tahu aku sudah lupa rasanya, dan—”

“Tidak apa-apa. Aku juga suka makanan disini.” Ujarnya, tersenyum kearah sang adam. Mereka berdua berjalan bersama banyak pasangan-pasangan sekolahan di tengah keramaian Dongdae-mun. Awalnya, mereka berjanji akan dinner bersama, di salah satu restaurant daerah Hongdae, namun batal dimenit-menit akhir perjalanan mereka.

“Kau selalu menyukai roti telur ini.” Ujar sang dara ketika mereka berdua duduk disalah satu bangku kosong yang ada. Bersebelahan, sesekali, Hong Jisoo menggenggam tangan Seo Jisoo.

Seperti dulu.

Jisoo menyukainya.

Namun seperti hal tidak nyata.

“Lanjutkan ceritamu. Bagaimana respon anak-anak yang lain, ketika mengetahui aku dan noona jadian?”

‘Hong? Jisoo sunbae? Aku tahu kalian dekat—Tapi, untuk datang berdua selama beberapa minggu terakhir hanya berarti satu hal.’ Jihoon mengernyit. Teman-teman mereka yang lain ikut memandangi diri sang adam.

‘Ini Jisoo, kekasihku.’

“Semuanya kaget. Mereka berpikir aku dan dirimu tidak akan jadian.” Kekeh Jisoo. Sang adam ikut tertawa. Jemarinya membelai sulir rambut sang dara. Membuat sang dara tersipu. “Kau mau tahu bagaimana caramu menyatakan perasaanmu?”

“Bagaimana?” tanya sang adam, memandangi sang gadis. Masih memainkan rambutnya, sesekali mengusap dahi ataupun pipi sang dara.

‘Jisoo noona, aku menyukaimu.’

‘Mm, itu sudah terlihat jelas, Jisoo.’

‘Ah—Noona menyebalkan! Hari ini, hari jadi kita, kalau begitu.’

‘Kata siapa aku mau?’

Hong Jisoo menarik sang dara ke pelukannya, mengecup bibir sang dara cepat. Angin sepoi-sepoi berhembus ditaman belakang sekolah, jam belajar dimulai, namun sang adam ataupun sang hawa tidak peduli.

‘Kataku. Noona, aku mencintaimu.’

‘Aku tahu, Hong Jisoo. Aku juga.’

‘Aku mencintaimu.’

Hong Jisoo mendekati Seo Jisoo perlahan, saat sang gadis masih tertawa kecil, memangut bibir sang dara. “Aku mencintaimu.”

Respon dari sang dara tidak seperti bayangan sang adam.

“Kau melupakanku, Jisoo. Kau belum tentu mencintaiku lagi.”

“Tapi aku tahu kalau aku mencintaimu!”

“Terakhir kali kita berbicara, enam bulan setelah kita berpacaran, sebelum kau koma tiga setengah tahun, kau mengatakan kau menyerah kepadaku, Hong Jisoo.”

‘Noona, aku mencintaimu.’

‘Aku tahu, Hong Jisoo. Kau tidak perlu mengatakannya berulang-ulang.’

‘Kau tidak pernah membalasnya.’

‘Aku menunjukkan kalau aku juga mencintaimu, kan?’

‘Membuatkanku bekal, menemaniku kemanapun aku pergi, menyambut seluruh ciumanku. Kata ‘aku mencintaimu’ tidak pernah terlontar barang sekalipun dari bibirmu.’

‘Tanpa kata-kata itu kau tahu aku cinta padamu.’

‘Tapi itu berarti kau tidak pernah menghargai usahaku untukmu, Jisoo.’

‘Oh, ayolah. Apa kita akan berkelahi untuk masalah sepele ini?’

‘Kau bahkan tidak pernah menghargai usahaku padamu, noona. Apa kau benar menganggapku ini kekasihmu? Hubungan bukan hanya dijalani oleh satu orang, kuharap kau sadar akan hal itu.’

“Kau pergi. Meninggalkanku, dengan kue tart belum terpotong untuk anak-anak lain. Dengan keramaian. Aku bingung, surprise ulangtahunku yang mana. Kau memberikanku kue, atau kau malah meninggalkanku ketika kau berucap kau mencintaiku.”

Hong Jisoo tidak ingat.

Sungguh, ia berusaha mengingat semua ini.

Tapi, kenapa?

“Anak-anak berujar ini hanya emosimu, bahwa aku tidak harus memikirkannya jauh-jauh. Tidak lama setelah itu, aku mendapatkan kabar kau mengalami kecelakaan karena kau menolong anak kecil yang hampir tertabrak.”

“Kau terlalu baik, Hong Jisoo. Ketika kau emosi, kau bahkan bisa menyelamatkan anak kecil. Aku hanya berharap kau tidak membenciku jika kau bangun.”

Tidak ada jawaban dari Hong Jisoo. Mata mereka masih bertaut, namun mata Seo Jisoo sudah basah karena air mata.

“Tapi, ketika kau bangun, dan melupakanku…” isakan sang dara terdengar. Hong Jisoo meraih sang dara, mendekapnya dalam pelukannya. “Aku hanya berharap kau bangun dan membenciku. Karena aku lebih baik meminta maaf dan berusaha mengembalikan cintamu kepadaku… Daripada aku harus meyakinkan diriku kau mencintaiku, padahal… Kau belum tentu mengenalku.”

Seo Jisoo benar.

Ini seperti dirinya hanya ingin melanjutkan kehidupan yang ia tinggalkan, namun dirinya tidak yakin dengan hal itu.

Ia melukai Seo Jisoo.

Sang dari melepas pelukan sang adam, menatap sang adam. “Sebenarnya, aku ingin mengucapkan kata perpisahan hari ini, Hong Jisoo.” Sang dara berujar, berusaha tersenyum sembari menghapus aliran airmatanya. “Aku akan ikut Yoona unnie ke Italia, belajar langsung dengan Chef Gianfraco.” Ujarnya lagi.

Pergi?

Seo Jisoo akan pergi?

“K-Kau tidak boleh pergi.” Ujar Jisoo bodoh.

“Aku berharap ketika aku kembali, kau mengingatku. Ketika kau mengingatku, keputusan berada di tanganmu, Jisoo-ya.” Jemari sang dara meraih wajah sang adam, mengusapnya sembari tersenyum. Hong Jisoo tahu, tatapan mata sang dara menunjukkan apa. Ia tidak pernah melihat tatapan itu kepada yang lain sebelumnya.

Tatapan cinta Seo Jisoo kepadanya.

“Kalau kau memang membenciku, aku terima. Namun, aku juga akan tetap menunggumu jika kau memutuskan kau memang masih mencintaiku.” Ujarnya, sebelum mengusap rambut sang adam sayang. “Sampai bertemu, Hong Jisoo.”

Kenapa rasanya… Kosong?

 

*

 

“Jisoo noona selalu menyalahkan dirinya semenjak kecelakaanmu.” Ucapan Choi Seungcheol membuat sang adam merasa lebih bersalah, lagi. Seo Jisoo sudah pergi.

Dua minggu kemudian, ia tidak bisa menemukan Seo Jisoo di restaurant, ataupun kontrakan milik sang dara. Ataupun tempat-tempat yang kata teman-temannya sering dikunjungi oleh sang dara tadi. “Alasan ia berhenti kuliah memang salah satunya karenamu. Tapi, ia memang ingin fokus ke dunia tata boga yang ia cintai.”

‘Kau tahu, aku benar-benar menyukai segala jenis makanan yang ada. Cita rasanya berbeda. Itu alasan aku selalu mengajakmu makan di restaurant-restaurant yang menyediakan makanan luar negeri.’

‘Apa kau sudah mempunyai favorit, noona?’

‘Masakan Italia. Aku ingin fokus ke masakan Italia.’

“Tempatnya bekerja sekarang—Restaurant milik Chef Yoona itu, adalah tempatnya menghidupi dirinya dan membayar biaya rumah sakitmu. Kami memang membantu, aku dan anak-anak lain, namun Jisoo noona—benar-benar berusaha.”

‘Aku merasa seharusnya noona menjadi tanggung jawabku, bukan aku.’

‘Tapi kau lebih muda dariku, jadi kau masih tanggung jawabku.’

‘Noona, aku mencintaimu.’

‘Bodoh.’

“Yang menanggung biaya rumah sakitku… Noona?”

‘Hey, Hong Jisoo. Aku mencintaimu. Maaf, aku tidak bisa menunjukkannya ketika kau mengucapkannya. Kau memang tidur, kuharap ucapanku masuk di mimpimu.’

“Ia terus membayar biayamu, namun tidak pernah datang ke rumah sakit, setahun setelah dirimu koma. Ia menjual ponselnya, seingatku.” Ujar Junghan.

“Katanya, ia tidak mampu melihatmu dan tetap merasa bersalah.”

‘Aku sering ditinggalkan. Sehingga, nantinya, jika memang hal itu terjadi, ketika kau memutuskan untuk meninggalkanku, aku rasa aku tidak akan marah.’

‘Bodoh. Untuk apa aku meninggalkanmu, noona? Ketika aku mencintaimu seperti ini.’

Hong Jisoo memegang kepalanya. Sakit.

Memori demi memori merasukinya, membuatnya hampir tidak bisa bernapas karena kewalahan membayangkannya.

“Jisoo?”

“Hong? Hong!”

Gelap.

 

*

 

“Seharusnya kau tidak membahas hal berat-berat dengannya!”

“Hey—Dia yang bertanya mengenai Jisoo noona, bukan aku!”

“Tapi, kau lihat sendiri. Kau bahkan dengar dokter waktu itu mengatakan bahwa—”

Mata sang adam yang terkatup itu terbuka, menampilkan iris gelap miliknya. Ia menoleh, mendapati Choi Seungcheol, Yoon Junghan, dan Lee Jihoon tengah berargumen.

“Ribut.”

Ketiga temannya berbalik, mengerumuninya.

“Kau membuatku panik!”

“Kita, bodoh. Memangnya hanya kau saja yang panik?”

“Kau tidak apa-apa? Masih pusing?”

Sang adam terkekeh.

“Boleh aku berbicara dengan dokter?”

 

*

 

“Kau mengingat semuanya?”

Anggukan pertama.

“Yakin?”

Anggukan kedua.

“Serius?”

Anggukan ketiga.

“Semuanya?”

“Iya, bodoh. Semuanya.” Keluh Jisoo, kesal. “Aku mengingat semuanya.” Bahkan ketika aku emosi kepada Jisoo noona, yang membuat semua ini terjadi.

Hong Jisoo menutup pintu kontrakan kekasihnya—mungkin sekarang mantan kekasihnya—keras. Sejujurnya, dirinya tidak ingin emosi kepada Seo Jisoo seperti itu.

Namun, siapa yang tidak kesal ketika ucapan ‘Aku mencintaimu’ darinya hanya dibalas dengan tatapan jenaka, atau senyuman, atau kecupan ringan di pipi?

Dia ingin kata ‘Aku juga mencintaimu’ seperti yang dikatakan oleh sang dara ketika mereka jadian, dulu. Apa kata-kata itu sulit diucapkan? Ia bisa melakukan kecupan dan semua-semuanya itu. Tapi kata ‘Aku juga mencintaimu’ dari kekasihnya—mantan kekasihnya, akan membuat semuanya sempurna.

‘Hey! Anak kecil! Ada truk!’

Mata sang adam menoleh, mendapati anak kecil berusia delapan tahun tengah menyebrangi jalan, tanpa memperhatikan kiri dan kanannya. Dari kanan, truk datang, dengan kecepatan diatas rata-rata—mengingat ini tengah malam, kenapa ada anak kecil tanpa pengawasan orangtua?!

Ia berlari, menerjang sang anak. Melemparkannya kembali ke trotoar.

Dan kemudian gelap.

‘Hey, Hong Jisoo. Aku mencintaimu. Maaf, aku tidak bisa menunjukkannya ketika kau mengucapkannya. Kau memang tidur, kuharap ucapanku masuk di mimpimu.’

Seo Jisoo pernah mengatakan kalau ia mencintainya. Ketika ia terlelap.

Maafkan aku, noona.

Noona, aku mencintaimu.

 

*

 

2 years later.

 

“Unnie, apa unnie pernah merasa keputusan unnie salah?”

“Ketika aku memilih kabur di hari pernikahan Changwook oppa?”

“Semuanya.”

Seo Jisoo memperbaiki letak kacamata hitamnya, sebelum kembali menyeruput kopi dinginnya. Dirinya dan Yoona—bosnya, berada di Bandara untuk kembali menuju Seoul, Korea Selatan. Pulang.

Yoona menceritakan semuanya kepada sang dara. Menangis tersedu-sedu, meluapkan semuanya. Bingung, memang. Namun Jisoo hanya memeluk sang bos—kakaknya, menenangkannya. Ia harus bersyukur, puing-puin hati bosnya yang tercecer berhasil dikembalikan oleh seorang pria bernama Lee Jonghyun.

“Terkadang. Aku menyesal. Kenapa aku tidak merusak pernikahan mereka? Mungkin orangtua kami berdua akan mengerti kami memang benar saling mencintai, dan mendapatkan hidup bahagia kami. Kau sendiri Jisoo? Apa kau merasa keputusanmu salah?”

Jisoo terkekeh.

“Tidak. Aku mereset semuanya, unnie.” Bohong, aku masih mencintai Hong Jisoo. “Aku mereset hidupku ke awal, lagi.” Tapi tidak untuk Hong Jisoo, aku menunggunya.

‘Pesawat Korean Airlines dengan Nomor Penerbangan—’

“Ayo, Jisoo. Kita pulang.”

 

*

 

Dua tahun yang lalu, Kim Hanbin menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di Restaurant Italia milik Im Yoona, selama bosnya dan Princess-nya pergi menuntut ilmu—masak. Enam bulan setelah kepergian boss dan princess—Hey, Seo Jisoo memang Princessnya, lamaran kerja mereka masih terbuka, dan seorang tidak terduga melamar pekerjaan ke tempat mereka.

Kekasih Princessnya.

“Kau mau bekerja disini? Kenapa?” tanyanya, berlagak bos—dan ketus.

“Karena kalian membuka lowongan dan aku ingin melamar kerja…?”

“Kau punya alasan lain pastinya.”

“Aku ingin menunggu Seo Jisoo.” Princessnya!

Mengenal Hong Jisoo, Hanbin harus mengakui—Pria itu hebat. Ia mampu memasak, melayani pembeli—membuat pengunjung semakin banyak datang, dan tentu saja, Kim Hanbin sadar, Hong Jisoo benar-benar mencintai Seo Jisoo, Princessnya.

Hong Jisoo akan memperhatikan foto-foto Princess-nya ketika mereka memberikan kabar lewat pos—berisi cemilan, dan email. Hanya tersenyum menatap foto sang dara. Tidak merengek sepertinya untuk diberikan foto khusus. Hanya memandang wajah sang dara. Dan tatapannya memang tatapan penuh cinta.

“Jisoo hyung.”

Sang adam berbalik, memandang dirinya.

“Mereka kembali hari ini. Yoona noona akan langsung pergi bersama Jonghyun hyung, dan Jisoo noona akan ke restaurant, untuk mengecek.” Ujarnya. Hong Jisoo mengernyit tidak mengerti. “Lakukan sesuatu. Untukmu dan untuk Jisoo noona.”

Kim Hanbin, you’re the real man.

Ia merelakan princessnya, ah, bukan. Ia merelakan Seo Jisoo untuk kebahagiaannya.

 

*

 

“Unnie pergi dulu, Jisoo.” Ujar Yoona dari dalam mobil. Sang dara mengangguk, melambaikan tangan kearah Yoona dan Jonghyun, sebelum mobil sport milik Jonghyun berlalu dari hadapannya. Pukul tiga sore, restaurant mereka pasti tutup untuk bersih-bersih.

Ia menarik lengan kopernya, membiarkan roda berputar. Memasuki restaurant yang sepi. Tidak ada orang sama sekali. Kemana?

“Oh. Jisoo noona?” ujar Junhoe, keluar dari dapur, dengan celemek. “Noona sudah kembali?” Jisoo tersenyum, meraih Junhoe dan memeluknya.

“Mana yang lain?”

Lampu LED menyala, menunjukkan namanya, Seo Jisoo. Ia mengernyit bingung, apa maksudnya?

“Hey.”

Jisoo masih mengingat suara itu. Selama dua tahun terakhir, Jisoo tidak mengetahui keadaan sang adam. Tanpa kontak. Hanya beberapa foto yang dikirim oleh Kim Mingyu ketika mereka bertukar surel. Ia menoleh, mendapati Hong Jisoo dengan pakaian restaurant mereka—Tidak mungkin!

“Kau… Bekerja disini?” tanyanya, tidak percaya.

“Sembari menunggumu, noona.” Ujarnya, dengan senyum jenaka kesukaan Jisoo. Ah, tidak. Seo Jisoo menyukai semua dari Hong Jisoo. Di tangan sang adam ada fettucini, kesukaan sang adam. “Aku membuatkannya untukmu. Ucapan selamat datang dariku.”

“Dengan bantuan kami, sebenarnya.” Celetuk Jiwon. Jisoo tidak bisa menahan harunya, ia merelakan airmatanya jatuh, memeluk Jiwon, dan melihat Hanbin.

“Hey, princess.” Ujarnya. “Selamat datang kembali.” Jisoo memeluknya erat. Hanbin terkekeh, sedikit tidak rela merelakan princessnya pergi. “Your happily ever after is here, Princess. Raih dia.”

“Maafkan aku, Hanbin.”

“Don’t be. You’re still my princess, though.”

“Always.”

Ia melepas pelukan Jisoo, menggenggam tangannya—untuk pertama dan terakhir kalinya, dan membawanya kearah Hong Jisoo.

“Selamat datang kembali, ma cherrie.” Ujar Jisoo, tersenyum. Menyuapkan fettucini kearah sang dara. “Aku sudah mengingat semuanya, noona. Kau bertanya, keputusan ada ditanganku. Aku masih mencintaimu, itu pilihanku.”

Waiting is a sign of true love and patience. Anyone can say I love you, but not everyone can wait and prove it’s true.

“Aku mencintaimu, Hong Jisoo.” Aku Seo Jisoo.

“Aku tahu. Karena aku juga mencintaimu, Seo Jisoo.”

 

*

 

“Aku juga ingin mempunyai kekasih.” Ujar Junhoe, memandangi pasangan kekasih dari kaca dapur.

“Aku saja belum mendapat pacar.” Keluh Hanbin. “Jiwon hyung sih, sudah. Apa aku tetap mengejar Jisoo noona saja, ya?”

“Terkadang aku tidak tahu, kau ini bodoh atau nekat, Hanbin.” Ujar Jiwon, menggelengkan kepalanya pasrah.

 

END.

 

Author’s Note:

Halo! Zeya disini! Sebelumnya, saya pengen banget minta maaf kepada teman-teman team FFINDO PROJECT saya, karena saya harus keundur lagi. Untuk author lain yang kena imbasnya karena saya. Apalagi Kak Winda, karena saya tiba-tiba ngundur karena di daerah dan benar-benar gak bawa laptop—hanya bawa ponsel saja—di ponsel bisa, tapi sinyal aja kalo muncul puji syukur—jadi, saya benar-benar minta maaf, ya.

Ini termasuk fanfic oneshoot yang pengen banget saya buat—ide awalnya sebenarnya bukan kayak gini, tapi tiba-tiba aja saya ingat fanfic saya yang pengen saya bikin namun batal terus, lalu saya ganti sini sana sono, dan jadilah ‘Reset’ ini. Saya tau fanfic ini banyak banget kurangnya, alurnya ngalur ngidul, namun saya harap kalian suka dengan fanfic ini, ya. FFINDO PROJECT adalah project yang dibuat oleh admin FFINDO untuk kembali meramaikan FFINDO tercinta ini. Dan saya harap readers menikmati semua fanfic project ini. Untuk author setelah saya, semangat!

Saya tunggu komentarnya di kolom komentar, dan semua-semuanya. Maaf dan terima kasih! Kecup sayang, Z-E-Y-A.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s