Daffodil

daffodil

Daffodil

ZEYA | PG-13 | Oneshot | Kim Jongin (EXO); Song Aya (OC)

Daffodil; a flower which means ‘The sun is bright when I’m with you’, Respect, Sunshine, Unrequited Love, Regard

Jin – Gone ; 4men – Erase ; Huh Gak – The Person Who Once Loved Me

Disclaimer; I don’t own all characters, except the fictional one. Plot and story are mine. Do not plagiarize.

Credit poster; PhoenixofBusan @ HSG . Ssankyu!

 

©ZEYA 2014

.

.

Kasur besar itu hanya ditiduri oleh seorang wanita berpakaian kemeja kebesaran berwarna cokelat. Gadis itu meringkuk diatas bantal berwarna putih dan kakinya bersembunyi dibawah selimut hitam. Bunyi alarm yang tidak terlalu keras berhasil membuatnya membuka kedua matanya perlahan-lahan. Kali ini, dia meregangkan otot-otot tangannya yang tak sengaja ia timpa saat tidur.

“Good morning, sunshine.” Gadis itu tersenyum. Gadis itu berbalik dan perlahan senyumnya menghilang, digantikan dengan cengiran sesalnya. Suara itu tidak memiliki pemilik.  Kali ini, gadis itu beranjak dari kasur empuknya.

“Kau tidak mau menemaniku sebentar lagi ditempat tidur?” gadis itu meringis, membalikkan badannya dan tidak menemukan siapa-siapa lagi dikasur itu. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Itu hanya ilusi belaka, pikirnya.

“Aromamu benar-benar berbau Cherry, ya.” Kali ini, gadis itu tertegun.

 

*

 

“Song Aya?” suara lelaki membuat seorang gadis—yang bernama Aya tersebut—berbalik dan sedikit terkejut. “Aku Kim Jongin.” Ujar lelaki itu. Gadis itu, secara kaku, mengangguk-angguk. Seorang lelaki terkenal diseantero sekolahan, menyapanya. Apa yang harus dia lakukan?!

“Aya.” Jawabnya, tidak tau harus merespon apa. “Ada apa?” tanyanya. Dalam hati, ia merutuk dirinya karena mengucapkan pertanyaan yang sangat aneh.

“Em, sebelumnya, aku sebagai ketua tim art sekolah, mengundangmu untuk masuk ke tim kami. Sebenarnya, salah satu alasannya adalah karena kami kekurangan anggota, dan kepalah sekolah akan menghapus tim art jika anggotanya tidak menjadi 20 dalam bulan ini. Hal lainnya….” Jongin terdiam.

“Apa?” tanya gadis itu, tertarik.

“Entahlah, aku hanya ingin mengajakmu.” Ujar lelaki itu, tersenyum—memamerkan deretan giginya yang rapi. “Jadi? Kau berminat?” tanya lelaki itu. Aya mengendikkan bahunya.

“Aku akan memberitahumu besok. Bagaimana?” tanya gadis itu. Jongin terdiam beberapa saat lalu mengangguk.

“Berikan aku nomor ponselmu.” Ujar Jongin, dan hanya diangguk oleh gadis itu. “Kalau kau mau, besok datang ke gymnasium sepulang sekolah jam 2 siang. Kami mulai di sekitaran jam itu.” Ujarnya, lalu mulai berbalik. “Sampai bertemu besok, Song Aya!”

“Kau yakin sekali aku akan datang?” tanya Aya tidak percaya. Jongin mengangguk. Aya hanya menggelengkan kepalanya, tidak percaya.

Saat itu gadis itu berjalan menjauh, Jongin terkekeh. Gadis itu akan menjadi Guardian Angel-nya.

 

*

 

Gadis itu memperbaiki letak beanie-nya, lalu mengunci pintu apartemennya. Ia tersenyum memandangi hiasan apartemennya. Gambar dirinya dan seorang lelaki.

“Kau tidak bosan memandangi gambarku? Aku tampan sekali, ya?” gadis itu hanya mengangguk dan menghela napas panjang.

Seumur hidupku, Jongin, hanya ada tiga laki-laki tertampan didunia ini. Ayahku, abangku, dan kau sendiri. Gadis itu melangkahkan kakinya, memegang bagian tengah selempangan tasnya, memasukkan salah satu tangannya kedalam saku jaket.

“Hari ini mendung, ya? Mau berjalan berdua?”

 

*

 

Gadis itu memperhatikan rupanya dicermin kamar mandi. Kaus oblong, celana pendeknya, dan sepatu keds. Rambutnya sengaja ia biarkan tergerai. Gadis itu hanya mengangguk menyetujui penampilannya dan segera berjalan keluar dari kamar mandi.

Saat langkahnya sudah mendekati gymnasium, gadis itu sedikit meraguan dirinya untuk masuk kedalam. Tetapi, mengalahkan ketakutannya, gadis itu memilih masuk. Dan ia melihat gymnasium sudah diubah menjadi ruang hiphop dan sedikit sentuhan klasik untuk drama.

“Dugaanku selalu benar.” Gadis itu mencari asal suara dan melihat Kim Jongin sedang duduk bersama beberapa temannya yang ikut memandanginya bingung. Jongin beranjak dari kursinya dan menghampiri gadis itu.

“Teman-teman!” kali ini lelaki itu berteriak, sehingga semua yang berada diruangan itu diam. “Ini anggota ke duapuluh kita, Song Aya.” Dan tiba-tiba, gadis itu sudah disoraki oleh anggota lainnya. Gadis itu hanya menatap Jongin, tidak tau harus bagaimana. Lelaki itu hanya mengendikkan bahu, tersenyum.

“Namaku, Song Aya.” Ujarnya. Dan selang beberapa lama, gadis itu sudah mengikuti irama musik bersama dengan anggota lainnya. Kali ini, gadis itu tertawa sebebas-bebasnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sebuah pertemanan yang tidak mengharapkan apa-apa.

“Kau akan terus datang, kan?” Jongin segera bertanya kepadanya saat waktu latihan sudah selesai, seraya mengelap keringatnya yang sudah membasahi rambutnya. Saat gadis itu menatap matanya, ia melihat lelaki itu berharap. Gadis itu tersenyum dan mengangguk.

“Um. Besok dan seterusnya, aku akan terus datang.” Janjinya.

“Baiklah. Hari ini mendung ya?” tanyanya, menatap keluar jendela. Gadis itu mengikutinya dan mengangguk. Lelaki itu memandanginya, tersenyum. “Mau berjalan berdua?”

Awalnya, Aya sedikit terkejut dengan penuturan lelaki itu. Dengan pipi sedikit bersemu merah, ia mengangguk pelan, membuat lelaki itu terkekeh kecil sebelum menarik dirinya berada disamping pria itu, dan berjalan keluar.

 

*

 

“Oh, Sujin-a. Annyeong.” Gadis itu sedikit kaget menemukan seorang gadis yang berpakaian feminim berdiri didepan gerbang gedung apartemen yang ia tinggali. Pakaian gadis itu masih sangat mahal saat dilihat, berkelas. Masih sama seperti yang dulu.

“Song Aya.” Ujar gadis itu. Aya menatapnya, memaksakan seulas senyum. “Apa kau… baik-baik saja?” tanya gadis—yang bernama Sujin—sambil menatapnya dari atas sampai bawah. “Maksudku… kau tau…”

“Aku baik-baik saja, Hwang Sujin.” Ujar gadis itu, tersenyum memamerkan deretan giginya. “Ada apa?” tanyanya.

“Song Aya, kau tidak baik-baik saja. Aku tau itu.” Ujar Sujin, menghela napas panjang. “Maafkan aku, Aya.” Gadis itu menatapnya, sendu. “Aku sangat minta maaf. Aku menghancurkan kehidupanmu.” Kali ini, senyum gadis itu menghilang. Napasnya mulai tidak beraturan.

“Masa lalu, bukan?” ujarnya, mencoba tersenyum lagi kali ini.

“Aku masih menghancurkanmu sampai sekarang, Aya. Maafkan aku.” Ujar Sujin, kali ini gadis itu meneteskan airmata. “Jongin. Dia…. dia sakit.”

“Itu bukan pil apa-apa, hanya vitamin.”

 

*

 

“Aya?” Jongin dengan cepat menyembunyikan botol obatnya. “Sedang apa?” tanyanya, mencoba bersikap biasa.

“Apa itu?” tanya Aya—mengernyit.

“Itu bukan pil apa-apa, hanya vitamin.” Balas Jongin, nyengir. “Sedang apa?” tanyanya lagi.

“Oh, handuk kecilku ketinggalan. Kau sendiri? Kenapa kau belum pulang?” tanyanya, menyampirkan handuknya dibahu. Jongin mengendikkan bahunya.

“Entahlah, hanya saja, aku malas berada dirumah. Duduk.” Ujarnya, menepuk-nepuk kursi disampingnya. Gadis itu melangkahkan kakinya naik dan duduk disamping lelaki itu, memandangi gymnasium yang sudah kosong.

“Terima kasih…” Ujar gadis itu. “Sudah mengajakku masuk ke tim art.” Ujar gadis itu, tulus. “Aku sangat ingin menari dulu. Tapi di daerahku dulu, menari seperti kejahatan. Hal paling tidak berguna untuk dilakukan.” Tutur gadis itu lagi. “Cheesy, eh?” gurau gadis itu.

Kim Jongin menatap gadis itu lama. Ada jarak hening diantara mereka berdua. Tatapan mata yang bertaut. Tidak ada yang memutus kontak, hanya ada keheningan. Hingga Jongin memutuskan untuk mengecup bibir gadis itu. Hanya sepersekian detik, dan selesai.

“M-maaf..” ujar Jongin. Lelaki itu segera menyampirkan tasnya dan beranjak. Aya masih terpaku ditempatnya, tidak tau harus merespon apa. Saat lelaki itu turun dan membuka pintu, lelaki itu berbalik. “Aku menari, karena hal itu satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk terakhir kalinya.”

Aya mengernyit tidak mengerti namun tersenyum. Jongin. Ia tidak menyadari bahwa lelaki itu sudah merebut hatinya.

 

*

 

Cafe itu terlihat remang dari dalam akibat mendung. Disalah satu pojok lantai pertama, dua gadis yang memiliki fashion-taste yang benar berbeda saling berhadapan.

“Jongin mengalami penurunan kemampuan di semua alat geraknya. Pada akhirnya, dia tidak akan bisa menggunakan tangan dan kakinya.” Aya menatap kearah minumannya tanpa berkomentar, tangannya mengusap mug berwarna hijau yang terhidang didepannya. “Karena itu, Aya. Aku minta maaf sudah membuatnya meninggalkanmu. Keadaannya semakin memburuk. Dia tidak makan, dia tidak mau minum obat.”

Aya terdiam beberapa saat sebelum menatap Kim Sujin. “Kau tidak salah, Sujin. Mungkin memang itu jalan kami, bukan?” ujar gadis itu, memandangi cincin perak yang tersemat di jari manis tangan kirinya.

“Keputusan yang kau buat selalu yang terbaik, Song Aya.”

 

*

 

Ada banyak rumor yang beredar, mengenai mereka berdua. Kim Jongin dan Song Aya. Beberapa murid menganggap hal itu benar dan menyetujuinya, beberapa beranggapan itu benar dan tidak menerimanya. Ada pula yang acuh. Tapi tidak dengan gadis cantik jelita diseantero sekolahan. Hwang Sujin.

Kim Sujin menyukai Kim Jongin sudah menjadi rahasia publik. Tidak ada yang berani menghalangi Sujin mengejar apa yang ia inginkan. Kim Jongin adalah salah satunya. Tapi, Song Aya—gadis yang malang—tidak tahu menahu mengenai hal ini.

“Kau Song Aya?” ujar gadis angkuh itu. Aya hanya mengangguk acuh seraya menutup lemarinya. “Kau mengenalku?”

“Tidak.” Ujarnya singkat. Gadis itu—dengan dayang-dayangnya tertawa meremehkan.

“Jauhi Jongin. Dia milikku.” Ujar gadis itu, langsung pada inti-nya. Song Aya terkekeh kecil.

“Hwang Sujin. Aku langsung mengenalimu. Jongin pernah bercerita tentangmu. Stalker-nya.” Ujar Aya—memiringkan kepalanya, memicingkan matanya dari atas sampai kebawah. “Cantik.” Ujarnya, lalu berjalan meninggalkan Sujin dan kawanannya.

“Oh, ya.” Aya berbalik. “Kau tidak bisa melarangku. Jongin tidak pernah mengatakan bahwa ada yang bisa mengatur siapa yang bisa bersamanya. Itu haknya.”

 

*

 

“Alasan dia memilihku, Aya…” ucapan Sujin terhenti—gadis itu mengambil napas. “Hanya untuk melihatmu sakit, membuatmu berpikir bahwa dia tidak pantas untukmu, dan kau melanjutkan hidup.” Ujarnya lagi.

“Sebelum kesehatannya semakin melemah, ia tidak pernah memandangku. Walaupun aku merasa aku sudah menang darimu. Aku tidak menang. Aku tau penyakitnya dari dulu, itu salah satu alasan ia meninggalkanmu dan memilih aku. Aku berpikir jahat saat itu, tidak apa-apa menjadi pilihan kedua Jongin asalkan kau kalah, tetapi aku tidak menyangka ia benar-benar tidak melihatku.” Ujar Sujin.

Aya menggigit bibir bawahnya. Beberapa memori melintas dikepalanya, kembali dan menari-nari.

“Dia berangkat kuliah tanpa menyapaku. Padahal kami tinggal serumah, walaupun kami belum menikah.” Ujar Sujin. “Dia pulang hanya melihatku, kemudian melenggang pergi kekamar. Tidak keluar walaupun aku sudah menyiapkan makanan. Malamnya, saat aku berpura-pura tidur dikamarku, ia akan keluar lalu kembali saat menjelang pagi.”

Aya terkekeh. Hal itu memang tipikal Jongin. Datang dan pergi dan kembali datang.

“Aku bosan mengikuti jam biasa.” Napas Aya tertahan dan ia segera membalikkan kepalanya. Tidak ada orang.

“Aku ingin kita bermain di malam hari, dan paginya kembali ke aktivitas biasanya.” Aya menghela napas.

“Siapa, Aya?” tanya Sujin, sedikit bingung.

“Ah tidak, bukan apa-apa.” Dusta gadis itu. Ia tersenyum kecil, memori tentang Jongin selalu muncul. Sekeras apapun ia berusaha menghilangkannya.

 

*

 

Sebenarnya, Jongin sudah pernah menyatakan rasa sukanya pada Aya. Ciuman itu.

Jongin tidak pernah mengira murid pindahan itu akan membuatnya menjadi maniak film romantis dan mulai berdandan saat kesekolah. Baiklah, bukan berdandan, melainkan menjadi rapi. Sahabatnya, Sehun dan Kyungsoo saja bingung dengan perubahannya.

“Jatuh cinta memang membuat orang berubah, ya?” ujar Sehun saat melihat Jongin tengah merapikan snapback miliknya. Jongin hanya mendengus seraya merapikan rambutnya kali ini.

“Jangan ganggu dia, Sehun.” Ujar Kyungsoo yang masuk kedalam kamar seraya membawa snack sore mereka bertiga. Sehun dengan wajah gembira segera mengambil snack tersebut dan mengunyahnya. “Saat kau jatuh cinta, kau pasti akan merasakan hal yang sama.”

Jongin mengangguk menyetujui. Tertawa bersama, Jongin kembali merasakan sakit di tubuhnya. Rasa sakit seperti ditusuk-tusuk dengan pisau. Kali ini, Jongin segera mengambil botol obatnya dan meminum satu pil.

“Apa semakin parah, Jongin?” tanya Kyungsoo dan Sehun—raut wajah yang khawatir. Jongin hanya mengendikkan bahunya.

“Doakan aku. Aku akan menyatakan perasaanku padanya hari ini, setelah jam klub selesai.” Jongin memakan snack buatan Kyungsoo lalu menyelempangkan tasnya. “Aku pergi!”

Jam klub berjalan lancar. Semuanya berjalan dengan baik. Aya sendiri beraktivitas dengan baik, begitupula dirinya—walaupun rasa sakit itu muncul beberapa kali. Hingga saat jam klub selesai, Aya menyapa teman-teman klub lain, mengucapkan salam perpisahan.

“Aya.” Ujarnya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya menelan ludahnya. Aya menatapnya bingung. “Date me?” tanyanya.

Aya tertegun, terkejut mengenai pengakuan seorang lelaki terkenal dikelasnya. Lelaki dihadapannya itu menggaruk kepalanya—malu.

*

 

Aya mengucap salam perpisahan dengan Sujin. Gadis itu berjanji akan menjenguk Jongin, setelah ia menyelesaikan beberapa urusan yang ia tinggalkan selama tiga hari terakhir. Saat bayang mobil Sujin menghilang, gadis itu terduduk ditengah jalan—menangis.

Ia mengingat hal yang laki-laki itu lakukan padanya, dengan tangan juga kakinya hanya untuknya.

Bukan untuk orang lain.

“Sekarang, aku menari karena kau sudah menjadi milikku. Kau menjadi alasanku untuk menari. Oh, lihat itu Aya!” gadis itu berbalik, namun kosong.

Aya mendengus.

Seorang Jongin menari, hanya untuk seorang Song Aya.

 

*

 

Jongin memarkirkan mobilnya tepat didepan apartemennya. “Ini flat-ku dengan Kyungsoo hyung juga Sehun.” Ujarnya, saat mereka berdua sudah berada diluar mobil.

“Mewah.” Komentar gadis itu singkat. Gadis itu meringis. Seharusnya ia tidak mengatakan itu. Jongin hanya terkekeh.

“Tidak semewah itu. Ayo, masuk.” Ujar lelaki berkulit gelap itu seraya menggenggam tangannya erat. Aya terkekeh, mengingat kejadian di ruang dance tadi.

Date me?”

Kali ini Jongin memandangnya, tidak dengan malu-malu, hanya menatapnya, lalu mengucapkan ‘date me’ untuk kedua kalinya dengan serius.

“Kenapa aku?” tanyanya. “Seharusnya bukan aku. Aku tidak pantas, Jongin.” Ujar gadis itu. “Kau tahu latar belakang keluargaku….” Aya menggigit bibir bawahnya.

“Aku menyukaimu.” Jawab laki-laki itu dengan serius. “Bukan pantas dan tidak pantas. Ini soal siapa yang aku pilih, Aya. Aku memilihmu.” Ujar lelaki itu. Aya menatap lelaki yang lebih tinggi sekitar 5 cm darinya itu. Lelaki itu menghampirinya, mengambil kotak dari saku celananya, membukanya, memperlihatkan cincin perak yang sangat sederhana. “Kau seperti bintang.” Ujarnya, menyematkan cincin itu ditangan kiri Aya. “Kau jatuh, membuat mimpiku menjadi nyata.” Ujarnya, mencium bibir gadis itu lama.

Seorang lelaki terkenal bernama Kim Jongin memilih dirinya yang hanya murid biasa, Song Aya.

Dan bodohnya, Song Aya juga menyukai lelaki itu, walaupun selama ini ia berusaha keras menyembunyikannya dari lelaki itu.

Tanpa jawaban, Jongin memperlakukannya sebagai kekasihnya. Beberapa kali Jongin mengajaknya ke taman bermain ataupun ke mall, dan setiap ia melihat tempat foto studio boks, ia pasti akan menarik Aya dan mengambil beberapa seri foto. Aya—yang merupakan camera awkward—hanya bisa menatap kamera dengan tatapan awkwardnya. Foto itu mereka bagi rata, dan Aya memutuskan menjadikan foto dirinya dan Jongin tersenyum saat lelaki itu merangkulnya menjadi foto untuk gantungan pintu depan apartemennya.

“Kau tidak bosan memandangi wajahku? Aku tampan sekali ya?” ujar lelaki itu, waktu menjemputnya di apartemen. Aya mendengus dan memeluk lengan lelaki itu.

“Kau hanya pandai berbual, Kim Jongin.” Sahutnya. “Tapi, aku tetap menyukaimu.”

*

 

Gadis itu menutup pintu apartemennya lalu duduk di sofa ruang tamu. Hari sudah gelap. Seharian ia melakukan aktivitas normalnya—kuliah, kerja part-time, mengajar les. Gadis itu tidak menunjukkan rasa lelah, yang ia lakukan hanyalah mengambil air panas dan handuk lalu mengompres kedua kakinya. Televisi menayangkan film mengenai dance khas dari Amerika, benua seberang.

“Kita harus mencoba mengikuti street dance. Bukankah itu terdengar menantang?”

Sangat menantang, gumamnya dalam hati. Gadis itu memandang keluar jendela, hujan. Ah…

“Song Aya! Aku ada diluar, aku kena hujan!” ujar suara lelaki yang dikenalnya. Gadis itu segera berbalik menuju pintu apartemennya dan membukanya, lalu membulatkan matanya. “Aku basah kuyup.” Lelaki itu terkekeh.

Aya mengedipkan matanya dua kali, dan siluet lelaki itu menghilang. Koridor didepannya kosong. Tidak ada siapa-siapa. Dengan gontai, ia menutup pintu apartemennya dan mendudukkan dirinya dilantai. Ia memandang kearah depan, tepat jendela besar yang terbuka lebar.

“Aku benci keadaan dimana aku mengharapkan kehadiranmu, Jongin.” Bisik gadis itu seraya meneteskan airmatanya.

 

*

 

“Jongin? Kau kenapa?” tanya Aya saat melihat kekasihnya meringis disalah satu bangku, memegang lututnya. “Kau terluka?”

“Tidak, aku tidak apa-apa, Aya.” Ujar Jongin, tertawa. “Aku baik-baik saja.” Ujarnya lagi. Aya menatap pacarnya bingung, namun tidak berkomentar. “Kau mau pulang sekarang?” tanya Jongin. Gadis itu mendudukkan dirinya disamping lelaki itu seraya mengelap keringatnya.

“Kalau kau mau pulang sekarang, ayo.” Ujar gadis itu, masih mengelap wajahnya. “Jongin, kau yakin kau tidak apa-apa?” ujarnya sekali lagi, melihat lelaki itu berusaha menahan sakit. “Wajahmu pucat!” pekiknya. Jongin menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya kelelahan, Aya, aku tidak apa-apa. Ambilkan vitamin dalam tasku.” Pintanya. Aya mengambil ransel abu-abu milik Jongin dan membukanya menemukan botol obat yang berisi puluhan pil.

“Jongin, ini.” Ujarnya, memberikan 1 butir pil yang langsung diterima lelaki itu, kemudian Jongin memasukkannya kedalam mulut dan menelannya tanpa air. “Kau merasa baikan?” tanya gadis itu, Jongin mengangguk lemah.

“Tunggu, aku akan membelikanmu air.” Ujar gadis itu lagi, melangkahkan kakinya turun dan membuka pintu ruang basket sebelum berbalik lagi. “Setelah minum, kita pulang saja, ya?”

Jongin hanya mengangguk, kemudian saat bayang punggung gadis itu mulai tidak nampak, ia mengetik cepat di layar handphone-nya.

She saved me in every possible way she could save others. Every smile that she showed, helped me to survive. My guardian angel, A.S.

Sore itu hujan. Aya baru saja sampai ke apartemennya, dan segera membuat cokelat panas. Televisi ia hidupkan dan duduk seraya menyesap cokelatnya. Beberapa channel menayangkan berita, dan ia memilih untuk menonton acara musik.

Suara bel berbunyi, namun Aya tidak bergerak sama sekali. Itu pasti Jongin, pikirnya. Gadis itu melanjutkan menyesap minumannya sambil menonton hingga Jongin berteriak.

“Aya! Aku kehujanan! Aku lupa kunci apartemenmu, buka pintunya. Aku basah kuyup!” ujar lelaki itu. Aya segera berdiri—mengingat lelaki itu sakit dan membuka pintu. Jongin tersenyum lebar namun memeluk lengannya.

“Jongin!” ujarnya, menarik kekasihnya masuk kedalam apartemennya. Ia mendudukkan Jongin di sofa dan berlari menuju lemari tempat ia menyimpan handuk-handuk, dan segera mengeringkan rambut Jongin. “Kau seharusnya tidak kehujanan, kau sedang sakit bukan?” ujar gadis itu. Jongin melihat cangkir berisi cokelat panas, hanya mengangguk dan mengambil gelas itu lalu meminumnya habis dalam beberapa tegukan.

“Aku merindukanmu.” Ujar Jongin, mencoba merayunya. Aya terkekeh lalu menjitak kepala Jongin. “Aku serius!” ujarnya, menengadahkan kepalanya. Tangannya meletakkan gelas lalu menarik kepala Aya, menciumnya lama, lalu melepaskannya. “Hari ini, aku menginap.”

Aya hanya tertawa.

 

*

 

Setelah satu minggu berlalu, ia berani melangkahkan kakinya menuju kediaman Kim. Jongin bukan orang kaya, namun ia bisa dibilang memiliki lebih dari cukup dan ia adalah orang mampu. Gadis itu menekan bel rumah bercat krem, yang dibuka oleh seorang pelayan.

“Selamat siang. Mencari siapa, nona?” tanya pelayan itu. “Oh! Aya, bukan?” tanyanya. Aya memandang pelayan itu dengan seksama, lalu tersenyum.

“Bibi Sung!” ujarnya, senang. Pelayan itu tersenyum lalu memberi pelukan singkat pada Aya. “Aku… mencari Sujin. Apa dia ada?” tanya gadis itu. Pelayan itu mengangguk lalu menggenggam tangannya seraya masuk.

“Aya?” sial, batin gadis itu. Ia tidak berharap bertemu dengan orangtua Jongin. Gadis itu membuat senyum, lalu membungkuk hormat. “Sudah lama, ya?” ujar ibu yang kira-kira umurnya lebih dari setengah abad. Aya mengangguk.

“Lama tidak bertemu, eomonim.” Ujarnya. Langkah hak terdengar dari arah tangga. Aya menoleh dan melihat Sujin turun dengan baju princess-nya, dress pendek dengan sepatu hak pendek, rambut yang ditata serapi mungkin.

“Kau datang.” Lega Sujin. Aya hanya mengangguk, tidak tau harus merespon apa dengan kondisi seperti ini. “Kau mau menemuinya sekarang?” tanya Sujin lagi. Ibu Jongin menatapnya—sedikit tidak percaya.

“Kau… Mau menemui…. Jongin?” tanya ibunya, memastikan. Aya mengangguk pelan dan menatap Sujin.

“Ya. Aku akan menemuinya sekarang.”

 

*

 

Jongin tidak menghubunginya selama 5 hari ini. Lelaki itu tidak masuk sekolah, handphone-nya tidak aktif, dan sejujurnya, lelaki itu juga tidak ada di apartemennya bersama Kyungsoo dan Sehun. Saat ia mengunjungi apartemen lelaki itu, kedua temannya hanya menggeleng mengatakan tidak tau dan Jongin tidak menghubungi mereka berdua.

Aya tidak kesal, untuk mengatakan yang sejujurnya. Tetapi, melihat keadaan lelaki itu beberapa hari yang lalu, ia merasa ia memiliki hak untuk tau keadaannya sekarang. Aya merutuk dirinya sendiri. Handphone-nya berdering, dan nama ‘Ibu’ tertera di layar. “Halo, bu?” ujarnya.

Disisi lain, seorang laki-laki tengah duduk berhadapan dengan seorang perempuan yang terlihat sangat anggun. Dihadapan mereka tersedia kopi dan cappucinno yang sudah habis setengah. Gadis itu masih terlihat shock, memandang lelaki yang duduk didepannya hanya menatapnya kosong.

“Jongin, kenapa kau mengatakan ini padaku?” tanya gadis itu. Jongin menghela napas. “Kau tidak berharap aku akan memandangmu jijik lalu meninggalkanmu, bukan?” ujar gadis itu. Jongin menggeleng.

“Aku meminta bantuanmu.” Ujar Jongin. “Ini untuk kebahagiaan Aya. Aku tidak boleh membiarkan dia kehilangan mimpinya hanya karna aku.” Lanjutnya. Sujin hanya berkedip menatap lelaki itu, lalu menghela napas.

“Aku akan membantumu, tapi dengan satu syarat.” Ujarnya. “Kau harus menjadi milikku.”

 

*

 

Lelaki itu bisa merasakan lebih dari satu orang yang akan memasuki pintu. Salah satunya pasti Sujin, karena suara haknya sangat dikenal, namun ia tidak bisa mengenal suara langkah kaki seorang yang lain. Bukan Sehun, ataupun Kyungsoo hyung. Ia sendiri sebenarnya tidak terlalu peduli, dan ia kembali menutup matanya—mencoba tidur.

Pintu kamarnya berdecit pelan tanda dibuka, ia bisa mendengar Sujin membisikkan kata-kata yang ia tidak bisa cerna dengan baik, lalu pintu itu tertutup. Dan langkah kaki itu mendekatinya, tanpa bersuara, hanya berjalan lalu duduk dibangku samping kasurnya. Orang itu tidak melakukan apa-apa, hanya diam. Jongin tidak mengerti, artinya orang ini juga bukan dokter atau keluarganya. Lalu siapa?

Dan saat itu juga, ia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis.

 

*

 

Pub itu mendentumkan suara musik yang dimainkan dan di-remix oleh DJ Kim. Aya mengenal DJ itu dengan baik, mengingat DJ itu adalah saudara jauhnya. Pub disalah satu daerah Gangnam itu telah menjadi tempat persinggahannya saat mendapat masalah, seperti saat ini.

Orangtuanya akan bercerai. Hal ini sudah ia prediksikan akan terjadi, namun ia tidak menyangka secepat ini. Gadis itu meminta Blue Ocean kepada bartender dan menghela napas. Seharusnya ia bisa menceritakan masalah ini pada Jongin, tapi lelaki itu tidak bisa dihubungi sama sekali. Gadis itu menghela napas, ini sudah hari ketujuh.

“Sudah lama aku tidak melihatmu.” Ujar Kim Sejoon. Aya terkekeh. “Dan sepanjang pengetahuanku, kau akan kesini saat banyak masalah. Ada apa?” tanya Sejoon lagi. Aya meletakkan gelasnya. “Martini.” Ujarnya pada bartender.

“Mereka akan bercerai.” Ujar Aya santai. Sejoon sedikit tersentak mendengar pernyataan gadis itu, namun mengangguk. “Ibu sudah menandatangani surat gugatan Ayah. Sidang pertama dua hari kedepan.” Lanjutnya. “Oppa, aku ikut siapa nanti? Ibu, atau Ayah?” tanyanya.

Sejoon terdiam beberapa saat. “Ibumu?” responnya. Aya terkekeh. Gadis itu hanya mengangguk sebagai respon, lalu meneguk Blue Ocean-nya.

“Aya?” gadis itu berbalik dan melihat Sujin dan…… Jongin?! Aya terbatuk-batuk saat melihat Sujin bersama dengan Jongin, membuat Sejoon segera menepuk bahunya. “Kau tidak apa-apa, Aya? Kenapa kaget melihatku?” tanya Sujin.

“Tidak, aku hanya tersedak. Ada apa Sujin?” tanyanya.

“Aku hanya tidak sengaja melihat siluet yang mirip denganmu, dan berniat untuk menyapamu. Oh ya, perkenalkan, tunanganku, Jongin.” Ujarnya. Aya menatap Jongin nanar, dibalas dengan tatapan santai—atau tidak peduli Jongin. Jabatan tangan itu berlangsung sedikit lama. “Kenapa, Aya? Kau mengenalnya? Kalian pernah berkenalan sebelumnya, sayang?” tanya Sujin pada Jongin.

“Tidak, dia hanya mirip dengan seorang yang kukenal. Orang itu seorang bajingan.” Ujarnya. “Sujin, aku duluan, ya. Oppa, nanti aku langsung masuk saja ke apartemenmu. Aku menginap.” Ujarnya lagi pada Sejoon dan meneguk habis Blue Ocean-nya. Gadis itu berjalan meninggalkan mereka bertiga, yang disusul dengan airmata.

Jongin merasa tertusuk-tusuk dengan pernyataan Aya. Ia lebih baik dibenci semua orang di dunia ini—dikatakan brengsek atau bajingan, asalkan Aya tidak membencinya.

 

*

 

Kenapa orang ini menangis?

Jongin bertanya-tanya. Sudah lima menit berlalu, dan orang itu belum berbicara, hanya menangis. Jongin berusaha menghiraukan suaranya namun tidak bisa. Tangisan orang ini begitu menyakitkan. Hingga suara itu berhenti menangis, Jongin hanya menutup matanya, mendengarkan tangisan suara itu.

Orang itu menarik napas panjang, lalu membuangnya—seperti mencoba menarik keberanian dalam dirinya. “Jongin-a, halo.”

Jongin terdiam. Ia mengenal suara ini. Ia sangat mengenal suara ini sehingga rasa bersalah menghampirinya lagi.

“Maaf aku baru berani menemuimu sekarang. Maaf aku baru bisa datang. Maaf karena aku menyebutmu bajingan. Maaf karena….. aku belum bisa melupakanmu.” Ujar gadis itu, kembali terisak. Jongin perlahan membuka matanya, dan menoleh kearah suara. Dan ia melihat malaikatnya, semakin cantik dan semakin bersinar.

“Jangan…. meminta….. maaf….” ujarnya, mengucapkan kata dengan kata secara perlahan. Aya menatapnya, membelai rambutnya dengan tangannya. “Kau….. tidak….. salah….” ujarnya lagi. “Bantu aku… untuk duduk.” Ujarnya. Aya melepas tasnya dan mengangkat Jongin. Lelaki itu semakin kurus.

“Kau merindukanku?” tanya Aya, menyeka airmatanya.

“Selalu.” Ujar lelaki itu. Lelaki itu baru saja akan meraih tangan gadis itu sebelum menyadari tangannya sudah tidak bisa bergerak lagi. “Aya, pegang… tanganku.” Dan Aya melakukannya. “Aku… minta maaf… karena… meninggalkanmu… saat itu.”

Gadis itu kembali menangis.

“Aya… aku… mayat hidup… sekarang.”

 

*

 

Aya baru saja akan menata hidupnya setelah dua bulan berlalu. Ia memilih tidak mengikuti kedua orangtuanya setelah mereka berdua resmi bercerai, namun membuat syarat mereka berdua harus tetap mengiriminya uang bulanan.

Putaran hidupnya sekarang hanya berkisar sekolah, ruang dance—walaupun sekarang ia sudah jarang hadir karena ujian kelulusan sudah dekat, tempat kerja part-time. Kesibukannya dengan tumpukan buku membuat Jongin sedikit menghilang dari ingatannya, walaupun saat ia terlelap lelaki itu kerap muncul dalam mimpinya.

Hingga ia mendengar gedoran pintu di apartemennya yang membuatnya membuka pintu dan memperlihatkan Kyungsoo dan Sehun terengah-engah, seperti baru saja selesai berlari sprint. “Aya…” ujar Kyungsoo, sebelum kembali mengambil napas.

“Masuklah.” Ujar Aya, membuka pintunya lebih lebar. Gadis itu mempersiapkan dua sirup yang segera dihabiskan mereka berdua dalam beberapa teguk. “Ada apa, Sehun?” tanyanya.

“Kau harus mengetahui hal ini.” Ujar Kyungsoo. Dahi Aya mengernyit. “Jongin………” nama itu membuat gadis itu kembali bergetar. “Dia…”

“Dia sakit.” Sambung Sehun. “Karena itulah dia meninggalkanmu. Karena itulah dia berselingkuh dengan Sujin. Ia melarang kami memberitahumu, namun, kau berhak tahu, Aya.” Gadis itu terdiam. Pria itu sakit. Pria itu tidak mau merepotkannya, karena itu dia meninggalkannya. Lelaki itu…

“Jangan mencarinya, Aya. Dia menyuruh kami mencegahmu jika saja kau ingin mencarinya. Kau akan bertemu dengannya nanti. Aku yakin itu.” Ujar Kyungsoo. Aya menarik napas panjang.

“Kenapa dia berbohong?” bisiknya lirih. Kyungsoo merangkulnya, mengusap bahunya, berusaha menyalurkan energi positif untuk gadis itu, namun nihil. Gadis itu kembali menghela napas panjang, dan menatap dirinya juga Sehun.

“Terimakasih, Kyungsoo oppa, Sehun-a. Mungkin ini memang yang terbaik. Dia dengan hidupnya, dia juga mungkin memang pantas bersanding dengan Sujin. Ahh, hari ini aku harus pergi kerja part-time. Tunggu sebentar, okay?” ujarnya, meninggalkan Sehun dan Kyungsoo diruang tengah, menuju kamarnya dan menutup pintu. Ia mendudukkan dirinya ke lantai, membekap mulutnya dengan kedua tangannya—menangis.

Kyungsoo dan Sehun tidak tuli, mereka tahu bahwa gadis itu menangis dan mereka tidak mau melakukan apa-apa. Mereka tahu gadis itu membutuhkan waktu untuk mencerna semuanya. Hal yang tidak mereka habis pikir adalah, kenapa Jongin meninggalkan gadis itu?

“Hyung, dia mempunyai beban hidup yang banyak. Jongin membantunya bertahan…” ujar Sehun dengan suara rendah. Kyungsoo hanya mengangguk—menyetujui ucapan Sehun.

“Dia memutuskan untuk melupakan Jongin, awalnya. Tapi, kita tidak bisa menyembunyikan kebenaran, bukan?”

 

*

 

“Apa…. kau…. akan….. datang lagi?” bisik Jongin lemah saat Aya berujar ia harus pulang. Aya mengangguk seraya tersenyum. “Ke…mari….lah.” ujarnya pada gadis itu, Aya mendekatkan dirinya kepada Jongin.

Jongin menempelkan bibirnya pada gadis itu, lalu melepasnya. Aya tersenyum. “Seharusnya kau bilang, aku akan menciummu.” Godanya, membuat lelaki itu terkekeh. “Selamat malam, Jongin.” Bisik gadis itu tepat ditelinganya. Jongin mengangguk, dan setelah mendapat satu kecupan di pipi dari gadis itu, Aya keluar meninggalkannya sendirian.

Seharusnya ia tidak berbohong pada gadis itu. Gadis itu terlalu baik. Gadis itu mencintainya. Seharusnya ia tidak menyuruh Sujin membantunya, sedangkan ia tidak pernah baik kepada gadis itu. Seharusnya…

“Jongin?” lelaki itu menoleh perlahan dan melihat Sujin berdiri diambang pintu. Kali ini Jongin memberinya sebuah senyuman. Sujin berjalan mendekatinya, dan duduk disamping ranjang. “Kau sudah senang?”

“Maaf…kan…. a…ku.” ujarnya. Sujin menggelengkan kepalanya. “A..ku… me…nyakiti……mu.” lanjut Jongin lagi.

“Aku yang minta maaf, merebut kebahagiaan kalian. Ibumu berterimakasih kepada Aya, karena dia kau mau berbicara lagi, bahkan kau mau meminum obat yang tidak pernah kau sentuh tiga bulan belakangan ini, Jongin.”

“Jongin, aku ingin berdamai denganmu…. dan Aya. Aku ingin melihat kalian bahagia.” Walaupun aku harus menanggung kepedihannya, bisiknya lirih.

Jongin tersenyum padanya. Untuk pertama kalinya, Sujin merasa tidak menyesal mencintai seseorang bernama Jongin, walaupun lelaki itu tidak mencintainya.

 

*

 

“Oh, kau sudah pulang? Aku juga baru pulang. Mau makan diluar, atau…” Sujin yang melihat kedatangan Jongin segera berdiri depan pintu, memberikan senyum terbaiknya.

“Aku tidak lapar, mau ke kamar.” Ujar pria itu dingin. Setelah meletakkan sepatunya dengan rapi, lelaki itu melewatinya begitu saja, tanpa berujar apa-apa. Sujin hanya bisa menatap punggung tegap lelaki yang terlihat lelah itu dengan nanar. Tidak akan pernah.

“Jongin-a, makan malamnya sudah kusiapkan. Ayo, makan.” Sujin mengetuk pintu kamar lelaki itu. Nihil, tidak ada jawaban. Sujin menghela napas panjang. Ayah dan Ibu Jongin memaksanya tinggal dirumah mereka karena takut tidak bisa mengecek Jongin. Namun, Jongin sendiri tidak pernah melihatnya. Hingga perlahan demi perlahan, ia harus melihat lelaki yang awalnya ia pikir hanya menjadi cinta monyetnya itu mulai kehilangan kemampuannya berjalan dan menggerakkan tangannya.

“Jongin, kau ingin sesuatu?” ujar Sujin yang mengetuk pintu kamar Jongin saat mendengar suara erangan lelaki itu.

“Pergi!” bentak pria itu. Sujin menatap pintu kayu bercat cokelat itu lirih. Tidak, kali ini ia harus melawan Jongin. Dengan hentakan Sujin membuka pintu lelaki itu dan melihat lelaki itu tengah meringis dilantai. “Pergi! Siapa yang memperbolehkanmu masuk!” bentak lelaki itu lagi. Kali ini Sujin menggelengkan kepalanya.

“Kau tidak bisa berdiri Jongin? Ayo, kubantu.” Sujin melangkahkan kakinya mendekati lelaki itu, berjongkok dan berusaha membantu lelaki itu berdiri. Dan untuk pertama kalinya, Sujin melihat sisi Jongin yang tidak pernah ia prediksi.

Jongin menangis dan meraung-raung. Sujin menatap pria yang sesenggukan itu dengan mata berkaca-kaca. Dengan kekuatan yang ia miliki, ia membaringkan Jongin dikasur, dan melihat Jongin menutup muka dengan kedua tangannya, menangis. Sungguh, Sujin akan melakukan apa saja untuk menghentikan tangisan lelaki yang ia cintai itu.

Sujin memilih menghubungi dokter keluarga mereka lewat pesan singkat, dan menatap Jongin yang tengah menangis, dan ikut meneteskan airamata disudut matanya. Ia tahu mimpi lelaki itu. Ia ingin menjadi seorang penari handal. Ia ingin membuat sebuah tarian yang dapat memukau dunia. Yang dapat menunjukkan bahwa dia bisa.

Namun, lelaki itu tidak bisa. Ia lumpuh, ia cacat.

“Jongin-ssi, kaki anda…. sudah tidak bisa digunakan lagi.” Dokter Jung menatap Jongin dan keluarganya bergantian, namun ia tidak bisa membaca ekspresi Jongin, lelaki itu hanya diam menatap langit-langit kamarnya.

Sujin menangis dalam diam. Yang ia tahu, dari membaca ekspresi wajah Jongin, lelaki itu sudah tidak mempunyai harapan hidup lagi.

 

*

 

Hari-hari Jongin kembali terisi dengan kehadiran Aya yang datang dan menetap hingga malam tiba. Ia tahu gadis itu kuliah di pagi hari, kerja part-time di siang hari, dan setelah itu datang kerumahnya hingga malam tiba. Namun, tidak ada keluhan dari bibir plum gadis itu.

Yang ada hanya senyuman gadis itu, kecupan-kecupan ringan dipipi lelaki itu, dan tentu saja, kebahagiaan dari orangtuanya, juga Sujin. Sujin sendiri bisa menghela napas lega sekarang. Setidaknya, Jongin sudah menjadi lebih baik dengan adanya Aya disampingnya.

“Me…nginap…lah…” ujar Jongin pada gadis itu malamnya. Aya tertegun dan tersenyum.

“Aku tidak bisa, Jongin.” Jawab gadis itu. “Ada Sujin dan Eomonim yang bisa menjagamu, bahkan ada bibi.”

“Ku…mo…hon…” pinta lelaki itu lagi.

“Menginaplah disini hari ini, Aya.” Sujin akhirnya angkat bicara, seraya tersenyum kepada gadis itu. “Tidak apa-apa.” Lanjut gadis itu saat melihat ekspresi ragu Aya.

“Baiklah.” Jawab Aya akhirnya lalu menatap Jongin. “Kau menang, Tuan Pemaksa.” Ujar Aya, terkekeh. Jongin tersenyum. Aya meraih tangan Jongin, menggenggamnya seraya mengelus jemari lelaki itu. “Aku mencintaimu.”

Sujin yang melihatnya, tersenyum mendengarnya.

Namun, kejadian itu berlangsung cepat. Saat Aya tertidur disamping Jongin yang meminta Aya untuk tidur disampingnya dan membuat tangan Jongin seperti memeluknya, Jongin merasakan seperti napasnya terhenti, ia hanya bisa membuat suara-suara aneh agar Aya terbangun, namun nihil.

“A… A…. A…”

Aya yang merasa terpanggil setelah berusaha mengindahkan suara itu beberapa kali karena tidur nyenyaknya akhirnya terbangun karena menyadari suara Jongin. Aya bangkit dari tidurnya dan menoleh, melihat Jongin yang tengah terengah-engah, berusaha bernapas.

“J-Jongin? Kau bisa bernapas?” tanyanya, mengusap dahi Jongin yang penuh dengan peluh. Jongin masih berusaha bernapas, namun nihil. “Sujin! Sujin!” teriaknya. “Eomonim! Eomonim!” teriaknya lagi. Ia bisa mendengar suara derap langkah cepat menuju kearahnya, menampilkan kedua orangtua Jongin dan Sujin berlari masuk dan melihat Jongin yang kesusahan.

“Jongin? Nak… Ini Ibu…” ujar Ibunya, menggenggam tangan Jongin sayang. Ayahnya segera berlari turun, mengambil mobil. Dan Sujin sendiri memanggil pelayan untuk membopong Jongin turun.

Aya menangis. Ia belum siap kehilangan Jongin untuk kedua kalinya, dan parahnya, selamanya.

 

*

 

“Aya, apa kau akan mencintaiku selamanya?” tanya Jongin seraya memainkan rambut panjang seorang gadis yang tengkurap diatasnya. Posisi mereka berdua memang sedikit senonoh, namun mereka hanya berdua sofa ruang tamu apartemen Aya, dan tidak melakukan apa-apa.

“Pertanyaan macam apa itu.” Dengus Aya, menatap Jongin yang berada dibawahnya. Aya kemudian tersenyum dan mengecup bibir pria itu sekilas. “Aku akan mencintaimu selamanya, Kim Jongin.” Jawabnya. “Jongin, kenapa kau menyukai bunga Daffodil?”

“Oh, kau melihat koleksiku?” tanya Jongin, Aya mengangguk. Setiap kali Aya datang ke flat milik Jongin, Sehun, dan Kyungsoo, dan memasuki kamarnya, aroma Daffodil, dan dua vas penuh Daffodil segar menyeruak keindra penciumannya. “Kau tahu apa arti Daffodil, Aya?” Aya menggeleng. Untuk apa dia mengetahui arti bunga-bunga?

“Artinya, cinta yang bertepuk sebelah tangan.”

“Sesedih itu?”

“Ada lagi, bodoh.” Kekeh Jongin. “Artinya yang lain, saat aku bersamamu, matahari bersinar lebih terang, juga artinya matahariku.” Ujarnya, mengusap pipi Aya yang mulai merona. “Aku belum selesai bertanya, Song Aya.”

“Bertanya apa?”

“Kau akan mencintaiku selamanya, bahkan jika aku pergi selamanya?” tanya Jongin, menyelesaikan pertanyaan yang terpotong.

“Kau tidak akan pergi untuk selamanya, kau tidak akan mati, bukan?” tanya Aya, sedikit bingung. “Lagipula, kalau kau mati, itu karena kita berdua sudah tua, dan anak-anak kita sudah dewasa dan sudah memiliki pasangan, bahkan mungkin, kita sudah mempunyai cucu kala itu.” Tutur Aya panjang lebar. Dan seringaian mesum muncul dari bibir Jongin.

“Apa kau mau menggodaku, nona Song? Aku tidak apa-apa jika harus bersamamu melakukannya.” Goda Jongin, membuat Aya merona dan bangkit dari tubuh Jongin, malu.

“E-eh.. B-bukan itu maksudku!” ujar Aya, menggelengkan kepalanya beberapa kali. Jongin tertawa lepas dan menarik Aya lagi keatasnya, memeluk pinggangnya.

“Aku hanya bercanda, Nyonya Kim.” Bisiknya sebelum mencium bibir Aya.

“Hey, Jongin. Aku tidak akan berarti Daffodil yang sedih, karena aku akan terus menjadi mataharimu.” Ujar Aya, melepas ciuman lelaki itu.

“Aku tahu, Kim Aya. Aku tahu itu, jangan ganggu aktivitas kesukaanku sekarang.” Ujarnya, menarik kepala Aya dan kembali menciumnya.

 

*

 

“Kau sudah siap?” Sujin menyempilkan kepalanya dari luar, mengucapkan pertanyaan pada seorang gadis yang tengah menatap pantulan wajahnya dicermin. Gadis itu menoleh, dan tersenyum, membuat Sujin menghela napas, dan berjalan masuk kedalam kamar itu.

“Kau terlihat cantik, Sujin.” Puji gadis itu. Sujin tersenyum saat berdiri dibelakang gadis itu, menyisir rambut panjang gadis itu dengan tangannya.

“Kau juga.” Balas Sujin. “Kau bahkan belum merapikan rambutmu, Aya. Kau kan tahu, Jongin tidak suka terlambat.” Ujar Sujin lagi, kali ini mengambil sisir untuk merapikan rambut Aya.

“Aku tahu. Makanya aku ingin datang terlambat, aku ingin membuatnya sedikit kesal.” Kekeh Aya. Sujin terdiam, namun hanya menampilkan senyum. Selama beberapa menit, Aya hanya diam dan Sujin hanya merapikan rambutnya, mengepang rambutnya menjadi dua, dan memakaikan beanie dikepala gadis itu.

“Eh, kenapa beanie?”

“Tunjukkan dirimu sendiri saat bersamanya, Song Aya. Kau memang cantik saat memakai dress, tapi, kau tahu Jongin sangat menyukaimu dengan beanie itu. Lagipula….” kalimat Sujin menghenti.

“Ya, aku tahu, Sujin. Ayo, kita berangkat.”

Sujin menatap gedung tinggi didepannya dengan senyum kecil, sedangkan Aya menjadi sedikit kaku. Kedua orangtua Jongin sudah sampai sejak sejam yang lalu, dan ia bisa melihat banyak tamu undangan sudah sampai. Didepan pintu gerbang gedung itu, Kyungsoo dan Sehun mengucapkan terimakasih kepada tamu yang hadir, walau mata mereka sayu dan sembab.

Aya memegang bunga Daffodil ditangan kanannya semakin erat. Saat berada dijalan tadi, ia meminta Sujin untuk menepi, agar ia bisa membeli bunga itu. Napas Aya semakin berat saat berjalan bersama Sujin disampingnya. Sehun dan Kyungsoo yang melihat mereka, melambai sebagai sapaan. Aya tersenyum sebagai balasan, sedangkan Sujin langsung bergelayut dengan Kyungsoo, mau tidak mau membuat Sehun mengerucutkan bibirnya kesal.

“Kau harus mencari pacar, Sehun.” Kikik Kyungsoo. Aya berdiri disamping Sehun, tidak menjawab atau ikut meledek lelaki berkulit pucat disampingnya ini. “Aya, kau tidak apa-apa?” tanya Kyungsoo. Aya menggeleng, lalu kembali menyambut tamu yang datang, gumaman ‘terima kasih sudah datang’ ia ucapkan kepada setiap tamu yang datang.

“Aya, masuklah, Eomonim dan Abeonim pasti menunggu kedatanganmu.” Ujar Sujin, masih bergelayut pada Kyungsoo. Sehun dan Kyungsoo mengangguk menyetujui. Aya menghela napas panjang, dan mengangguk—tersenyum pada ketiga temannya.

Langkah kakinya sedikit berat saat memasuki gedung besar itu. Ruangan yang ia masuki mulai padat oleh tamu yang hadir, didepannya terlihat Ibu dan Ayah Jongin tengah berbicara dengan seorang Pendeta, sesekali mengusap bahu istrinya dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aya? Kau sudah datang?” Ibu Jongin meraihnya kedalam pelukan. Aya tidak menjawab, hanya membalas pelukan wanita itu, sama sedihnya dengan pelukan Ibu Jongin padanya. Ayah Jongin mengundur diri dari Pendeta dan berjalan kearahnya dan istrinya, memeluknya dan Ibu Jongin.

“Terima kasih, Aya.” Ujar Ayah Jongin. Aya menggeleng.

“Jangan berterima kasih padaku, Abeonim.” Ujarnya, tersenyum. “Ini hari bahagia untuk kita semua, bukan? Apalagi untuk Jongin.” Ujar Aya lagi. “Setelah ini, semuanya sudah berakhir.”

“Kau siap kan, Aya?” tanya Ayah Jongin. Mata Aya bertemu dengan mata Jongin yang teduh, dan tersenyum, dan ia mengangguk.

 

In that space where memories linger
Still as warm on my fingertips
You are here, here
Your scent, your face

Please, look at me, look at me, look at me
I can feel you, like this, feel you, feel you
Struggling to catch your expressions
Struggling to catch your smiles

 

“….disini telah terbaring, anak terkasih kami, Kim Jongin.”

 

I want to turn things back
I don’t care if something bad happens to me
Because I can’t go on alone anyway
Because you won’t get erased from my heart
The one person in my heart
Is you

 

“….setelah berjuang begitu lama, Dia yang diatas memutuskan untuk memanggilnya kembali. Mengatakan bahwa tugasnya sudah selesai.”

Aya mematung, satu demi satu teman sekolah kami saat di Senior High maju, membawa karangan bunga putih. Meletakkannya tepat didepan foto Jongin yang tersenyum dengan mata teduhnya. Jemari Ibu Jongin bergetar, menyatakan bahwa Ibunya sudah menangis lagi, untuk kesekian kalinya.

 

I couldn’t speak in case you’d find out
So I secretly took a step closer to you
Suddenly, with the longing for you, who’s not here
It hurt so much that I cried by myself

 

Jongin-a, kupikir, jika aku kembali kepadamu, dan jika kau kembali kepadaku, kita bisa bersama untuk selamanya. Tapi, ternyata, bahkan dunia menentang kita untuk kesekian kalinya. Ia tidak membiarkan kita memiliki kebahagiaan. Cinta kita berdua bertepuk sebelah tangan.

“… Tuhan telah menempatkan Jongin ke sisi kanan-Nya, menyatakan bahwa Jongin adalah putra-Nya. Dengan demikian, kiranya anak terkasih kita, Kim Jongin, tidur dalam damai.”

Kali ini, Ibu dan Ayah Jongin berdiri, disusul oleh Aya, Sujin, Kyungsoo, dan Sehun. Mereka semua masih memegang tangkai bunga putih, tidak untuk Aya.

Satu buket bunga penuh dengan Daffodil berada ditangannya. Ia melangkahkan kakinya sedikit pelan, menatap sosok damai Kim Jongin.

“Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan Tuan Kim Jongin. Kami tidak menyangka virusnya akan menyebar sampai kebagian paru-paru dan menutup saluran pernapasannya.”

Warna gelap kulit pria itu, wajah damai pria itu, membuat dadanya sesak. Ia merindukan Kim Jongin.

Langkah gadis itu berhenti tepat didepan lelaki itu. Ia melangkahkan kakinya lebih dekat, menangis dalam hati, berusaha tidak menangis didepan Jongin.

“Maaf, aku sengaja terlambat tadi.” Bisiknya. Dengan perlahan, ia meletakkan kotak kecil disamping kepala lelaki itu, dan meletakkan bunga Daffodil didada lelaki itu.

“Amin.” Pendeta tersebut menutup doa, tepat saat Aya kembali ke bangkunya.

 

Because you were there, I could always smile
Because you were there, I was the happiest
Through you, my life was liveable
The person who I used to love so much

“Hey, Aya. Apa mimpimu?”

“Menjadi seorang guru.”

“Guru? Mimpimu aneh sekali.”

“Kau menyebalkan, Jongin. Memangnya apa mimpimu?”

“Menjadi seorang penari.”

“Kau jago menari, kau pasti bisa mencapainya.”

“Dan juga, menjadikanmu istriku.”

Jongin, aku tetap mataharimu.

“Kita pulang, Aya?” Ayah Jongin menatapnya yang masih melihat Jongin yang tertidur pulas. Aya menoleh dan tersenyum, kemudian merasakan rangkulan Ayah Jongin.

“Ya, kita pulang, Abeonim.” Ujarnya, berjalan bersama Ayah Jongin mendekati Ibu Jongin yang tersenyum menatap mereka berdua.

Jongin, menarilah dengan bunga-bunga Daffodil, diatas sana.

For oft, when on my couch I lie
In vacant or in pensive mood,
They flash upon that inward eye
Which is the bliss of solitude;
And then my heart with pleasure fills,
And dances with the daffodils.

Daffodils, William Wordsworth

 

 Fin.

A.N : ANCUR BANGET YA INI. Udah lama nih, membusuk di folder, baru niat beresinnya sekarang wkwk. Maafin karna belum lanjutin ‘Cruel’ ini lagi dalam proses pengerjaan u_u. Ini tuh sebenernya harusnya ffnya sedih, tapi pasti gak sedih, wong udah gembel gini temanya gak ada nyambung-nyambung nya wkwkwk. Intinya semoga suka! Btw, baca drabble-ku dong (promosi) Street Kiss sama Library Sleep Hour. Castnya sama, cuman dibikin jadi seri, kumpulan drabble gitu hehe. Sampai bertemu di ff selanjutnya, kisses, zeya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s