CRUEL [PART 4]

crueledit2

CRUEL

Title : Cruel

Author : Zeya

Genre : slight of romance and angst-mystery-mafia!au

Length : Chaptered

Cast(s) : EXO-K’s Kai | APINK’s Naeun | other casts

Poster Credit : parkkyungjin

Previous : PART 1 | PART 2 | PART 3

Disclaimer : Saya gapunya castnya, punyanya cuman storyline sama copyright atas fanfic ini. Saya gaperlu tanggapan bash kalian soal Kai-Naeun, soalnya fanfic ini pure karena kecocokan karakter mereka untuk fanfic yang saya bikin sekarang. Kalau gasuka pairing ini, mending jangan dibaca. Ini hanya untuk have fun bukan?:-) Semoga menyukai fanfic ini, comments are really appreciated!

 

©ZEYA 2013

.

.

 

It seems like fate is so cruel that people always trying to get rid from it.

 

Dua anak laki-laki yang masih berumur 2 tahun bertemu untuk pertama kalinya. Dengan ucapan yang masih amburadul, mereka berdua bermain mobil-mobilan bersama-sama, tertawa dan saling memukul layaknya saudara.

“Sehun-a!”

“Jongin-a!”

Saat mendengar panggilan ibu mereka masing-masing, mereka langsung berlari kepelukan ibu mereka, lalu tertawa-tawa. “Eomma, hari ini kami seri!” ujar Jongin pada ibunya. Sehun mengatakan yang sama kepada ibunya.

“Benarkah? Memangnya yang kemarin menang siapa?” tanya Ny. Oh. Sehun menunjuk dirinya, dan Jongin menunjuk Sehun. “Uwah, uri Sehun pintar ya sekarang!” puji ibunya. Ny. Kim juga mengangguk-angguk setuju.

Didalam ruangan yang remang, Tn. Kim dan Tn. Oh duduk berhadap-hadapan, membuka tumpukan file yang tersisa. “Kau tahu, ini bisa memakan waktu yang sangat lama.” Ujar Tn. Kim.

“Hanya ini yang bisa menunjukkan bahwa dia pelakunya, kau tahu itu bukan?” balas Tn. Oh, yang direspon anggukan Tn. Kim.

“Kenapa…. Dia menjadi seperti ini?”

 

*

 

Son Naeun terbangun dengan rasa sakit dibetisnya. Olahraga kemarin membuatnya lelah setengah mati. Lampu LED handphone-nya mulai menunjukkan warna kuning, berarti kakaotalk-nya memiliki pesan. Dengan rasa malas yang dipucuk kepala, ia menyempatkan diri membuka aplikasi itu dan melihat pesan yang tertulis.

Kkaman-ae : Tidur?

Pesan itu masuk sekitar 30 menit yang lalu. Sekarang jam dikamarnya menunjukkan pukul setengah dua belas malam, apa lelaki itu masih terbangun?

Yeo-shin : Maaf, aku baru terbangun. Kenapa?

Naeun menyandarkan kepalanya pada dinding tempat tidur. Percakapan antara Sehun dan Jongin tadi membuat darahnya berdesir. Seperti sesuatu sedang direncanakan dengan matang oleh mereka. Dia sendiri merasa penasaran, walaupun ia tidak berani bertanya langsung kepada tunangannya itu.

Kkaman-ae : Aku tidak bisa tidur.

Naeun membuka fitur free-callnya dan menguhubungi tunangannya itu. “Ada apa?” tanyanya, memeluk bantal gulingnya.

“Entahlah, aku tidak bisa tidur. Kau sendiri?”

“Aku sudah tidur daritadi sore, baru saja terbangun. Ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Naeun.

“Tidak ada.”

“Um, Jongin-a. Mengenai hal yang kau bicarakan dengan Sehun kemarin tentang rapat saham…” Naeun menghentikan kalimatnya, menunggu respon Jongin. Tidak ada respon dari lelaki itu. Naeun menarik napas panjang. “Apa kalian merencanakan sesuatu?” tanyanya.

“Maaf, tadi aku mengambil minuman. Kau bilang apa tadi?” Naeun menghela napas, lelaki itu tidak mendengarnya, pikirnya.

“Tidak, bukan apa-apa. Lebih baik kau minum cokelat panas, bisa membantumu untuk lebih cepat tidur.” Ujar Naeun. Jongin terkekeh.

“Aku sudah mengantuk sekarang, aku tidur dulu. Saranghae, Naeun.” Ujar lelaki itu lalu memutus hubungan telepon.

“Na do.” Gumam Naeun.

 

*

 

Jongin mendengar pertanyaan Naeun.

Ia memang mengambil minuman, namun ia membuat handphone-nya dalam keadaan loudspeaker. Saat gadis itu bertanya, ia merasa seperti diremuk menjadi bagian-bagian terkecil. Entah karena hal ini melibatkan gadis itu, atau karena ia merasa ia bersalah.

Setelah memutuskan hubungan telepon dengan Naeun, lelaki itu memandang pigura besar yang terletak diruang tamu. Fotonya bersama orangtuanya. “Ayah…” gumamnya. “Aku tidak yakin apa yang aku lakukan ini benar.” Lanjutnya. “Aku menyukainya, ayah.”

 

*

 

Kyungsoo menyiapkan bekal Kai paginya. Melihat keadaan juniornya seperti mayat hidup, ia tidak tega melihat lelaki itu. “Kai-ya, ini bekalmu.” Ujarnya. Kai hanya mengangguk lalu kembali terdiam. “Kau tahu, kau terlihat mengerikan jika sedang sedih. Ada apa?” tanya Kyungsoo, duduk disamping lelaki itu. “Naeun?”

“Aku orang jahat, hyung.” Ujar Kai akhirnya. “Aku pasti akan menyakiti Naeun. Entah kapan, tapi aku yakin aku pasti akan menyakitinya.”

“Apa maksudmu?” Kyungsoo menatap Kai heran. Kai menghela napasnya panjang, dan tidak menjawab. “Kau harus menjawab pertanyaanku, anak muda.” Ujar Kyungsoo, menatap Kai dengan tatapan serius.

“Aku menggunakan Naeun sebagai media untuk membalas dendam.”

“Kau bukan lelaki seperti ini, Kai.” Kyungsoo menepuk pundak lelaki itu. “Kau tidak akan menyakitinya. Bukankah kau mengatakan hal itu padaku dulu? ‘Aku tidak akan menyakiti perempuan yang aku sukai, hyung.’” Ujarnya, tertawa mengingat kejadian dulu.

“Terima kasih, hyung.” Ujar lelaki yang lebih muda itu. “Kau mau berangkat sekarang?” tanyanya. Kyungsoo mengangguk. Jongin berdiri dan menyampirkan tasnya. “Kita berangkat, hyung.”

Kyungsoo mengikuti lelaki itu dari belakang, memperhatikan langkah lelaki itu yang membuang napas berat. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kai sedang dimabuk cinta, dan dipenuhi dendam.

 

*

 

Kenapa aku harus menjadi obat nyamuk Yookyung dan Sehun?

Naeun menghela napas, merasa bosan dengan keadaannya sekarang. Setelah kelas yang ia lewati tanpa tunangannya itu—ya, benar, Jongin bolos—ia menemukan Yookyung diluar kelasnya, menunggunya. Mereka berdua ahirnya berjalan bersama ke cafetaria kampus, namun Sehun datang dan ia pun berakhir menjadi obat nyamuk.

“Kau tidak dihubungi hitam?” tanya Sehun, akhirnya. Naeun menatap Sehun sinis, seperti mengucapkan ‘kau baru menyadari kehadiranku sekarang?’. Sehun tergelak. “Kau mengerikan jika menatapku seperti itu.” Ujar Sehun tenang. “Oh, lelaki itu memang panjang umur. Hitam!” teriaknya.

Naeun berbalik dan menemukan Kim Jongin tiba bersama Kyungsoo, yang menenteng banyak tempat makan. Apa mereka akan piknik? Naeun hanya menunduk hormat, lalu berbalik memunggungi Jongin dan Kyungsoo. Entah mengapa, moodnya maju mundur seharian ini.

“Kau rindu padaku?” tanya Jongin padanya saat duduk disampingnya. Naeun menatapnya sinis, lalu tidak menjawab pertanyaannya. Jongin tergelak. “Kau mengerikan jika menatapku seperti itu.” Hey! Kenapa Jongin dan Sehun harus mengatakan hal yang sama? Jongin merengkuhnya dengan tangan kanannya. “Maaf. Aku terlambat bangun tadi.” Ujarnya, mengecup puncak kepala gadis itu.

“Belum nikah saja sudah cium kepala, kalo sudah menikah cium apa?” ejek Yookyung yang segera dihadiahi high-five dari Sehun. Mereka berdua….

“Aku membawa banyak jenis makanan. Mau?” kata-kata Kyungsoo membuat semua orang menatap bekal makanan yang baru saja dibuka oleh Kyungsoo. Baiklah, menghajar Yookyung dan Sehun bisa dilanjutkan setelah makan, pikir Naeun yang mulai mencomot kimbap.

 

*

 

Jongin menghela napas saat berjalan masuk kedalam perusahaannya. Sehun—yang berada disampingnya, hanya diam dengan serius memainkan gadget-nya. “Kau tahu Jongin, kau terlihat jelek jika tegang.” Komentarnya, masih sambil bermain gadget.

“Apa maksudmu?”

“Ini bukan kali pertamamu mengikuti rapat pemegang saham, Hitam. Kau seharusnya santai saja. Dia tidak akan berani macam-macam. Lagipula, bukankah dia berjanji akan memberikan sebagian sahamnya untukmu?” ujar Sehun, menutup flip handphone-nya dan menatapnya.

“Ini bukan masalah saham, Putih. Ini masalah…. apakah aku bisa membalaskan dendamku? Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi lagi.” Ujarnya, menghela napas sekali lagi. Langkah kaki mereka terhenti di aula pertemuan. “Ingat Sehun, akting.” Bisiknya, sebelum melangkah lebih dulu didepan Sehun.

Kedua lelaki itu memasuki aula diiringi tepuk tangan dari para pemegang saham. Jongin berdiri ditengah, dan membungkuk—memberi salam. “Saya berterima kasih karena bapak dan ibu para pemegang saham Kim&Oh Co. bisa hadir dalam rapat pemegang saham kali ini. Saya dan rekan saya, Sehun, berharap anda dapat memilih sesuai dengan kompetensi yang ada. Terimakasih.” Ujarnya. Sehun hanya terkekeh dibelakang, seraya mencoba menetralkan ekspresi wajahnya.

“Kau tahu, kau menyindirnya.” Bisik Sehun.

“Aku tahu.”

 

*

 

Lelaki paruh baya itu memandang kedua anak muda yang berada didepan dengan tatapan marah. Ia harus mendapatkan perusahaan yang benar-benar maju ini. Ia harus menjadi yang terhebat.

“Pastikan kalian mengganti beberapa suara didalam dengan namaku.” Bisiknya kepada salah seorang staffnya—yang menyamar sebagai karyawan perusahaan tersebut. Staffnya mengangguk. “Lakukan dengan bersih!” titahnya. Staffnya melenggang pergi, dan mulai berjaga diluar.

“Aku akan memastikan kalian berdua hancur, seperti ayah kalian berdua.” Gumam lelaki paruh baya itu. Rapat pemegang saham kali ini menentukan siapa yang akan memegang saham terbesar, yang akan menguasai perusahaan tersebut, memiliki pangkat tertinggi selama setahun kedepan.

Ia harus memiliki perusahaan ini.

Walaupun ia harus mengorbankan perasaan putrinya.

 

*

 

“Kau tahu ini berbahaya, hitam.”

“Lalu? Aku harus membunuhnya langsung? Ini harus bertahap, putih. Lelaki tua busuk! Ia menggunakan putrinya, dan apapun untuk harta. Tidak mempunyai perasaan! Ia harus diberi pelajaran, Sehun.” Desisnya.

“Dengan membiarkan dia mengambil alih perusahaan kita selama setahun? Sehari menjadi pemegang tertinggi saja, ia akan mendepak kita, Jongin! Mengundurkan waktu rapat menjadi besok tidak mengubah apa-apa!” ujar Sehun, sedikit histeris. Bukan ia takut tidak mempunya harta, ia merasa ide Jongin adalah yang terburuk.

“Dia tidak akan bertahan lama, kau tahu kita yang berkuasa bukan? Memanipulasi bukanlah hal yang sulit.” Ujar Jongin, lalu menghela napas. “Yang sulit adalah…. aku tahu setelah ini, lelaki bejat itu akan menyuruh Naeun untuk berhenti menemuiku.” Ujarnya. “Klise.”

“Kau sangat menyukainya, kau tahu itu?” ujar Sehun, sedikit geli dengan tingkah sahabatnya. Jongin hanya menghela napas, tidak merespon. “Oh, aku ada date dengan Yookyung, coba saja kau ajak Naeun.” Ujarnya, mengambil ponselnya dan menghubungi Yookyung, meninggalkan Jongin.

 

*

 

“Pemegang saham adalah………. Son Dahun!” ujar moderator rapat. Semua orang pertepuk tangan dan lelaki berumur setengah abad lebih itu berdiri dari bangkunya, berjalan dengan badan tegap keatas panggung dan dengan tatapan angkuh miliknya. Kim Jongin ikut bertepuk tangan—sedikit dilebih-lebihkan dengan sikap antusiasnya—dan tersenyum ‘senang’.

Mendengar pidato Tuan Son membuat Jongin ingin memuntahkan semua yang ada diperutnya—mengingat ia jarang makan, ia pun bingung apa yang akan dimuntahkannya—namun, mencoba menjadi calon-mantan-menantu yang baik, ia mendengar celotehan omong kosong pria tua itu.

“Hoo-ya…” ia memanggil penjaganya. Hoo menundukkan badannya, mendekatkan kepalanya pada lelaki itu. “Lanjutkan rencana kita.” Bisiknya. Jongin menatap Sehun, lalu menghela napas panjang. Melanjutkan aktingnya. Lalu, ia kembali menatap Son Dahun, yang mengernyit menatapnya, dan tersenyum sopan.

Seorang pembunuh sepertimu, tidak boleh hidup, Son Dahun.

 

*

 

Naeun menatap karyanya dengan senyum sumringah. Ia menyelesaikan lukisannya yang menganggur dari bulan lalu. Gambar seekor kucing tengah tertidur pulas diatas kasur miliknya, dengan benang wol menjalar disampingnya menuju kearah kursi milik tuannya.

Drrt… Drrrt…

Gadis itu mengambil handphone-nya, mengangkat telepon tanpa melihat penelepon aslinya. “Yeoboseyo?(Halo?)” sapanya.

“Naeun-a, Ayah menyuruhmu pulang.” Ujar kakaknya, Dongwoon dari seberang. Naeun mengernyit, ini hari Rabu, ia harusnya pulang hari Sabtu.

“Untuk apa, oppa?” tanyanya.

“Pembatalan pertunanganmu dengan Kai.”

Son Naeun menjatuhkan handphone-nya. “Tidak….”

 

*

 

“Jongin-a, lelaki tua itu benar membatalkan pertunangan kalian.” Ujar Hoo dari saluran telepon. Lelaki gendut itu tengah mendengar percakapan antara Naeun dan Dongwoon, seraya mengerjakan kamuflase keuangan Kim-Oh, juga memperbaiki penyadapannya dirumah Tuan Son.

“Bagaimana…. responnya?” tanya Jongin pelan. Hoo tidak mengerti dengan atasannya ini, untuk jujur mengatakannya. Seorang Kim Jongin, yang ia kenal, adalah seseorang yang tidak pernah mementingkan orang lain—selain pegawai kantornya, dan juga Sehun. Namun, karena gadis bernama Son Naeun ini, ia melihat sisi bosnya yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Takut kehilangan. Rapuh.

Kerap kali ia melihat bosnya itu meneguk vodka ataukah bir biasa, menatap kosong kearah depan. Saat ia menyerahkan beberapa dokumen, ia harus memanggil nama bosnya itu hingga tiga kali. Ia tahu, bahwa ia hanya seorang hacker dan seorang kaki tangan utama bosnya ini. Namun, saat mengetahui gadis itu anak dari orang yang membunuh Ayah bosnya, hatinya ngilu.

Bayangkan saja, kau mencintai seseorang yang merebut sesuatu yang paling berharga bagimu.

Pembunuhan yang dilakukan Son Dahun sangat kejam, dan rapi, tentu saja. Ia sangat ingat hal itu. Bagaimana tidak, ia bekerja sebagai kaki tangan Tuan Kim dan Tuan Oh sejak ia berumur 16 tahun, sekarang saja umurnya sudah 30.

“Aku mendengar ia menjatuhkan handphone-nya, dan sambungan terputus, Bos.” Ujarnya—berusaha tenang. Ia mendengar helaan napas berat Jongin.

“Hoo-ya, amati terus perkembangan mereka sekeluarga. Dan jika lelaki tua bangka itu macam-macam pada putrinya, beritahu aku langsung.” Ujarnya, dan sambungan terputus.

Satu lagi pertanyaan berkecamuk dikepala Sung Hoo.

Apa bosnya ingin Naeun merasakan hal yang sama, dan membiarkan gadis itu membencinya?

 

*

 

“Apa-apaan ini, Ayah?!” Naeun, yang baru saja sampai, langsung bersuara keras seraya melemparkan jasnya. Rambutnya yang awalnya terikat ia gerai, dan kemudian dia menatap ayahnya yang tengah membaca surat kabar dengan tenang—tanpa menatapnya.

“Oh. Kau sudah datang.” Ujar Ayahnya tenang, masih tidak menatapnya. Naeun mendesah kesal.

“Apa maksud ayah membatalkan pertunanganku dengan Jongin?” ujarnya.

“Ayah rasa dia tidak pantas denganmu, Naeun.” Ujar Ayahnya, membalik halaman koran. Naeun mendecak kesal.

“Sejak kapan Ayah tahu siapa yang pantas atau tidak pantas? Bukannya dikepala Ayah hanya ada uang?” sindirnya. Kali ini, Ayahnya menutup koran dan memandangnya.

“Sejak kapan Ayah mengajarimu membalas perkataan orangtua, Naeun?” tanya Ayahnya, ia bisa mendengar nada amarah dari nada Ayahnya.

“Sejak Ayah kembali mengurusi kehidupanku.” Jawabnya tenang. “Semenjak Ayah memutuskan untuk tidak mengaturku lagi, dengan membiarkanku tinggal di apartemenku, hanya karena aku tidak mau menjadi penerus Ayah, aku memutuskan untuk tidak mengikuti permainan Ayah lagi. Namun, karena aku ingin kembali menjadi anak yang berbakti, aku memutuskan menyetujui pertunangan ini. Lagipula, aku dan Jongin memang saling menyukai.” Lanjutnya.

“Dan saat aku sudah sangat menyukainya, Ayah dengan kekuasaan yang Ayah miliki sekarang, memutuskan pertunanganku dengannya. Jadi, katakan padaku siapa yang membuatku menjadi pembangkang?”

“Son Naeun!” hardik Ayahnya. Naeun menghela napas panjang, dan mengambil tasnya.

“Maaf, Ayah. Sekalipun Ayah memutuskan pertunangan ini, aku akan mengusahakan apapun untuk tetap bersama Jongin. Aku bahkan rela menurunkan ego-ku demi dia. Permisi.”

Naeun membalikkan badannya, dan mulai melangkah pergi. Sungguh, ia berharap ayahnya akan menahannya, meminta maaf, dan akan membiarkannya tetap bertunangan. Namun, ia harus bermimpi.

Ia bisa mendengar Ayahnya hanya mengambil korannya kembali dan melanjutkan bacaannya.

 

*

 

Lelaki bajingan!

Jongin—yang mendengar percakapan Son Dahun dan Naeun dari rumahnya dengan sadapan Hoo—hanya bisa mengucapkan sumpah serapah itu lelaki tua itu. Sehun yang ikut mendengarkan, tidak berkomentar dan hanya menyesap cokelat panasnya.

“Dia benar-benar seperti sampah, Putih.” Ujar Jongin. Sehun hanya mengangguk setuju, tidak mengucapkan apa-apa. Hoo yang berada disana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mengerti. “Semuanya hanya untuk uang.”

Jongin melepaskan headshet dari telinganya dan berjalan menuju kursi kerjanya. Ia melihat data-data kamuflase yang sudah ia sediakan untuk Son Dahun selama menjadi pemegang saham tertinggi. “Sehun-a.”

“Ya?”

“Ayo ke makam Ibu dan Ayah besok.”

Sehun mengernyit. Terakhir kali mereka kesana adalah tiga tahun lalu, saat baru masuk SMA. Kenapa sekarang?

“Aku berpikir untuk membunuh Son Dahun, Sehun. Aku harus kesana sebelum aku benar-benar membunuh lelaki bajingan itu.”

“Baiklah, kita kesana besok.”

 

*

 

“Naeun, apa kau melihat Sehun?” Naeun menengadahkan kepalanya dari buku dan melihat Yookyung tengah sibuk mengedarkan pandangannya kearah kantin.

“Aku tidak melihatnya. Kenapa?” tanyanya.

“Dia sudah bolos dua pelajaran hari ini.” Ujar Yookyung. “Ia tidak mungkin masuk rumah sakit seperti kemarin bukan?” nada suaranya terdengar khawatir.

“Aku juga tidak melihat Jong—Kai hari ini.” Ujarnya, hampir menyebut nama asli tunangannya itu. “Mungkin mereka berdua sibuk.” Jawabnya sekena mungkin. Yookyung mengambil posisi disampingnya dan kembali menghubungi Sehun.

“Bahkan ponselnya tidak aktif.” Gumamnya kesal. “Belakangan ini, Sehun terlihat aneh dan lebih pendiam. Sedikit membuatku khawatir karena ia tidak menceritakan apa-apa padaku.” Ujarnya menghela napas. Naeun tersenyum, lalu menutup bukunya.

“Selama dia bersama Kai, aku yakin dia tidak akan kenapa-kenapa.” Ujarnya, tersenyum menatap sahabatnya yang hanya bisa menghela napas dan menganggukkan kepalanya.

Aku harap kau baik-baik saja, Jongin.

 

*

 

“Mereka mengikuti kita, kan?” tanya Sehun, menatap Jongin yang berdiri kaku. Jongin hanya membalasnya dengan anggukan, membuat Sehun menghela napas berat. Ia tidak mempersiapkan senjata hari ini, artinya mereka harus menggunakan tangan kosong. Dua lawan banyak, tidak begitu adil. Apalagi, si tua busuk itu pasti akan mengamunisi anggotanya dengan pistol berkaliber sedikit lebar untuk memungkinkan kematian lebih tinggi. Dan ia sedang tidak enak badan hari ini.

“Sehun, selamatkan dirimu. Biar aku yang menghabisi mereka.”

“Tapi….”

“Kumohon?” pinta Jongin, tanpa menatapnya. Bahunya mengendor, mengartikan ia sudah tidak tegang lagi. Sehun mengangguk pelan dan berjalan kearah kanan, meninggalkan Jongin yang masih berjalan sendiri. Matanya tetap mengawasi lelaki itu sembunyi-sembunyi. Hingga ia melihat Jongin mulai melawan tiga pria tegap yang mendatanginya. Jongin dengan cekatan meninju dan mengelak dari pukulan mereka, dan menghajar mereka semua hingga tumbang, dan mengakibatkan ia meringis kesakitan, apalagi bahunya belum sembuh total.

Sehun keluar dari persembunyiannya dan menendang perut ketiga lelaki itu, memastikan mereka sudah tumbang dan mendatangi Jongin, memapah bahu kirinya. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya. Jongin meringis sebagai jawaban. “Mereka meninjumu disitu?” tanyanya lagi, dan hanya dijawab anggukan Jongin.

Mata Jongin berkunang-kunang. Ia yakin bahunya pasti mengeluarkan darah lagi. Badannya sudah lebam, wajahnya penuh dengan pukulan. Tiga lelaki yang ia lawan tadi pasti salah satu pemegang sabuk hitam tingkat tiga karate.

“Jongin-a? Tetap sadar, oke? Aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Jongin? Jongin!” ujar Sehun, berjalan menuju mobil dan menidurkan Jongin di jok belakang sebelum dia masuk dan memangku kepala lelaki itu. “Ahjuhssi, rumah sakit! Cepat!” ujar Sehun histeris.

Tangannya mencoba mencari dimana pusat darah Jongin keluar, dan kaget saat ia melihat tembakan dibagian perut sebelah kiri lelaki itu. Dengan cepat ia merobek kaus lelaki itu dan berusaha menahan agar tidak banyak darah yang keluar.

Son Dahun menyeringai puas. Dengan bidikan diam dari senapan miliknya, paling tidak ia bisa melumpuhkan lelaki itu selama beberapa saat, sebelum ia membunuh lelaki itu.

 

*

 

Oh Sehun mendorong kasur rumah sakit itu dengan cepat tanpa memperdulikan dokter dan suster yang meneriakinya agar menunggu kedatangan mereka. Ia tidak perduli kalau ia harus membayar satu rumah sakit, asalkan Jongin menjadi prioritas. Egois? Memang. Namun, keselamatan Jongin nomor satu, ia sudah sendiri, ia tidak mau kehilangan Jongin yang notabene adalah harta satu-satunya yang ia punya hingga sekarang.

“Jongin, kau harus sadar, oke? Ayolah, jangan tinggalkan aku!” bentaknya saat ia mendorong kasur itu kedalam ruang operasi dengan kasar, membuat dokter-dokter yang tengah bersiap didalam terkejut. “Selamatkan dia!” teriaknya kasar.

“Maaf, Tuan. Akan ada pasien yang harus kami tangani, silahkan menunggu…”

“AKU BILANG SELAMATKAN DIA!” teriak Sehun, kali ini sambil menangis. Ia berlutut. “Kumohon, selamatkan dia. Aku rela memberikan kalian apa saja, tolong…. hanya dia yang aku punya.” Jika dalam keadaan normal, orang-orang pasti akan mengira ia seorang gay dengan Jongin, namun jika saat seperti ini mereka masih ingin berpikiran demikian, ia sudah tidak peduli. Asalkan Jongin tetap hidup.

“Junkyu, tolong siapkan satu ruang operasi, dan panggilkan dokter Ahn dari anestesi dan dokter Kwon dari bedah.” Ujar dokter itu lagi. Lelaki itu menunduk dan memegang kedua bahu Sehun. “Tunggulah diluar, Tuan. Kami akan menyelamatkan orang berhargamu ini.” Ujarnya.

Sehun melihat name-tag lelaki itu. Kim Sunggyu. Ia akan mengingat nama itu, dan akan berutang budi padanya.

 

*

 

“Jongin-a! Kau tidak boleh mati!” rengek Sehun kecil saat melihat Jongin berdiri didepan sungai yang mengalir deras. Jongin kecil terkekeh dan berjalan, memeluk Sehun. Mereka tinggal berdua, kedua orangtua mereka sudah pergi. Umur mereka masih sepuluh tahun saat mereka memimpin perusahaan berdua. Jika ia ingin mati, bukankah itu wajar?

“Aku janji, Oh Sehun. Kita akan terus bersama. Aku tidak akan mati, dan kau juga tidak akan mati. Karna kita hanya memiliki satu sama lain sekarang.” Ujarnya.

Sehun hanya mengangguk, tersenyum. Ia dan Jongin hanya memiliki satu sama lain sekarang, mereka adalah keluarga sekarang.

 

 

A.N : ADA YANG NUNGGUIN GAK? T_T moga aja ada sih /lah. Semakin menarik gak? Semoga aja semakin menarik ya, pas bagian Sehun-nya saya juga nangis nulisnya, bayangin kalo beneran kejadian sama saya T_T maafin ya, sempet dapet writer-block pas nulis ini :s nama ayahnya Naeun juga itu karangan, aduh maaf kepada Son abeoji >< terusss, btw, doain ya biar lulus sbmptn kalo gak simak-ui!!! Sungguh saya sedang deg”an : ( oke segitu aja dulu curhatan saya, sampai bertemu di chapter selanjutnya! Love, zeya

Advertisements

One response to “CRUEL [PART 4]

  1. Pingback: CRUEL [PART 5] | jolie fille·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s