Cruel [Part 3]

crueledit2

CRUEL

Title : Cruel

Author : Zeya

Genre : slight of romance and angst-mystery-mafia!au

Length : Chaptered

Cast(s) : EXO-K’s Kai | APINK’s Naeun | other casts

Poster Credit : parkkyungjin@parkkyungjin@wp

Disclaimer : Saya gapunya castnya, punyanya cuman storyline sama copyright atas fanfic ini. Saya gaperlu tanggapan bash kalian soal Kai-Naeun, soalnya fanfic ini pure karena kecocokan karakter mereka untuk fanfic yang saya bikin sekarang. Kalau gasuka pairing ini, mending jangan dibaca. Ini hanya untuk have fun bukan?:-) Semoga menyukai fanfic ini, comments are really appreciated!

 

©ZEYA 2013

.

.

 

It seems like fate is so cruel that people always trying to get rid from it.

“Naeun-a.” Gadis itu membuka matanya. Sudah berapa lama ia tertidur di cafe milik Kyungsoo? Gadis itu menggerling menuju asal suara dan menemukan Yookyung berdiri memandanginya khawatir.

“Yookyung? Kenapa kau bisa berada disini?” tanyanya, memperbaiki duduknya dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Sehun menyuruhku kesini, menemanimu. Ia sedang menemani Kai.” Tuturnya. “Kau kenapa bisa disini?” tanyanya. Naeun mengendikkan bahunya.

“Aku tidak tau, sungguh. Tiba-tiba saja, Kai menyuruhku berlari dan tidak memandang kebelakang. Menyuruhku kesini. Ini cafe pertama yang kulihat dan aku segera masuk saja, dan aku bertemu dengan Kyungsoo sunbae.” Jelasnya. “Kai ada dimana?”

“Entahlah, Sehun belum menghubungiku sama sekali. Hanya saja, ia bilang aku harus ada disini secepatnya. Naeun, kau tidak apa-apa kan?” tanya sahabatnya itu. Naeun menggeleng. Gadis itu menghela napasnya panjang.

Selang beberapa menit dalam diam, nada dering telepon Naeun berbunyi, membuatnya terlonjak dan segera mengambil handphone-nya dari saku jasnya. “Jongin?” ujarnya, kaget.

“Hey.” Naeun menghela napas panjang saat mengetahui pemilik suara itu. “Kau sudah bersama Yookyung?” tanyanya.

“Mm..” jawabnya. Mata gadis itu memanas. “Kau, tidak apa-apa?” tanyanya. “Apa yang terjadi, tadi?” tanyanya, sedikit takut-takut untuk bertanya.

“Naeun.” Pemilik suara itu menghela napas panjang. “Selamat ulangtahun.” Gadis itu mengangguk-angguk kecil. “Maafkan aku tidak bisa memberimu hadiah yang jauh lebih baik. Pulang kerumah bersama Yookyung, ya? Aku akan menghubungimu nanti.” Ujarnya.

“Jongin.” Ujar gadis itu. “Tadi itu hadiah terbaik yang pernah aku dapatkan selama ini.” Ujarnya. Hal itu tidak bohong. Untuk pertama kalinya, ulangtahunnya terasa begitu berarti. “Terima kasih.”

 

*

 

Kim Jongin harus membalut bahunya untuk 3 minggu yang artinya dia akan sulit melakukan aktivitas selama minggu-minggu tersebut, dan berarti penderitaan. Ia harus berbohong pada semua teman-temannya kalau dia mengalami cidera parah. Dan Naeun harus menatapnya diam-diam dengan tatapan penuh minta maaf. Setiap kali mereka berada dikelas yang sama, gadis itu akan duduk sendiri ditempat yang jauh darinya.

“Naeun.” Kali ini, Jongin menarik tangan gadis itu, membuat gadis itu berbalik dan menatapnya. “Kau menghindariku.” Ujarnya.

“Aku… tidak menghindarimu.” Gadis itu menghela napas. “Aku merasa bersalah, Jongin.” Tuturnya, menatapnya sedih. “Aku merasa karena akulah kau bisa seperti ini.” Ujar gadis itu. Jongin terkekeh dan memegang bahu gadis itu, walaupun menyebabkan bahunya sedikit sakit.

“Son Naeun.” Panggilnya, jelas. “Ini bukan salahmu. Hanya saja, ada banyak hal yang belum kau dan Yookyung dan anggota lain ketahui tentang aku dan Sehun.” Ujar lelaki itu, memaksakan dirinya tersenyum.

“Aku janji tidak akan memberitahu siapa-siapa. Aku… maaf, mungkin aku terlalu penasaran.” Sela gadis itu.

“Naeun-ah. Aku janji akan memberitahumu nanti. Jika waktunya sudah tiba.” Ujar lelaki itu. Naeun hanya mengangguk pasrah dan lelaki itu merangkulnya dengan tangan yang tidak luka. “Ayo, ke kantin. Aku sangat lapar.” Ujar lelaki itu. Naeun hanya kembali mengangguk.

“Jongin, kenapa kau bisa mengenal ayahku?” tanya Naeun saat mereka berdua berjalan berdampingan menuju kantin. Jongin hanya mengendikkan bahunya. “Jawaban apa itu!” tawanya seraya memukul pelan lengan lelaki itu.

“Ayahku, ayahmu, dan ayah Sehun berteman dekat. Dulu. Begitulah yang almarhum ayahku katakan dulu. Dia bilang Ayahmu sangat hebat. Tapi, sejujurnya, aku tidak tau kalau kau adalah putrinya.” Ujar Jongin, matanya menatap ke seantero cafetaria—mencari kursi kosong, dan segera menarik Naeun duduk disalah satu meja yang berada di pojokan dekat jendela.

“Maksudmu?” tanya Naeun seraya melepas tasnya dan membuka buku menu.

“Ayahmu dulu menawarkanku untuk dijodohkan denganmu.” Ujar lelaki itu polos. Naeun menatap lelaki itu tidak percaya. “Ya! Muka macam apa itu? Begini-begini aku terkenal, kau tau.” Ujarnya.

“Ani… Hanya saja aku tidak percaya, kau…. HAHAHAHA..” tawa gadis itu meledak dan ia tertawa terpingkal menatap lelaki itu. “Aku tidak percaya ayahku benar-benar niat menjodohkanku. Walaupun itu untuk bisnis tapi tetap saja..” ujarnya, masih tertawa-tawa.

“Oh, kalian hanya berdua? Mana yang lain?” seorang kingka menyapa mereka saat melewati meja mereka berdua. “Naeun-ah, annyeong!” Naeun segera membungkuk hormat.

“Kris hyung, kau melihat Sehun?” tanyanya. Kris menggeleng dan segera berlalu. “Sial. Kemana bocah itu?” Jongin mengambil telepon genggamnya dalam saku celana dan men-dial dari speed-dialnya.

“Jongin. Tenang.” Ujar Naeun, menatapnya seraya mengecek handphone-nya, menunggu berita dari Yookyung. “Aku yakin Sehun baik-baik saja.”

“Dia tidak muncul selama satu minggu. Aku tidak bisa baik-baik saja, Naeun.” Jongin menggeram. Lelaki itu men-dial beberapa digit nomor. “Hoo-ya, Sehun?” ujarnya. “Hah?”

 

*

 

Lelaki berkulit putih susu itu terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Tidak ada banyak selang, hanya infus yang berfungsi mengembalikan stamina-nya, wajah lelaki itu semakin putih. Keheningan menyelimuti ruangan itu. Belum ada yang mengunjunginya, semenjak ia berada dirumah sakit itu selama 4 hari.

Pintu ruangannya berdecit pelan. Seorang lelaki yang berkulit tidak terlalu putih masuk dan memperhatikan lelaki yang terlelap itu, diikuti seorang gadis yang berjalan dibelakangnya. Mereka berdua hanya berjalan pelan menuju ranjang lelaki itu, lalu gadis itu meletakkan makanan diatas meja disamping ranjang.

“Sehun-a.” Gumam lelaki itu. “Maaf, aku baru tau kau masuk rumah sakit, uh?” ujar lelaki itu, menghela napas panjang. “Aku lupa mengingatkanmu mengenai check-up bulananmu, maaf.” Lelaki yang tampak tegar itu benar-benar berusaha menahan airmatanya.

Son Naeun memperhatikan scene itu dengan seksama tanpa memberi respon apa-apa. Gadis itu hanya mengingat apa yang lelaki itu katakan tadi siang setelah menelepon temannya.

“Sehun menderita penyakit kelainan jantung sejak kecil. Karna itulah aku harus memperhatikan jadwal check-upnya, tidak menyuruhnya banyak berkelahi karena akan menganggu kerja jantungnya. Karna dia satu-satunya orang yang aku miliki sekarang, aku harus menjaganya.”

Lelaki berkulit putih susu itu membuka matanya perlahan dan menoleh. Senyum tipis mengembang di bibirnya. “Hey, hitam.” Ujarnya, berusaha mengeluarkan suara sekuat yang ia bisa. Kali ini, Naeun bergerak mengambil air putih dan memberikan sedotan agar lelaki itu bisa meminumnya. “Terima kasih, Naeun.”

Lelaki itu hanya mengangguk. “Kenapa, Sehun?” tanyanya. Sehun menggeleng pelan. “Kau merasa baikan?” tanyanya lagi. Sehun hanya mengangguk pelan. “Mian, Sehun-a.”

“Jongin-a.” Oh Sehun menatapnya. “Bukan salahmu.” Ujarnya parau. “Belakangan ini, aku… memang sibuk.”

“Sehun, aku membawakanmu buah. Kau mau?” Naeun menyelip dalam pembicaraan mereka, membuat suasana sedikit mencair. Sehun mengangguk.

“Yookyung?” tanyanya.

“Ayahnya menyuruhnya ke Amerika. Dia pewaris, kau ingat?” senyum Naeun. Sehun hanya mengangguk-angguk bodoh dan menutup matanya.

“Hitam, tanyakan detail yang kau minta padaku dari Hoo.”

 

*

 

Kim Jongin menatap pigura besar yang berada diruang tengah. Foto itu berisi foto dirinya, ayahnya, dan ibunya. Ia ingat saat itu ia masih berumur 4 tahun, ayahnya memaksa dirinya dan ibunya untuk berfoto bersama. Ia juga ingat biaya saat itu sangat mahal karena ayahnya ingin foto keluarga itu sangat spesial. Ini harus diabadikan, karena ini kali pertama kita berfoto keluarga, ujar ayahnya.

“Appa, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan lagi setelah ini.” Ujarnya, menahan airmata. “Apakah appa tau? Ahjuhssi yang ayah banggakan itu….” hening sejenak, Jongin menatap wajah tersenyum ayahnya. “Dia yang merusak semuanya. Dia yang merebut nyawa ayah dan ibu, juga ayah dan ibu Sehun.”

“Appa….” ujarnya lagi. “Dia ayah dari gadis yang aku sukai appa.” Jongin menyeka sudut matanya yang tergenang air.

“Hoo-ya, Sehun menyuruhku mencarimu.” Ujar Jongin saat ia sudah mengantar Naeun sampai dirumahnya. “Kau punya semua informasinya?”

“Ya. Lelaki di Dongdaemun itu berasalah dari Sungsadong, tempat kerja buruh. Atasan utama mereka…..” ujar Hoo, menghentikan kalimatnya. “Tuan Son, relasi ayahmu, Kai.”

Jongin melempar bantal yang berada tepat disampingnya. “Tuan Son, aku harus membalaskan dendam ayahku dan ayah Sehun. Kau harus menanggung semuanya.”

Jongin menyetir mobil miliknya menuju rumah keluarga Son dengan topengnya. Ia tidak boleh menunjukkan kebenciannya pada lelaki itu, pikirnya. Mempersiapkan matang-matang, ia menekan bel rumah tersebut, dibuka oleh putra sulungnya.

“Siapa?” tanyanya. “Ah, Naeun. Dia sedang tidak dirumah, ia di apartemen.” Ujarnya. Mereka tidak tinggal bersama?

“Saya ingin bertemu dengan Tuan Son, jika anda tidak keberatan.” Ujar Jongin. Lelaki itu menatapnya, lalu membuka pintu lebih lebar—mempersilahkannya masuk.

“Tunggu, ayah sedang berada dikamarnya.” Ujar lelaki itu dan berjalan meninggalkannya diruang tamu yang besar itu sendirian. Jongin memperhatikan dengan seksama ruang keluarga itu, melihat foto masa kecil Naeun.

“Oh, Kai!” lelaki itu segera berbalik dan melihat Tuan Son sudah berjalan mendekatinya, kakak Naeun sudah menghilang, melangkahkan kakinya kelantai atas. “Aku senang mendengar kau datang kerumahku yang tidak ada apa-apanya ini. Duduk.” Ujar Tuan Son yang diangguki oleh Jongin.

“Son sajang(Tuan Son).” Ujar Jongin, memulai pembicaraannya. Lelaki yang berumur lebih dari setengah abad itu tertawa mendengar panggilannya.

“Abeonim(ayah). Panggil saja dengan sebutan itu.” Ujar Tuan Son, membuat darah diseluruh tubuh Jongin berdesir hebat, mengeluarkan amarah yang sangat besar saat melihat lelaki itu berbicara seakan tidak memiliki kesalah apa-apa. Sadar, ia segera tertawa, merespon.

“Tentu saja, abeonim.” Ujarnya. “Saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda…. mengenai Naeun.” Ujarnya, pelan. Tuan Son menatapnya, sedikit tertarik dengan topik yang ia angkat. “Saya menyukai putri anda, abeonim.”

Maaf, Naeun.

 

*

 

Son Naeun menyukai tinggal di apartemen sendirian. Itu artinya ia bebas dari ayahnya. Ia yang notabene tidak ingin berkecimpung didunia bisnis, harus senang. Mengobati orang adalah cita-citanya sejak kecil. Ia suka bau rumah sakit, ia suka suasana sepi rumah sakit. Ia suka semua tentang rumah sakit. Bahkan ia berusaha supaya sakit agar bisa menghirup udara rumah sakit.

Handphone-nya yang berdering membuyarkan lamunannya mengenai rumah sakit. “Oh, oppa.” Ujarnya saat menekan tombol hijau. “Ada apa?”

“Berita buruk atau bagus?” ujar abangnya. Gadis itu mengeluarkan keluhan pelan. “Baiklah. Berita buruk, kau akan dijodohkan.” Baru saja gadis itu akan memberontak, abangnya sudah melanjutkan kalimatnya. “Berita baiknya, lelaki itu Kai.”

Son Naeun terdiam. Ada apa dengan Jongin? Apa lelaki itu tau mengenai ini? Kenapa ia dijodohkan dengan lelaki itu, lagi?

“Oppa, kenapa….?” gadis itu tidak mampu melanjutkan kalimatnya. “Aku akan kerumah besok.” Ujarnya akhirnya, memutus hubungan telepon.

Sebuah pesan teks masuk.

Sender : Jjongin

Kau sudah dengar?

Kening gadis itu berkerut. Apa Jongin juga baru mendengar hal ini? Apa ini artinya ayahnya serius? Dengan mengetahui dirinya berteman dekat dengan Jongin, apa ayahnya benar-benar akan menjodohkan mereka?

Receiver : Jjongin

Sudah. Bagaimana ini?

Gadis itu berjalan malas menuju dapur dan menuangkan air putih dalam mug-nya. Seraya menunggu balasan lelaki itu, gadis itu me-refresh akun socmed miliknya, dan handphone-ya kembali bergetar.

Sender : Jjongin

Aku mau. Joha-hae, Naeun.

 

*

 

Kim Jongin menatap sahabatnya yang sedang menatap layar televisi masih dengan wajah yang pucat. Lelaki itu masih belum mendapat kondisi yang stabil. “Sehun-a.” Lelaki yang menjadi pasien itu menatapnya. “Aku akan membalaskan dendam ayah kita.”

“Kau tidak akan menyakitinya, kan?” tanya Sehun. Lelaki itu menghela napas panjang, lalu menarik napas lagi. “Aku tahu kau menyukainya, Jongin.” Lanjut lelaki itu. “Aku tahu kau mau membalas dendam karena ayahnya. Jangan sakiti dia.” Ujar Sehun lagi.

“Aku harus melakukan apa, Sehun? Membiarkan ayahnya mencari cara untuk membunuh kita berdua dan mengambil harta kekayaan kita? Aku tidak terlalu peduli dengan hartaku, tapi aku tidak mau mati hanya karena uang.” Jelas Jongin.

“Sehun. Hanya ini satu-satunya cara agar dia sadar. Aku janji, aku akan menyelesaikan sisanya.” Ujar Jongin. Lelaki yang berwajah pucat itu hanya bisa mengangguk, tidak tahu harus merespon apalagi untuk sahabatnya.

 

*

 

Son Naeun malam ini memakai dress favoritnya yang berwarna hitam dan heels hitamnya. Rambutnya ia gerai lurus tanpa pernak pernik apa-apa. Wajah bayinya ia lapisi dengan bedak tipis dan gincu berwarna merah tipis. Kali ini, ia berpenampilan cantik untuk bertemu dengan lelaki yang dijodohkan dengannya. Kim Jongin.

Kali ini ia tidak bisa bertingkah dekat dan informal dengan Jongin. Kali ini ia harus bersikap seperti ia hanya beberapa kali bertegur sapa dengan Jongin, walaupun ia berada di fakultas yang sama dengan lelaki itu.

“Naeun, ayahmu sudah memanggilmu.” Ibunya menyelipkan kepalanya masuk kekamarnya dan menatapnya. “Anak perempuan ibu cantik sekali malam ini.” Ujar ibunya. Naeun menggerling—berpura-pura kesal.

“Terima kasih, bu.” Ujarnya, kembali menatap ke cermin dan memperhatikan penampilannya malam ini. Bukankah dia juga menyukai Jongin, walaupun tidak sedalam itu? Kenapa ia harus menolak perjodohan ini?

Tidak ingin berpikir rumit, ia segera berjalan menuju pintu dan membukanya, ibunya masih menatapnya sambil tersenyum—matanya terlihat seperti menahan airmata agar tidak jatuh. “Ibu, ayo.” Ujarnya, membuyarkan lamunan ibunya. Ibunya segera mengangguk dan berjalan bersama dirinya. Saat kakinya melangkah turun dari tangga, ia menemukan Jongin duduk bersama Sehun yang masih terlihat pucat, dan berbincang bersama ayahnya. Saat lelaki itu menatap keatas dan melihatnya, lelaki itu hanya mengedipkan matanya dan kembali menatap ayahnya.

Untuk sepersekian detik, Naeun merasa bahwa ia tidak bernapas tadi.

 

*

 

Gadis itu memukaunya.

Tidak ada kata yang bisa dideskripsikan oleh Kim Jongin saat matanya tidak sengaja menggerling kearah Naeun. Dari semua gadis yang pernah ia ‘mainkan’ saat berada di bar, ataupun gadis-gadis yang pernah kencan dengannya.

“Oh, putriku sudah turun. Dia makin cantik, bukan?” ujar Tuan Son. Kalau saja lelaki tua bangka itu tidak bicara, aku mungkin sudah bisa memuji Naeun lebih daripada yang ia katakan, umpat Jongin seraya tersenyum palsu pada ayah gadis itu. “Kalau begitu, mari kita makan.”

“Sehun, kau mau kupapah?” ujar Jongin, menatap sahabatnya yang sedari tadi hanya diam mengikuti arah pembicaraan dengan senyum. Lelaki itu hanya menatapnya dan tidak merespon apa-apa. “Harusnya kau menjawab ‘ya’, bodoh.” Ujarnya, mengangkat lelaki itu dan memapahnya menuju meja makan.

“Kenapa kau membawa Sehun kalau dia masih sakit?” bisik Naeun saat melewati Jongin. Jongin hanya terkekeh kecil.

“Dia memaksaku untuk membawanya. Dia sama sekali tidak memperhatikan keadaannya, kau tahu?” bisik Jongin, menepuk bahu sahabatnya yang duduk sambil terkekeh kecil. Naeun mendengus lalu tertawa.

Tuan Son mengetuk gelas tingginya dengan garpu, membuat semua orang menatapnya. “Hari ini, acara makan malam kali ini, dibuat untuk meresmikan pertunangan Kai dan Naeun.” Semua orang yang berada diruangan itu bertepuk tangan, teman-teman kingka Kai dan Sehun juga ikut bertepuk tangan dan bersorak-sorak, Yookyung juga ada disana.

“Selamat menikmati hidangan malam ini.” Ujar Tuan Son lalu kembali duduk. Beberapa tamu menyelamati mereka berdua yang duduk bersampingan. Jongin dan Naeun hanya tersenyum-senyum mendengar ucapan tamu yang datang. Kingka-kingka yang lain menyeru-nyerukan nama mereka berdua, meledek mereka berdua seraya menyelamati mereka.

“Oah, artinya kau tidak boleh bermain di bar lagi, Kai.” Ujar Kris dan Chanyeol, yang direspon oleh tawa anggota lainnya. “Aku yakin Naeun tidak akan setuju melihatmu di bar seperti dulu.” Ujar Luhan dan Xiumin seraya meneguk jusnya.

“Aku tidak masalah kalau dia mau ke bar.” Ujar Naeun yang muncul bersama Yookyung. “Lagipula aku yakin tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikanku.” Ujarnya, yakin. Kai merangkulnya dan menjitak kepala gadis itu.

“Apa kalian selama ini sudah jadian dibelakang kami?” selidik Yixing, seraya memasukkan kue kedalam mulutnya—mengunyahnya. Kai dan Naeun tertawa, tidak merespon. “Ah, aku yakin aku benar!” ujar Yixing lagi.

Yookyung memilih duduk bersama Sehun, menemani lelaki yang masih belum pulih benar itu. Ia berdiri dibelakang lelaki itu, diam. Sehun sesekali menimpali pernyataan teman-temannya dan tertawa bersama. Yookyung memperhatikan postur lelaki itu. Lelaki itu tampak lelah dengan semuanya. Kenapa?

“Jangan memperhatikanku seperti itu.” Gumam Sehun, menengadah menatapnya. “Nanti kau makin suka.” Yookyung terkekeh, diikuti oleh lelaki itu. “Kau iri dengan Naeun?” tanya lelaki itu. Yookyung terdiam. Iri? Selama hidupnya, ia selalu merasa dirinya sama dengan Naeun. Ia tidak akan pernah iri dengan gadis itu, karena ia dan gadis itu sama. Kali ini, ia benar-benar senang. Son Naeun, gadis yang cantik itu, menemukan kebahagiaannya.

“Aku tidak iri. Hanya saja, aku senang. Ia menemukan kebahagiaan yang ia cari. Kai bisa memberikannya. Aku yakin.” Kali ini, Sehun tertegun. Dadanya sesak mendengar pernyataan gadis itu. Bagaimana kalau gadis itu tahu segalanya? Apa mereka masih bisa dekat seperti ini? Apa dirinya masih bisa mengutarakan perasaannya?

“ Yookyung-a!” suara Naeun membuat dirinya dan gadis itu berbalik. Gadis itu—yang tengah dirangkul oleh Kai, memanggilnya. “Ayo, kita berfoto bersama.” Ujarnya. Yookyung menatap Sehun yang segera mengangguk. “Kau juga, putih.” Ejek Naeun, mengikuti Kai memanggilnya dengan sebutan ‘putih’.

“Ayo, aku akan memapahmu.” Ujar Yookyung. Sehun segera menggeleng. “Eh, kenapa?”

“Aku harus merangkulmu, bukan kau yang merangkulku.” Ujar Sehun, yang membuat pipi Yookyung mengeluarkan semburat merah. “Tidak usah malu seperti itu. Hanya membutuhkan beberapa langkah lagi, kan?” tanya Sehun.

“Ya, beberapa langkah lagi.” Balas Yookyung.

 

*

 

Son Naeun menduduki kursi taman dan menghela napas panjang. Malam ini sudah menjadi malam yang panjang sekali baginya. Ia memejamkan matanya, membiarkan matanya beristirahat sejenak. Dan ia segera membuka matanya saat merasakan kursinya bergoyang.

“Kau mengganggu tidurku, kau tahu?” ujar Naeun saat melihat Jongin sudah berada disampingnya, menatapnya. “Apa?”

“Tidak.” Ujar Jongin, memperbaiki duduknya dan menatap kelangit. “Kau tidak kecewa?” tanyanya. Naeun terdiam. Kecewa? Ia dan Jongin mungkin tidak pernah mengucapkan kata suka, tapi… bukankah sorotan mata mereka berdua sudah jelas?

“Baiklah, aku menyukaimu sejak aku melihatmu berjalan memasuki kampus. Mungkin awalnya aku cuma tertarik, tapi…. maksudku, aku bukan stalker hanya saja aku memang tidak tahu kau juga jurusan kedokteran, lalu aku melihatmu dikelas pertama…”

Son Naeun tersenyum seraya menahan haru mendengar pernyataan tunangannya itu. Sungguh, ia tidak tahu sama sekali mengenai ini. Ia sendiri tidak tahu kapan ia menyukai lelaki itu. Yang ia tahu, laki-laki itu sudah membuatnya senang.

“Kau mau menjadi pacarku?” tanya lelaki itu akhirnya. Son Naeun tersenyum malu-malu.

“Ya, aku mau.”

 

*

 

Malam itu, Kim Jongin menghabiskan puluhan lembar tissue—menangis.

 

*

 

Berita pertunangan mereka sudah menyebar. Semua mahasiswa SNU tampak membincangkan mengenai pertunangan mereka yang secara tiba-tiba. Maksudnya, mereka saja baru berkenalan semasa kuliah yang baru selesai semester 1. Ada yang mengatakan mereka dijodohkan, ada juga yang mengatakan mereka sebenarnya sudah saling mengenal bahkan sebelum ini.

“Kau tahu, aku paling tidak suka dibicarakan di kampus.” Ujar Naeun saat ia dan Jongin tengah berada di kantin, sibuk memakan bekal masing-masing—dan saling mencomot makanan satu sama lain.

“Aku suka dibicarakan. Aku terkenal, bukan?” ujar Jongin seraya mengedipkan matanya dan tertawa. Son Naeun mendengus.

“Hidupmu memang penuh dengan kepercayaan diri yang berlebihan, Kai.” Ujar Naeun, menggelengkan kepalanya.

“Hitam!” ujar Sehun yang berjalan cepat kearah mereka. Mengalami peningkatan kesehatan membuat lelaki berkulit putih susu itu merasa bisa beraktivitas yang aneh-aneh. Yookyung sendiri harus menemani lelaki itu, sebelum lelaki itu pingsan karena kelelahan.

“Oh, putih!” ujar Jongin, yang segera menepuk kursi disampingnya, mempersilahkan lelaki itu untuk duduk. “Yookyung-a, halo!” sapa Jongin. Yookyung terkekeh seraya menyapa lelaki itu dan duduk disamping Naeun.

“Kau tidak lupa hari ini ada rapat pemegang saham, bukan?” ujar Sehun. Jongin menepuk dahinya, menyatakan bahwa ia memang melupakannya.

“Aku lupa. Kau sudah menyiapkannya?” tanyanya pada Sehun, lelaki putih susu itu segera mengangguk. Kim Jongin menghela napas panjang. Kali ini, ia tampak tidak berkonsentrasi dengan bekalnya. Tangannya mengetuk-ngetuk meja, dan napasnya tidak beraturan.

Dan Son Naeun menyadarinya.

 

A.N : Maaf, ya!!! Update-an kali ini sudah lama pendek pula T_T hal ini disebabkan ujian akhir yang numpuk sehingga otak udah gak mampu bikin alur cerita yang lebih baik T_T huhuhu, maafin Zeya ya? Oh, semoga di chapter ini semua feel-nya dapet, soalnya Zeya berusaha nyari inspirasi beberapa bagian dari lagu dan kawan-kawan. Nanti, bakal ada side-story buat Sehun-Yookyung kok. Kalau kalian mau juga sih… Tapi, mohon komentar dan sarannya>< semoga ceritanya gak makin boring ya T_T

 

Advertisements

3 responses to “Cruel [Part 3]

  1. Pingback: CRUEL [PART 5] | jolie fille·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s