But You Didn’t

butyoudidnt

Title : But You Didn’t

Author : Zeya

Genre : Fluff, AU, Angst, Slice of Life

Length : Drabble(s)/Ficlet

Casts : Kim Jongin | Son Naeun

Disclaimer: Based on this poem and some things made up by myself. I don’t own all the characters, except the fictional one.

.

.

©ZEYA 2014

I remember borrowing your new branded car, and dented it. I thought you’d going to kill me, but you didn’t.

 

“Jongin-a! Aku pinjam mobilmu, ya?” rengek seorang gadis yang tengah menggelayut manja dilengan seorang laki-laki yang sedang meneguk cokelat panasnya.

“Hah? Mobil baruku itu? Kau belum bisa membawa mobil, Naeun!” hardiknya pelan. Gadis itu menghela napas panjang, lalu mengerucutkan bibirnya.

“Ayolah, Jongin. Biarkan aku belajar mengendarai mobil dengan mobil barumu. Mobilmu bagus sekali, kau tahu?” ujarnya. Jongin menggeleng pelan. Ia tidak bisa membiarkan mobil ‘ford’ baru miliknya yang baru bersamanya selama dua minggu, berada ditangan Naeun. Namun, jika gadis itu mulai merengek, dan berakhir dengan gerutuannya—ia bersumpah itu sangat mengerikan, dan berakibat fatal pada hubungan mereka.

“Baiklah, tapi tidak dijalan besar. Ayo, kita ke tempat latihan menyetir.” Ujar Jongin, menghabiskan cokelat panasnya dan bangkit berdiri. Naeun mengekorinya, masih bergelayut.

“Terima kasih, Jongin!” ujar Naeun, mengecup pipi kanannya. Jongin hanya terkekeh, dan merangkul gadisnya.

Perjalanan menuju tempat latihan menyetir membutuhkan waktu sepuluh menit. Jongin membuka pintu mobilnya, dan membiarkan Naeun masuk. Ia berjalan menuju bangku, dan memperhatikan kelakuan gadis itu. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, memegang setir, dan mencoba menekan padel.

Hingga mobil itu tiba-tiba ter-gas, dan melompat hingga menabrak pohon. Kap mobil itu peyok. Jongin segera berlari, membuka pintu kemudi, dan melihat Naeun menatapnya dengan rasa terkejut. Lelaki itu segera menarik gadis itu, tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang memperhatikan mereka.

“M-maafkan aku…” ujar gadis itu pelan. Naeun takut Jongin akan membunuhnya karena merusak mobil ‘ford’ barunya itu, sungguh ia tidak sengaja menekan gas dan membuat mobil itu melompat. Airmata mulai terbentuk dipelupuk matanya, berusaha keluar. “A-aku tidak sengaja…” ujarnya lagi, masih tidak berani menatap kekasihnya.

“Son Naeun. Lihat aku.” Ujar lelaki itu dengan suara baritonnya yang khas. Naeun menengadahkan kepalanya, dan—Jongin tersenyum? “Aku lega kau tidak apa-apa.” Ujarnya, merengkuh gadis itu dalam pelukannya. “Kau prioritasku, kau tahu itu bukan?”

Naeun memeluk lelaki itu seerat mungkin, seperti tidak mau kehilangannya. Gadis itu hanya mengangguk dan terisak, membuat Jongin membelai rambutnya. “Aku mencintaimu, Jongin.” Bisiknya.

 

*

I remember the time I spilled your favourite hot chocolate on your favourite white t-shirt? I thought you’d going to yell at me, but you didn’t.

 

“Jongin-a! Aku membuatkanmu cokelat panas!” ujar Naeun dari arah dapur. Lelaki itu tersenyum. Hari ini hari jadi mereka yang keempat, dan Jongin memutuskan untuk menikmati hari pekan diapartemen kekasihnya itu.

Naeun berjalan keluar dari walk-in kitchen-nya, menuju kearah Jongin. “Kau tahu, aku baru saja mencoba cokelat…. uwah!” Naeun memekik saat kakinya terpeleset, membuat keseimbangannya hilang, dan akhirnya terjatuh. Gelas cokelat panas itu terlempar, dan isinya jatuh dibaju putih Jongin.

Jongin dan Naeun saling bertatapan. Mereka berdua basah terkena dua gelas cokelat panas. Naeun merasakan matanya panas, itu baju kesayangan Jongin, rutuknya. Ia tahu ia akan terkena masalah sekarang. Gadis itu bangkit dan meraih Jongin, membersihkan wajah kekasihnya itu.

“Maafkan aku, aku tidak sengaja terpeleset. Maafkan aku, baju kesayanganmu kotor.” Ujarnya, menggumamkan kata maaf berulang-ulang kali. Jongin terkekeh. Tangannya meraih wajah Naeun dan mengecup bibir kekasihnya berulang-ulang kali.

“Ada yang lebih penting daripada baju bergambar serigala ini, Naeun.” Ujarnya, meraih kantong celananya dan mengambil boks kecil berwarna putih, lalu membukanya didepan wajah gadis itu. Sebuah cincin berlian—yang tidak besar namun sanggup membuat Naeun terpana. “Menikahlah denganku.”

Naeun mengangguk berkali-kali seraya tersenyum lebar kepada kekasihnya itu. Dan untuk pertama kalinya, Naeun meraih kerah kaus lelaki itu, mencium lelaki itu tepat dibibirnya. “Aku mencintaimu.” Ujarnya.

 

*

Remember the time when we were in your resort after our wedding, I fell asleep before our first night. I thought you’d be dissapointed at me, but you didn’t.

 

Naeun menghela napas panjang, dan melihat cincin dijemarinya. Ia sekarang resmi menjadi istri seorang Kim Jongin, menjadi Ny. Kim. Gadis itu menoleh, melihat kearah pantai dan tersenyum. Jongin memilih tempat yang pas, komentarnya.

Mata Naeun mulai mengerjap-ngerjap, dan ia tahu kantuk tengah melandanya. Ayolah, ini ‘malam pertama’-nya, bukankah ia harus memenuhi tugasnya sebagai seorang istri? Naeun mengerjapkan matanya, berusaha tetap sadar. Kemana Jongin, pikirnya. Suaminya itu belum sampai di kamar mereka berdua, membuat Naeun bosan dan beberapa menit kedua sudah berada di dunia mimpi.

Jongin memasuki kamarnya, melihat istrinya sudah terlelap dan terkekeh. Ia juga merasa lelah, walaupun otak mesumnya sudah bekerja sedari tadi, ia memilih untuk tidur disamping istrinya, memeluk pinggang gadis itu dan ikut memasuki alam mimpi.

“Ya Tuhan, Jongin, maafkan aku.” Ujar Naeun paginya. “Bukan aku tidak mau menjalankan tugasku sebagai seorang istri tapi aku sangat lelah tadi malam.” Ujarnya dengan nada kecil, ia tahu ia telah mengecewakan Jongin dengan tertidur. Namun, Jongin hanya tertawa dan memeluknya.

“Aku juga langsung tidur tadi malam, Ny. Kim.” Bisik Jongin, membuat pipi Naeun bersemu merah. “Tapi, karena kita berdua sudah segar, haruskah kita melaksanakannya?” ujar Jongin lagi. Sebelum Naeun menjawab, Jongin sudah melumat bibir istrinya itu.

Naeun hanya bisa membalas perlakuan suaminya dengan pasrah. “Aku mencintaimu.” Ujarnya disela-sela ciuman mereka.

 

*

There was a lot of thing you didn’t do, but you put it up with me. You love me, protect me.

 

“Jongin, aku ada kejutan untukmu.” Ujar Naeun saat gadis itu menyambut suaminya setelah lelaki itu pulang dari kantornya. Jongin merangkulnya, mengajaknya menuju dapur dan duduk dibangku, membuka penutup makanan dan melihat istrinya memasakkan dirinya samgyupsal dan ayam goreng.

“Apa?” tanyanya, tertarik. Naeun tidak pernah memberinya kejutan—mungkin pernah, namun ia tidak pernah segembira ini.

“Aku hamil!” serunya. Jongin membulatkan matanya. Tidak percaya. Naeun tersenyum, memamerkan gigi-giginya.  Jongin segera merengkuh gadis itu dalam pelukannya, seerat-eratnya. “Kau bahagia?” bisik Naeun.

“Tidak akan pernah sebahagia ini.” Balas Jongin, mencium bibir gadis itu lama. “Terimakasih. Terimakasih karena akan memberikan aku hadiah yang paling indah didunia ini.” Ujarnya, lalu kembali mencium Naeun.

“Aku mencintaimu.” Respon gadis itu. Dan Jongin merawatnya selama ia hamil, memperlakukannya seperti seorang putri dari negeri dongeng

Hingga sembilan bulan kemudian, Naeun melahirkan seorang bayi laki-laki yang ia beri nama Sanghoon. Kim Sanghoon. Jongin membelai rambut istrinya yang dipenuhi peluh setelah melahirkan buah hati mereka, dan mencium puncak kepala istri dan anaknya. “Kalian adalah pemberian Tuhan yang paling sempurna untukku.” Ujarnya. Naeun hanya mengangguk seraya menghela napas panjang. Dibelainya wajah putranya.

“Sanghoon-a, jadilah anak yang baik, yang mencintai kedua orangtuanya, seperti kami berdua mencintaimu.” Ujarnya, lalu mengecup kening putranya. “Aku berhasil, Jongin.” Ujarnya. Lelaki itu mengangguk.

“Kita berdua berhasil.” Ujarnya, mengecup bibir istrinya cepat.

“Aku mencintaimu.” Ucapnya.

 

*

There are lots of things I want to show you and give all I have for you when you come back from your bussiness trip,

 

“Ayah, Ayah akan pergi keluar negeri lagi?” tanya lelaki berumur 5 tahun itu. Jongin mengangguk, seraya menarik kopernya. “Kemana, Ayah?”

“Jepang, Sanghoon. Kamu mau oleh-oleh apa darisana, nak?” ujarnya, berlutut agar bisa menyamakan tingginya dengan putranya. Ia melihat putranya menggigit bibir bawahnya—seperti ibunya.

“Ah! Aku mau gundam, ayah! Yang banyak, ya!” ujarnya. Jongin mengangguk dan mengacak rambut putranya. “Ayah janji?”

“Asalkan kau menjadi anak yang baik, dan tidak nakal terhadap Ibu. Ayah berjanji akan membelikannya.” Sanghoon mengangguk setuju. Jongin tersenyum dan menatap Naeun yang menatapnya khawatir.

“Apa kau harus pergi, Jongin?” ujar Naeun, seraya memperbaiki dasi suaminya. “Perasaanku tidak enak.” Ujarnya lagi, memeluk suaminya. Jongin mengecup hidung istrinya seraya terkekeh.

“Aku berjanji hari sabtu aku akan pulang, Naeun.” Ujarnya. Naeun hanya menghela napas, dan mengangguk. Ia tidak bisa melarang suaminya pergi. “Berhati-hatilah dirumah, jaga Sanghoon.” Ujarnya, mengecup kening istrinya. “Aku mencintaimu.” Ujar lelaki itu.

“Aku lebih mencintaimu.”

Naeun memperhatikan handphone-nya yang tidak kunjung menunjukkan pesan dari suaminya. Hari sabtu, dan seharusnya suaminya sudah sampai di airport.

“Ibu, apa Ayah akan pulang hari ini?” ujar putranya seraya mendekat kepadanya, memeluk pinggangnya. Naeun tersenyum, Sanghoon sangat mirip dengan Jongin, walaupun kulitnya putih seperti dirinya, dan matanya berwarna cokelat terang seperti dirinya.

“Iya, Sanghoon. Ayah akan pulang hari ini.” Ujarnya, merangkul putranya. Tangannya yang memegang remote ia gunakan untuk menghidupkan televisi.

“Pesawat Japan Airlines yang berangkat pagi hari tadi mengalami ledakan saat berada dalam perjalanan menuju Bandara Internasional Incheon. Tidak ada yang selamat dalam peristiwa ini, berikut daftar nama korban….”

Naeun membulatkan matanya, mencoba mencari nama Jongin—walaupun ia berharap nama itu tidak ada, namun takdir berkata lain. Nama lelaki itu tercantum di nomor 88, dengan nama Kim Jongin, lahir pada tanggal 14 Februari 1994. Dan tangis Naeun pecah.

Sanghoon menatap ibunya, dan mengusap bahu ibunya. “Ibu, kenapa menangis? Apa Sanghoon menyakiti Ibu?” tanyanya, mulai takut. Naeun menggeleng namun tetap menangis. “Ibu… Sanghoon minta maaf…” ujar putranya, ikut menangis bersamanya.

Jongin meninggalkannya dan putra mereka.

Jongin tidak akan kembali.

Bagaimana ia harus bertahan?

Hanphone-nya berbunyi, ia melihat satu pesan kakaotalk. Mengusap airmatanya, ia membuka pesan itu, dan tertegun.

Jjongin : Sayang, aku mencintaimu. Rawat Sanghoon sebaik-baiknya, jangan lupakan aku. Dan buat Sanghoon tetap mengingatku. Aku mencintaimu, sangat. Bilang pada Sanghoon, jagoan kecilku itu, aku akan terus bersamanya sampai kapanpun, aku mencintainya. Aku mencintai kalian berdua.

“Ibu, apa itu Ayah?”

“Sanghoon, ayo kita ke bandara, nak.” Ujar Naeun, mengusap airmata putranya, juga airmatanya.

“Apa Ayah sudah sampai, Bu?” tanya anaknya, senyum anaknya merekah. Naeun tersenyum, namun tidak menjawab.

Pemakaman berlangsung dua hari kemudian. Hanya kerabat-kerabat terdekat. Orangtuanya dan orangtua Jongin datang, menguatkannya. Sanghoon hanya terdiam, tidak mau menyakiti perasaan ibunya dengan menangis.

“Biar ibu yang membawa Sanghoon.” Ujar Ibu Jongin, lalu mengajak cucunya untuk membeli eskrim, meninggalkan Naeun sendiri didepan pusara suaminya.

Hujan turun, tidak deras, namun cukup untuk membuat Naeun kembali menangis. “Hey, kau menangis, Jjong?” ujarnya, membuka pembicaraan. “Jangan menangis, kau tidak merasakan sakit apa-apa.” Lanjutnya, mengusap batu nisan bertuliskan nama suaminya itu. “Kau anugerah terindahku, Jongin. Terimakasih.” Ujarnya lagi, mulai terisak. “Satu hal yang menjadi rahasia yang bahkan kau tidak tahu, Jongin….” ia mencoba tersenyum. “Akulah gadis masa kecilmu yang menyelamatkanmu saat kau jatuh dari sungai, lalu menghilang.” Ujarnya.

“Jongin-a, aku mencintaimu.” Bisiknya lirih. “Kumohon, jangan tinggalkan aku sendiri. Kau berjanji akan pulang, kau berjanji kita akan membesarkan Sanghoon bersama.” Lanjutnya, menangis.

Naeun bangkit berdiri, menatap pusara itu sekali lagi. “Aku berjanji, tidak akan ada orang lain setelahmu. Hanya aku, kau dan Sanghoon.” Ujarnya.

“Satu hal lagi, Jongin…” ujarnya tersenyum. “Saat kau ngambek ketika aku berujar kau bukan ciuman pertamaku, aku berbohong. Kau adalah ciuman pertamaku, dan ciuman terakhirku.” Lanjutnya.

“Aku mencintaimu, Jongin. Selamanya.”

 

but you didn’t.

You never comeback in our arms.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s