CRUEL [PART 2]

crueledit2

CRUEL

Title : Cruel

Author : Zeya

Genre : slight of romance and angst-mystery-mafia!au

Length : Chaptered

Cast(s) : EXO-K’s Kai | APINK’s Naeun | other casts

Poster Credit : parkkyungjin@parkkyungjin@wp

Disclaimer : Saya gapunya castnya, punyanya cuman storyline sama copyright atas fanfic ini. Saya gaperlu tanggapan bash kalian soal Kai-Naeun, soalnya fanfic ini pure karena kecocokan karakter mereka untuk fanfic yang saya bikin sekarang. Kalau gasuka pairing ini, mending jangan dibaca. Ini hanya untuk have fun bukan?:-) Semoga menyukai fanfic ini, comments are really appreciated!

 

©ZEYA 2013

.

.

It seems like fate is so cruel that people always trying to get rid from it.

Dua orang lelaki memasuki bangunan tidak terpakai yang berada diujung jalan Dongdaemun—distrik fashion yang dikenal banyak orang di Seoul. Bangunan itu tidak terlalu tinggi, tetapi cukup curam didaerah lantai atas.

Sehun berjalan tepat disamping kanan Jongin, mencoba memperhatikan sekelilingnya dengan posisi kuda-kudanya. Jongin sendiri mencoba memperhatikan suara-suara yang ada diruangan itu. Kemampuan pendengaran yang diatas rata-ratanya itu membuatnya mampu mengetahui posisi lawan.

“Sehun, disebelah kananmu. Dua orang, tidak bergerak. Antisipasi.” Gumamnya singkat, masih memperhatikan jalan didepan—tanpa mengurangi kekuatan pendengarannya. “Kenapa mereka bisa menyekap Kyungsoo dan Minseok hyung?” umpatnya geram.

Tiba-tiba, Jongin segera menepuk bahu Sehun dan bersiaga. Hingga serangan tiga orang mendekati mereka berdua, membawa benda tumpul yang bisa saja nantinya akan membahayakan nyawa mereka.

 

*

 

Son Naeun berusaha keras meninggalkan pesta dengan berbagai macam alasan yang tidak bisa diterima oleh ayahnya sama sekali. Son Naeun beberapa kali menggeram, lalu memakai topeng tersenyumnya saat bertemu dengan relasi ayahnya.

“Kau tampak jengkel.” Gadis itu berbalik dan Kai sudah berada disana. “Mencariku?” tanya lelaki itu, mendengus. Naeun menghela napas panjang—merasa tenang karena lelaki itu tidak apa-apa—lalu menggeleng.

“Aku hanya bosan. Aku ingin istirahat.” Ujarnya singkat. Kai terkekeh pelan, membuat gadis itu sedikit terkejut. Kai menarik lengannya. “Ya! Kau mau membawaku kemana? Nanti ayahku akan marah!” ujarnya. Kai hanya terkekeh-kekeh seraya menarik lengannya. Sehun menggerling padanya, lalu hanya mengangguk dan kembali bercakap dengan beberapa tamu lainnya.

“Bagaimana? Kau bisa istirahat sekarang.” Ujar Kai saat mereka sudah berada di halaman belakang—yang sedang menjadi tempat parkir untuk acara ini—dan duduk disalah satu bangku taman. Son Naeun tersenyum—tidak memamerkan giginya—dan mengangguk.

“Dingin.” Gumamnya, berusaha agar tidak didengar Kai. Tapi, lelaki itu tampak mendengarnya dan segera melepaskan jas hitamnya. Meletakkan jas itu di bahunya, untuk melindungi tubuhnya yang dingin. “Terima kasih.” Ujarnya.

Jongin masih menatap lurus keatas dalam diam. Gadis itu tidak mampu berujar apa-apa. Tapi, ia yakin lelaki itu memiliki masalah.

“Kai-sshi…” panggilnya.

“Jongin. Panggil saja aku Jongin.” Gadis itu mengernyit. Jongin? Ia tampaknya pernah mendengar nama itu beberapa kali dari mulut ayahnya. Relasi kerja yang sangat menguntungkan, ujar ayahnya. “Kai itu hanya nama yang harus aku gunakan selama aku diluar. Jangan beritahu siapa-siapa soal nama ini.” Ujarnya—memperjelas.

“Jongin.” Ujarnya. Lelaki itu berbalik memandangnya. “Kenapa kau kabur dengan terburu-buru?” tanyanya. Lelaki itu diam.

“Ada beberapa hal yang belum boleh kau ketahui sementara ini, Son Naeun.” Gumamnya akhirnya. Naeun hanya mengangguk dan ikut memandang keatas.

 

*

 

“Hyung, jangan beritahu anak-anak lain soal penculikan kalian kemarin, ya?” ujar Sehun sambil memijat-mijat bahu Minseok. Minseok—yang masih terlihat pucat karena shock—hanya mengangguk tidak bersemangat. Kyungsoo sendiri masih diam, tapi sibuk membuat bekal untuk mereka berduabelas.

“Hyung, kau tidak apa-apa?” tanya Kai, memeluk Kyungsoo dari belakang dan mencium aroma bekal yang sedang dibuat oleh Kyungsoo.

“Aku tidak apa-apa.” Ujarnya singkat. Kai mengangguk-angguk dan segera duduk dimeja makan. Setelah semalam membawa Kyungsoo dan Minseok ke rumahnya untuk langsung beristirahat, ia segera kembali ke pesta bersama Sehun. Membuatnya pulang dengan wajah kelelahan.

“Kau mau tetap ke kampus, hitam?” tanya Sehun—menyesap cokelat panasnya. Kai mengangguk dan meminum susunya. “Kau masih terlalu lelah, bukan. Kau bisa tetap beristirahat dirumah.” Ujar Sehun lagi.

“Untuk beberapa saat ini, aku tidak akan bolos.” Ujar Kai—terkekeh. Sehun membuat ‘o’ besar dan mengangguk-angguk mengerti.

“Son Naeun.” Gumamnya.

 

*

 

Seoul, 08 Februari 2012

 

“Kau mau merayakan ulangtahunmu?” tanya Yookyung sambil menyesap jasmine tea miliknya. Naeun mengendikkan bahunya, lalu menyesap ice americano-nya. Pilihan yang salah dimusim seperti ini, apalagi ia sedang terkena pilek yang lumayan parah. “Bodoh, kenapa meminum ice americano saat pilek seperti ini.” Tegur Yookyung seraya mengambil tissue dalam tasnya. Naeun—yang sedari tadi bersin—segera menerima tissue itu dengan ucapan terima kasih melalui senyum.

“Yookyung, annyeong!” Yookyung menoleh dan melihat Sehun bersama anak-anak kingka lainnya berjalan kearah meja mereka. Naeun yang masih membersihkan hidungnya menoleh dan segera berbalik saat melihat Kai—Jongin—berada diantara mereka. Ia mengetuk kepalanya.

“Oh, Sehun-ah! Annyeong! Sunbaenim, annyeong haseyo.” Ujarnya membungkuk hormat. Naeun segera berdiri dan menundukkan kepalanya, menunjukkan rasa hormat.

“Boleh kami bergabung?” ujar salah seorang dari mereka—seingat Naeun namanya Baekhyun—sambil tersenyum manis semanis gula—itu hanya kiasan—yang segera dianggukkan oleh Yookyung tanpa meminta respon dari Naeun. Mereka segera meminta pelayan menggabungkan beberapa meja sehingga mereka berempatbelas bisa duduk bersama.

Mengatur posisi duduk, Yookyung langsung ditarik oleh Sehun untuk duduk disampingnya membuat Naeun harus berjalan menuju kursi disamping Yookyung—sebelum tangannya ditahan. Gadis itu melihat Jongin sudah berada dibelakangnya, menyuruhnya duduk dikursi yang berada tepat disampingnya. Baru saja gadis itu akan memberontak, salah seorang dari teman mereka—Zitao? Yixing?—sudah duduk di samping Yookyung.

“Kau tidak punya pilihan, nona.” Ujar Jongin—sedikit mengejek. Naeun hanya menghela napas dan segera duduk. Disampingnya ada seniornya yang bernama Chanyeol dan didepannya adalah senior yang ia ketahui lumayan dekat dengan Sehun, Minseok.

“Kalian mau pesan apa? Hari ini aku yang traktir!” ujar seorang yang rambutnya berwarna pirang dan bersuara berat—Yifan kalau tidak salah ingat—lalu tertawa bersama yang lain. Naeun mengernyit. Ditraktir oleh orang yang tidak terlalu dikenal itu bukannya tidak boleh?

“Tenang saja. Dia memang selalu mentraktir orang-orang yang baru ia temui. Kris ge memang sangat aneh.” Ujar Jongin—berbisik ditelinganya. Naeun hanya mengangguk-angguk lalu kembali bersin, dan mengelap hidungnya dengan tissue yang tadi diberikan oleh Yookyung.

“Kau mau?” ujar Minseok padanya, menyerahkan sebungkus tissue yang belum dibuka. Meragu, lelaki itu menambahkan “Tenang saja, aku masih punya banyak. Luhan juga menyimpankan beberapa milikku.” Ujarnya—tersenyum. Naeun segera menerimanya dan mengucapkan terima kasih.

“Kapan kau berulang tahun, Naeun-sshi?” ujar Chanyeol. Gadis itu sedikit terkejut saat lelaki itu mengajaknya berbicara, tapi melihat lelaki itu berwajah sangat ramah, gadis itu membalasnya dengan senyuman.

“Sepuluh Februari, sunbaenim.”

Satu kalimat itu cukup membuat Jongin tidak berhenti berpikir sampai larut malam.

 

*

 

Jongin tidak mempersiapkan apa-apa.

Ia sudah berujar dalam hati bahwa ia hanya akan mengucapkan selamat ulangtahun pada gadis itu dan setelah itu selesai. Tapi ia tidak bisa mengalahkan pemikiran gila kepalanya ini. Mencium Son Naeun!

Yang benar saja. Ia baru mengenal gadis itu satu bulan. Baiklah, Sehun dan Yookyung bahkan sudah kencan tiga kali selama sebulan ini, tapi ia adalah lelaki yang dikenal dingin dan tidak banyak berbuat apa-apa. Mencium?! Keinginan kotor macam apa itu. Walaupun ia suka bermain wanita-wanita yang ‘tidak jelas’ ia tidak terlalu peduli dengan mereka. Tapi Son Naeun?

“Kau tampak tidak bersemangat. Hari ini gadis pujaanmu ulang tahun, jangan lupa.” Ejek Sehun saat melihat Jongin keluar dari kamarnya dengan wajah kusut. Cepat saja Jongin melemparkan handuk yang berada dipundaknya ke muka Sehun.

“Kau tidak perlu mengingatkanku hingga ratusan kali, putih.” Ujarnya—suaranya benar-benar menunjukkan keputus asaan—lalu menghempaskan dirinya ke sofa. Kuliahnya akan berlangsung jam delapan, dan sekarang masih jam setengah tujuh. Satu setengah jam lagi, apa yang bisa ia persiapkan?

“Ajak saja dia ke restoran yang dekat dengan kampus. Ajak makan. Apapun. Berikan dia boneka, atau apapun.” Ujar Sehun akhirnya, duduk di sofa yang berada disamping Jongin, melahap roti stroberi buatan Ahjuhmma.

“Aku tidak tahu dia menyukai apa, Oh Sehun.” Ujar Jongin—sedikit frustasi dengan perlakuan temannya itu. Oh Sehun tertawa terpingkal melihat sahabatnya dengan sikap frustasinya.

“Kau bodoh!” ujarnya—masih terpingkal. “Yang aku tahu, Naeun suka warna hitam. Yookyung tidak sengaja membocorkannya padaku. Entahlah.” Ujar Sehun—memamerkan giginya. “Himnae, Kim Jongin!” ujarnya.

Disaat seperti ini, walaupun Oh Sehun memang menjengkelkan, ia berguna.

 

*

 

Tidak ada ucapan selamat ulangtahun tidak terlalu mengecewakan untuk Naeun. Tapi, tidak ada ucapan selamat ulangtahun dari abangnya membuatnya sedikit kecewa. Dongwoon satu-satunya orang dirumah yang selalu mengingat ulangtahunnya disaat yang lain tidak mengingatnya.

“Oppa…” panggilnya. Abangnya berbalik dan memandangnya santai. “Tidak kuliah?” tanyanya, berbasa-basi. Dongwoon menggeleng. Apa dia tidak ingat?

“Ani, kuliah sore.” Ujar abangnya, singkat sesingkat-singkatnya. Naeun merasakan amarahnya mencuat, tapi tidak menunjukkannya. Ia hanya mengangguk dan segera meminum susunya yang berada di meja makan.

“Aku pergi dulu.” Ujarnya. Abangnya mengangguk dan kembali fokus pada makanannya. Naeun sendiri berjalan keluar rumah dengan perasaan kesal. Rambutnya yang awalnya tergerai dengan rapi tiba-tiba sedikit berantakan karena diacak-acak olehnya saat berjalan keluar rumah.

Perjalanan menuju kampus ia nikmati dalam diam dan mendengarkan musik lewat iPod-nya. Matanya ia pejamkan, berusaha mengingat apa saja yang sudah ia lakukan selama 19 tahun hidup. 9 tahun ia tinggal bersama imo-nya di Jepang, dan kemudian tinggal bersama orangtua dan abangnya. Selama itu juga ia diajarkan bagaimana mengurus perusahaan walaupun ia mati-matian menolak masuk kedunia bisnis yang digeluti ayahnya.

Mobil berhenti tepat didepan gerbang utama SNU, membuatnya tersadar dan segera mengepak iPod dan handphone-nya kedalam tas. “Terima kasih, ahjuhssi. Nanti saya telepon untuk jadwal menjemput.” Ujarnya ramah dan segera turun dari mobil.

“Semangat, Son Naeun!” ujarnya pada dirinya sendiri.

“YA! Son Naeun!” pelukan Yookyung membuatnya harus menarik napas lama dan berusaha melepaskan pelukan Yookyung. “Selamat ulangtahun teman seperjuangan kesayanganku!!!! Aku sangat menyayangimu, peluk cium untukmu dariku!” ujar Yookyung. Son Naeun—setelah terlepas dari pelukan Yookyung—mengangguk-angguk dan tersenyum.

“Kau orang pertama, Yookyung.” Ujarnya, tersenyum. Yookyung segera merangkul sahabatnya, mengetahui kekecewaan gadis itu saat abangnya tidak mengingat ulangtahunnya.

“Mungkin Dongwoon oppa sedang banyak pikiran, Naeun.” Ujar Yookyung, mencoba menghibur gadis itu. Son Naeun hanya mengangguk-angguk, tidak terlalu peduli.

“Yookyung-ah, annyeong!” kedua gadis itu berbalik dan melihat Sehun menenteng tasnya dan berjalan kearah mereka. “Naeun-sshi, annyeong haseyo.” Ujarnya, membungkuk. “Oh, kalau aku tidak salah hari ini ulangtahunmu, bukan? Selamat ulangtahun! Semoga semuanya semakin lebih baik.” Ujar lelaki itu, tersenyum padanya.

Naeun mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Setidaknya, mengucapkan ulangtahunku waktu itu membuatku diingat walau hanya sedikit, pikirnya. Gadis itu menghela napas.

“Oh, itu hitam.” Ujar Sehun—yang sudah berdiri disamping Yookyung. “Naeun-sshi, tujuanmu pasti sama dengannya. Aku dengan Yookyung jalan duluan saja, ya?” ujar Sehun—matanya memohon—yang membuat Naeun hanya bisa mengangguk-angguk.

“Oh, hai. Kau sudah mau masuk kelas, putih?” tanya Kai saat sudah berada diantara mereka bertiga. Sehun mengangguk dan segera berjalan dengan Yookyung. Lelaki itu menepuk pundak Kai sambil memberinya kode.

“Duluan, ya.”

“Kalau begitu, aku masuk dulu.” Ujar Naeun, mencoba menghilangkan kekakuan diantara mereka. Kai menahan tangannya. “K-kenapa?” tanyanya—sedikit takut.

“Kita bolos saja hari ini. Hari ini ulangtahunmu, bukan?” ujarnya. Naeun mengangguk. “Ayo.” Ujarnya.

“Ah, tidak. Aku tidak suka merayakan ulangtahunku, aku lebih baik masuk kelas saja.” Elaknya, lalu menepis tangan lelaki itu. “Kau tidak mau masuk?” tanya Naeun. Kai hanya mengangguk dan mengikutinya dari belakang—seperti hari-hari biasanya.

“Setahuku semua orang senang dihari ulangtahunnya.” Komentar lelaki itu saat mereka berada dilorong kampus menuju kelas pertama mereka. Naeun menghentikan langkah kakinya dan menatap Kai. “Tampaknya aku mengatakan sesuatu yang salah?”

Gadis itu terdiam beberapa saat. “Tidak juga. Aku biasanya senang. Tidak untuk kali ini, mungkin.” Ujarnya, lalu kembali berbalik dan berjalan. Kai hanya memiringkan kepalanya seraya memperbaiki tas selempangnya lalu kembali berjalan.

Kelas pertama dan kedua dilalui dengan sangat baik. Pelajaran masuk ke kepala mereka berdua dengan rapi dan tertata baik. Kuis sistem imun manusia dapat dijawab dengan lancar oleh mereka berdua. Hingga saat Sehun memberikan tatapan nakalnya pada Jongin, lelaki itu sadar bahwa ia tidak melakukan apa-apa untuk merayakan ulangtahun gadis itu.

“Ya! Son Naeun!” panggil lelaki itu. Gadis itu menatapnya bingung. “Setelah ini kalkulus, bukan?” Naeun merespon dengan anggukan. “Aku tahu kau sudah sangat jenius dipelajaran itu, dan aku ‘pun demikian. Kau mau bolos?” tanyanya. Tidak ada jawaban dari gadis itu.

“Baiklah.” Respon gadis itu akhirnya.

 

*

 

Darimana lelaki itu tahu aku sangat suka daging?

Jongin membawanya menuju restoran korea dekat kampus yang menyediakan khusus untuk daging. Lelaki itu tampaknya tidak tahu mengenai dirinya yang suka daging, yang membuat Naeun berpikir lelaki itu juga menyukai daging sama seperti dirinya.

“Kau mau apa?” tanya lelaki itu seraya membuka buku menu. Naeun bisa melihat dengan jelas binar dimata lelaki itu.

“Tenderloin, sirloin.” Gumam gadis itu—membuat lelaki itu tertawa. “Kenapa?”

“Aku baru saja akan menawarkanmu.” Ujarnya. “Kau suka daging?” tanyanya. Gadis itu mengangguk cepat sambil tersenyum.

“Sangat!” tambahnya. “Kau… juga?” tanyanya. Kai mengangguk. Gadis itu tertawa. Kali ini, lelaki itu memesan dengan cepat dan mengucapkan terima kasih kepada pelayan tersebut. Naeun sendiri hanya membungkuk hormat.

“Jadi, kau yang mentraktirku, kan?” gurau Kai padanya. Naeun menghembuskan napasnya kesal, dilanjutkan oleh tawa lelaki itu. “Maaf, aku bercanda. Aku harus mencairkan suasana kaku ini, juga pada akhirnya.” Elaknya.

“Aku yang traktir. Lain kali, kau yang harus mentraktirku!” ujar Naeun.

“Ohhh, sudah tertarik untuk makan denganku, ya?” goda lelaki itu. Son Naeun melemparkan tisu kearah lelaki itu sambil menggumam sekaligus tertawa. “Baiklah, setelah ini traktiranku!” ujarnya.

 

*

 

“Kau mau photobox?” tanya Jongin, kembali menggigit crepe-nya. Naeun mengangguk dan mereka berdua segera memasuki tempat photobox dengan berbagai pose yang mereka yakini harus menjadi rahasia diantara mereka berdua saja.

“Oh, Naeun. Bersembunyi dibelakangku.” Ujar Jongin secara tiba-tiba, saat mereka berdua melihat hasil foto tadi. Naeun menatapnya bingung tetapi tetap bersembunyi dibelakangnya, sedikit takut. “Sial, tidak ada sinyal!” umpatnya saat melihat handphone-nya. “Naeun, ponselmu mendapat sinyal?” tanyanya, masih memandang ke sekelilingnya. Naeun—dengan terburu-buru, membongkar tasnya dan menemukan handphonenya.

“Ya, ada sinyal.” Ujarnya—berusaha terlihat tenang, seraya memberikan ponselnya pada lelaki itu. Dengan cepat jemari laki-laki itu mengetikkan nomor lalu mengklik tanda dial, matanya masih memandang ke sekeliling, mewaspadai.

“Oh Sehun! Aku dalam masalah. Mereka menemukanku di dondaengmun, lagi.” Ujarnya. “4 orang, berpisah dua-dua orang, satu disisi utara satu lagi disisi barat daya, kau bisa mengaturnya? Baiklah, dalam 10 menit kedepan.” Lalu sambungan telepon mereka terputus.

“Ada… apa?” tanya Naeun, mulai menunjukkan rasa takutnya. Jongin berbalik menghadapnya. “Seharusnya aku tidak membawamu kesini, maafkan aku.” Ujar Jongin—meminta maaf seraya menundukkan kepalanya.

“Naeun, kau bisa lari ke cafe yang ada di Gangnamgo? Jangan melihat kemana-mana, dan biarkan handphone-mu dalam nada dering. Sebutkan saja namaku di cafe yang kau lihat paling tenang. Mereka akan menemanimu.” Ujarnya lagi.

“Kau…. sendiri?” tanya Naeun. Jongin mengendikkan bahunya.

“Aku sudah ratusan kali selamat dari hal seperti ini. Kau harus lari, okay? Aku akan bertemu denganmu disana dalam waktu setengah jam.” Lanjutnya. Lelaki itu menepuk pundak gadis itu dan membalikkan badan gadis itu.

“Dalam hitungan ketiga. Satu… Dua…. Ti…”

“Ga.” Ujar mereka berdua, dan gadis itu segera berlari secepat yang ia bisa. Kim Jongin menghela napas saat melihat gadis itu sudah menghilang dari pandangannya, lalu berbalik.

“Its show time.”

 

*

 

Gadis itu membuka pintu cafe yang dicat hijau daun dari luar dan segera mengatur napasnya. Beberapa pengunjung menggunjing penampilannya—berpakaian sekolah. Jam yang berada tepat didepannya dengan jarak tiga sampai empat meter menunjukkan jam 4 sore, sudah melewati jam pulang sekolah.

“Oh, kau gadis yang selalu bersama Kai, bukan?” Naeun segera berbalik dan menemukan laki-laki mungil, salah satu kingka disekolahnya, yang ia yakini bernama Kyungsoo. “Ada apa?”

“Kai…. Dia menyuruhku kemari.” Ujar gadis itu, dengan suara yang diminimalisir. Kyungsoo segera mengerti maksud gadis itu dan mengajaknya duduk dipojok dekat jendela. “Apa sunbae mengerti masalahnya?”

“Tidak. Tapi, aku pernah diselamatkan olehnya.” Ujar Kyungsoo. “Kau mau minum apa? Aku yang mentraktirmu. Cafe ini milikku, untuk sekadar info. Dan disebelah cafe ini, restoranku.” Ujar Kyungsoo, tersenyum padanya.

“Ice thai tea… boleh?” ujar gadis itu. Kyungsoo mengangguk, dan meninggalkannya menuju spot barista. Son Naeun menghela napasnya panjang dan menselonjorkan badannya.

Ulangtahunku hari ini sangat kacau, pikirnya.

 

*

 

Kim Jongin harus berjalan dengan luka tusuk di bahunya kali ini. Dengan kemampuannya, ia berusaha menyembunyikan luka ini saat berada dijalan raya ketika ingin menuju cafe milik Kyungsoo.

“YA! KIM JONGIN!” lelaki itu berbalik dan menemukan Sehun berlari kearahnya. “Kau kena… YA! Bahumu kenapa?!” tanya Sehun was-was. “Sial, ayo kita kerumah sakit. Kumohon kali ini jangan menolak, aku harus memukul lehermu jika kau menolak lagi kali ini.” Ujar Sehun. Lelaki itu hanya mengangguk pasrah seraya masih menutup lukanya.

“Naeun.” Ujarnya. Sehun menghela napasnya.

“Dia masih di cafe milik Kyungsoo hyung. Tenang saja, nanti aku akan mengantarnya pulang. Yookyung sudah kusuruh kesana.” Ujar Sehun, menepuk bahu sahabatnya yang tidak luka.

“Baiklah. Aku harus membebat luka ini secepatnya. Suruh Hoo mencari tahu kepala mereka. Aku akan menghabisinya kalau sudah sembuh nanti.”

 

*

 

Seorang lelaki paruh baya meninju beberapa anak buahnya yang datang dengan wajah bobrok setelah mengalami perkelahian. Matanya memancarkan amarah, dan ia segera menendang wajah salah seorang anak buahnya.

“Kenapa kalian tidak bisa membunuhnya!!!!!!!!!!!!!!” bentak lelaki itu.

“Ma—maafkan kami bos. Kami hanya bisa menusuk bahunya.” Ujar salah seorang dari anak buahnya.

“Kalian pikir menusuk bahunya akan membunuhnya?!!! Lelaki itu kuat, kau tahu. Yang perlu kau lakukan menusuknya tepat di ulu hatinya!” bentak lelaki itu. “Brengsek!”

Lelaki itu memukul kaca ruangan yang tidak bisa pecah. “Kali ini, kau boleh lolos Kim Jongin. Hanya kali ini.” Geramnya.

 

A.N : Ergh, chapter ini cheesy banget gak sihT_T maapin tapi ya. Huhu, baru bisa ngepost. Internet rumah minta diajak berkelahi dilapangan masa. Oke, chapter ini terlalu lebay, zeya tau. Semuanya absurd, zeya juga tau. Semuanya aneh, zeya pun juga tau. Tapi, tetep harus kasih komen ya ;). Jangan ada komentar negatif tapi. Ingat, ini hanya buat have fun. Semoga tetep suka fanfic ini, terus nungguin kelanjutannya ya^-^. Smooch, Zeya!<3

Advertisements

One response to “CRUEL [PART 2]

  1. Pingback: CRUEL [PART 5] | jolie fille·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s