CRUEL [PART 1]

crueledit2

CRUEL

Title : Cruel

Author : Zeya

Genre : slight of romance and angst-mystery-mafia!au

Length : Chaptered

Cast(s) : EXO-K’s Kai | APINK’s Naeun | other casts

Poster Credit : parkkyungjin@parkkyungjin@wp

Disclaimer : Saya gapunya castnya, punyanya cuman storyline sama copyright atas fanfic ini. Saya gaperlu tanggapan bash kalian soal Kai-Naeun, soalnya fanfic ini pure karena kecocokan karakter mereka untuk fanfic yang saya bikin sekarang. Kalau gasuka pairing ini, mending jangan dibaca. Ini hanya untuk have fun bukan?:-) Semoga menyukai fanfic ini, comments are really appreciated!

 

©ZEYA 2013

.

.

It seems like fate is so cruel that people always trying to get rid from it.

Busan, 16 Januari 1999

 

“Selamat ulangtahun, Kim Jongin!” ujar puluhan lelaki berpakaian serba hitam—membungkuk hormat pada seorang anak kecil yang masih sibuk bermain dengan balok-balok dan bola-bola yang berserak.

“Maafkan kami baru bisa memberikan kejutan ini, Tuan Besar.” Ujar seorang lelaki berumur sekitar 50-an, membungkuk sekali lagi. Suara tawa terdengar keras dari seorang lelaki yang mengisap cerutunya. Lelaki itu hanya mengangguk-angguk sambil menyesap kembali cerutunya.

“Tidak apa-apa. Kalian sudah bekerja keras selama ini. Ditambah dengan masalah dengan mafia tetangga.” Ujar lelaki itu—masih tertawa. “Kalian semua akan mendapat bonus, setengah dari gaji kalian!” ujarnya—mengangkat tangannya, tertawa-tawa. Puluhan lelaki itu membungkuk hormat, sambil berujar terima kasih Tuan Besar!

“Abeonim.” Anak lelaki bernama Kim Jongin itu menarik-narik ujung jas ayahnya. Ayahnya berbalik dan memandangnya penuh sayang. “Abeonim, aku mendengar suara derapan kaki diatas.” Ujarnya—menunjuk keatas.

“Mungkin hanya suara kucing, anakku.” Ujar ayahnya—mengusap rambut anaknya. Anaknya menggeleng.

“Ani, ani. Ada banyak derapan kaki. Abeonim, aku takut.” Ujar anaknya—memeluk tangan ayahnya.

“Cek keatas. Bawa senapan terbaik kalian.”

 

*

Seoul, 14 Januari 2012

 

“Selamat ulangtahun, Kai!” ujar sebelas lelaki yang mengerumuninya—seorang lelaki pendek berada ditengah, memegang kue tart buatannya.

“Ya! Kau harus memakan kue buatan Kyungsoo. Kau harus tau perjuangan kami selama membuatnya.” Ujar seorang lelaki yang tingginya hampir sama dengan Kai—Baekhyun. “Bahkan make-up untuk manggungku tadi malam luntur 75%, membuat Bos hampir memarahiku.” Ocehnya.

Kai hanya tertawa melihat perilaku teman-temannya. Sehun—salah satu temannya segera duduk disampingnya, menepuk pundaknya.

“Selamat ulangtahun, hitam.” Ucapnya—sedikit dengan nada ejekan. Kai memukul lengan Sehun main-main, dan kemudian tertawa berdua. Oh Sehun mengetahui masa lalunya. Sejak kecil, dikarenakan pekerjaan orangtua mereka berdua yang sama, mereka kebanyakan bermain bersama—bahkan melihat kejadian dulu bersama.

“Oh, itu Son Naeun, bukan? Murid baru yang sedikit menggeparkan kampus karena menjadi gadis pertama yang nilainya mencapai nilai sempurna.” Ujar Chanyeol—melemparkan tasnya kesamping Kai dan duduk. Kai memperhatikan gadis berambut panjang yang menundukkan kepalanya sambil berjalan.

“Cantik.” Komentarnya. Sehun menatapnya—lalu terkekeh geli.

“Kau suka padanya.” Respon Sehun singkat. Kai membelalak matanya—menatap Sehun jengkel.

“Jangan menarik kesimpulanmu sendiri, Oh Sehun. Aku hanya mengatakan dia cantik, tidak berarti aku menyukainya.” Respon Kai.

“Jongin, aku sudah mengenalmu hampir sepanjang aku hidup didunia ini. Aku tahu kapan kau jatuh cinta, kapan kau merasa benci, dan kapan kau merasa sedih. Tidak ada gunanya berbohong padaku.” Ujar Sehun—bangkit berdiri dan bermain bersama salah seorang lelaki China—Zitao.

Son. Na. Eun.

 

*

Menjadi bahan pembicaraan di kampus adalah hal yang paling dibenci Son Naeun. Daridulu, sejak ia kecil, orang-orang selalu membicarakannya. Mengenai wajahnya yang seperti telur—bahkan ia tidak mengerti darimana mereka bisa memikirkan telur—lalu mengenai wajahnya yang seperti peri dari Neverland—tibell, tinkerbell?—dan mengenai kepintarannya yang sangat luar biasa—itu memuakkan, pikirnya.

Ia masuk ke Seoul National University dengan nilai sempurna! Bagaimana ia tidak menjadi bahan pembicaraan—nilai sempurna terakhir didapat beberapa tahun silam, dan ia satu-satunya perempuan yang mendapat nilai tertinggi sepanjang sejarah SNU didirikan.

“Naeun-ah!” gadis itu berbalik dan tersenyum. Paling tidak aku punya teman, batinnya. Yookyung segera berjalan mendekatinya dan merangkul teman dekatnya itu. “Telingaku daritadi panas mendengar gosip tentangmu, kau tahu.” Ujarnya.

“Aku lebih memilih tidak mendengarnya.” Responnya singkat. Yookyung tidak jauh berbeda dengannya—hanya saja, Yookyung seorang blasteran yang sangat kental dengan wajah Baratnya. Otak mereka berdua tidak jauh berbeda—saling mengisi, menurut mereka berdua.

“Kya! Itu mereka!!” secara tidak sengaja, Naeun harus merelakan dirinya disenggol puluhan gadis yang berkumpul didepan pintu masuk. Naeun berpandangan dengan Yookyung—bingung. “Uwah! Kai tampan sekali!” “Kya! Suho sunbaenim, imut sekali!!!” “Uwah, lihat Jongdae! Dia sangat ingin dipeluk!!”

“Baiklah, aku tidak mengenal nama-nama itu.” Ujar Naeun masabodo, segera melenggang maju untuk masuk ke dalam kampus. Sesaat, ia yakin ia bertatapan dengan seorang dari mereka. Membuat Naeun tidak bisa memikirkan lelaki itu. Lelaki itu jelas saja membuatnya penasaran.

 

*

Yang Naeun tahu, mereka berduabelas itu kingka. Lelaki-lelaki anak pejabat dan orang ternama di Korea. Selain Kai dan Sehun—benar itu namanya? Nama yang aneh, pikirnya—semuanya memiliki orangtua. Mereka berdua adalah CEO dari Perusahaan Kim dan Oh yang sudah lama bekerja-sama. Membuat mereka berdua sangat dekat.

“Kalkulus.” Gumamnya—memandang jadwal-jadwal yang tertera di secarik kertas. Ia sedikit mengumpat saat melihat mata kuliah dasarnya termasuk membosankan di hari Sabtu. Membuatnya segera membayangkan apakah ia harus bolos hari sabtu atau tidak.

Naeun bisa merasakan ada yang mengambil posisi duduk disampingnya.Sedikit penasaran, Naeun mengambil lirikan kesamping kanannya dan sedikit terkejut. Mata yang sama.

Lelaki itu hanya membungkuk hormat dan kembali menatap kedepan. Dosen belum masuk, dan banyak kursi yang sudah terisi. Gadis itu hanya kembali menatap lelaki itu, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Namaku Kai.” Ujarnya. Tidak memberikan tangan ataupun senyum. Hanya menyebut namanya.

“Son Naeun.” Responnya—sambil membalik-balik buku matematika dasar 1-nya dengan bosan. Gadis itu melirik beberapa gadis yang duduk didepannya. Benar saja—lelaki itu salah satu dari duabelas kingka. Gadis-gadis itu menatapnya tajam, seperti mengintimidasi.

“Tidak usah takut, mereka tidak akan mencarimu dan mem-bully-mu, Son Naeun.” Ujar lelaki itu, meletakkan kepalanya bertopang pada tangan—menatap kedepan malas. Dosen sudah datang dan langsung memulai kelas, tanpa perkenalan.

“Apa maksudmu?” tanyanya—berpura-pura tidak mengerti. Kai terkekeh kecil, berusaha tidak terdengar dosen.

“Kau menarik.” Ujarnya—mengambil buku kosong dalam tasnya dan mulai menulis. “Aku harap kau bisa betah di fakultas kedokteran, Naeun.”

Freak, pikirnya.

 

*

Son Naeun harus berusaha keras menikmati dan mengikuti semua pelajaran yang sama dengan lelaki bernama Kai. Lelaki itu selalu duduk disampingnya dalam diam—dan tetap mengekorinya sampai semua jam kuliah selesai.

“Ya! Hong Yookyung!” panggil Naeun pada gadis berambut pendek yang tengah sibuk tertawa bersama seorang lelaki. “Jadwal kuliahmu sudah selesai?” tanya Naeun—berusaha menghiraukan Kai. Yookyung mengangguk. “Singgah ketempat biasa, ya?”

“Kau pasti membodohiku, Oh Sehun.” Gumam Kai—saat lelaki berambut cokelat itu menghampirinya, memeluknya. Sehun tertawa sambil kembali menatap gadis bernama Yookyung itu.

“Dia menarik, kau tahu?” ujar Sehun. Kai menghela napas.

“Ya, Sehun. Kami duluan!” ujar Yookyung. Sehun mengangguk dan melambaikan tangan pada gadis itu, dan membungkuk pada gadis yang berada didepan Kai sedari tadi.

“Anak-anak yang lain menunggu ditempat biasa. Ayo.”

Tempat biasa yang dimaksud adalah sebuah ruangan tidak terpakai dekat restoran milik Kyungsoo—ya, dia pemilik dan koki—yang kemudian diurus oleh keluarga Joonmyeon atau yang kerap dipanggil Suho, dan menjadi tempat perkumpulan mereka.

“Kalian tumben terlambat.” Ujar Kris—lelaki tertinggi dikelompok itu, blasteran China-Canada. “Kami sudah hampir menghabiskan semua kimbap ini.”

“Ada bisnis.” Gurau mereka berdua. Kris melempar kertas yang sudah digulung ke mereka—yang refleks ditangkap mereka berdua secara cepat. “Aku mau kimbap, Kyungsoo hyung.” Ujar Kai—memeluk pinggang Kyungsoo—baiklah, Kyungsoo adalah hyung kesayangannya. Dikarenakan wajahnya yang unik dan kehebatannya membuat makanan—dan memasang tampang manja yang satu-satunya rahasia diantara mereka  berduabelas.

“Aku harus membuat lebih demi dirimu, kau tahu.” Ujar Kyungsoo—mengambil satu pak kimbap yang disimpan di tasnya. Kai bersorak senang.

“Terima kasih, hyung!” ujarnya—mengambil posisi disamping Sehun, yang sudah melahap kimbap milik Zitao.

Sebuah pesan masuk ke handphone Kai, membuatnya sedikit tercengang. Selama beberapa saat, ia hanya bisa menatap pesan itu dan membalasnya singkat—kemudian bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Dan Sehun segera memahaminya.

 

*

“Aku pulang.” Naeun membuka pintu dorm-nya, mendapati abangnya—Dongwoon sudah berada dirumah sedari tadi. “Oppa. Tidak kuliah?” tanyanya—mengambil posisi duduk disamping Dongwoon yang meminum susu langsung dari tempatnya.

“Dosenku memindahkan jadwal kuliahnya Sabtu nanti.” Ujar abangnya santai—mengganti channel televisi. Naeun menghela napas—sedikit kecewa. “Kenapa?” tanya abangnya.

“Aku berniat membolos untuk bermain bersamamu hari Sabtu. Tapi mata kuliahmu dipindahkan.” Keluhnya. Abangnya mengacak-acak rambutnya. “Ya!” protesnya yang tidak ditanggapi abangnya. “Tampaknya ini berarti aku harus masuk kuliah.” Ujar Naeun.

“Kau harus kuliah, tentu saja!”

“Bodoh.” Ujar Naeun—meninju lengan abangnya. “Oh, mau makan apa? Ayah dan Ibu lembur katanya. Mereka menghubungi rumah tapi tidak ada yang mengangkat. Handphone-mu juga tidak aktif.” Ujar Naeun, seraya masuk kekamarnya mengganti bajunya.

“Masih ada bahan untuk membuat kimbap atau jajangmyeon, Eun?” tanya Dongwoon. Naeun menggumamkan kata ‘ya’ dan keluar sambil mengikat rambutnya.

“Kau mau kimbap? Tunggu ya.”

Dongwoon memperhatikan adiknya yang selalu dikatakan jenius itu. Adiknya cantik, tentu saja. Tapi, adiknya tidak pernah memperdulikan laki-laki. Senior yang dekat dengannya—Junhyung, bahkan tidak dipedulikannya, walaupun seniornya itu berusaha mendekatinya.

“Oppa, kau memperhatikan apa?” tanya adiknya. Dongwoon segera menggeleng. “Aneh.” Ejeknya. Dongwoon segera melompat dari sofa dan merangkul adiknya. “Ya! Ya! Aku sedang memasak. Kau tahu aku harus berkonsentrasi agar masakan ini bisa dimakan.”

“Aku harus tetap ingat kau memang bodoh dalam memasak.”

Naeun segera memukul abangnya dan berbalik ke masakannya.

 

*

Mobil keluaran terbaru memasuki perkarangan rumah dengan dua orang lelaki didalamnya. Pelayan yang selalu berada diluar segera berdiri tepat di pintu kemudi saat mobil itu berada didepan pintu masuk.

“Tuan Muda, sudah sampai? Bagaimana perjalanan anda hari ini?” ujar pelayan itu, masih ambil membungkuk.

“Ahjuhmma, aku sudah mengatakan berkali-kali, ahjuhmma boleh memanggilku Jongin. Hanya Jongin.” Ujar pemuda itu, merangkul pelayan yang sudah berumur.

“Bibi tidak mau bermasalah dengan almarhum ayahmu, kau tahu.” Ujar Ahjuhmma, mengusap rambut Jongin pelan. Jongin tersenyum lebar.

“Ahjuhmma, masak apa? Aku mau ayam! Kau juga pasti suka kan, Sehun?” ujar Jongin, berjalan cepat seraya melemparkan tasnya asal ke sofa. Ahjuhmma yang sudah 2 generasi bekerja dirumahnya hanya berjalan dibelakang dirinya dan Sehun.

“Kau cerewet sekali kalau sudah bertemu dengan Ahjuhmma.” Ujar Sehun, mendudukkan dirinya dimeja makan. “Ahjuhmma, aku mau bubble tea.”

“Tuan diundang keacara makan malam ulang tahun pernikahan keluarga Son.” Satu kalimat itu membuat kedua lelaki itu tertegun. Son. Mereka masih mengingat nama itu. Ayah mereka berdua mengelukan nama itu. Katanya, lelaki itu adalah lelaki yang sangat hebat.

“Kau mau datang?” tanya Sehun—menyesap bubble tea-nya. Jongin mengendikkan bahunya.

“Gang 15 mengajakku bertarung. Tidak mungkin aku tidak datang, mereka akan ke kampus nanti. Jangan libatkan anggota yang lain.” Jongin menghela napasnya panjang. CEO hanya kedok belaka, umpatnya. Ia tetap harus menjaga image yang sudah dipegangnya. Seorang anak yang harus menjadi CEO di usianya yang masih muda.

“Kau bisa menyuruh Sung dan anggotanya maju.” Ujar Sehun. Jongin menggeleng. “Lalu?”

“Kita selesaikan dengan cepat.” Ujarnya singkat—dan segera melahap ayam yang dihidangkan Ahjuhmma. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan kan, Sehun?”

Sehun menyengir dan segera mengambil handphone-nya. “Oh, Hoo-ya. Aku butuh bantuanmu…”

 

*

‘Aku lupa hari ini ulang tahun pernikahan ayah dan ibu!’ umpat Naeun saat ia membuka handphone-nya selama dalam perjalanan kerumah. Cepat saja ia menyuruh supirnya membelokkan mobil menuju toko hadiah di sekitar daerah Gangnam, yang tidak jauh dari rumahnya.

“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” ujar seorang saleswoman padanya. Gadis itu tersenyum manis—hal yang sudah dipelajarinya bertahun-tahun. Kata ayahnya, kita harus menunjukkan bahwa kita menghormatinya.

“Aku ingin dasi keluaran terbaru dan ingin melihat beberapa jenis kalung dari emas putih.” Ujarnya. Saleswoman itu segera menggiringnya menuju box dasi. Naeun menelusuri jenis-jenis dasi yang bertumpuk dan terpaku pada dasi berwarna hitam dengan bintang-bintang yang tidak terlalu terang—sangat cocok dengan ayahnya yang tertutup.

“Saya ingin dasi hitam itu.” Naeun segera berbalik dan melihat… Kai? Lelaki itu menatapnya dan membungkuk cepat. “Tolong segera bungkuskan.” Ujarnya—lalu berjalan menuju kasir. Naeun segera mengambil dasi hitam yang ia incar dan berjalan mendahuluinya ke kasir.

“Tolong ini disimpan, saya masih ingin melihat emas putih.” Ujarnya sopan. Petugas kasir itu hanya mengangguk dan meletakkan dasi itu disamping box. Dengan cepat Naeun berjalan menuju stand perhiasan dan memperhatikan dengan seksama. Kesukaan ibunya sangat unik, hingga membuatnya gemas.

“Saya ingin yang itu.” Naeun menunjuk salah satu kalung yang berukirnya safir. Khas dengan ibunya yang sangat pintar bersolek.

Kai belum beranjak dari sana. Ia meletakkan tangannya dalam saku celananya dan bungkusan itu berada dipergelangan tangannya. Gadis itu segera membayar dan mengucapkan terimakasih lalu keluar. Kai masih berada didalam toko itu. Hingga seorang lelaki keluar bersamanya. Sehun.

Naeun mengernyitkan dahinya, lalu menggelengkan kepalanya. Untuk apa dipusingkan.

 

*

Kedua blok saling berhadapan. Dua lawan sepuluh. Tidak sebanding. Kesepuluh pemuda itu melingkari dua lelaki lain, membuat keduanya saling menopang punggung. Mata mereka mendelik kesepuluh lainnya dengan penuh benci.

Ber-highfive satu kali, mereka segera berlari menuju sasaran.

 

*

Naeun memandang dirinya dicermin. Dress krem panjang tanpa lengan yang ibunya serahkan padanya tadi sore, beberapa jam sebelum acara dimulai, sudah terpasang ditubuhnya. Rambutnya ia urai saja tanpa aksesori apapun. Natural, seperti dirinya.

“Putri Ayah sangat cantik.” Naeun berbalik dan melihat Tuan Son—ayahnya sudah berada dibelakangnya. Menatapnya dengan penuh kebanggaan—ayolah, siapa yang tidak bangga memiliki putri berotak jenius, umpatnya pada Yookyung—dan segera menepuk pundaknya.

“Naeun-ah, bantu aku mengikat dasi.” Abangnya, Dongwoon, tiba-tiba saja sudah berada disampingnya—memberikannya dasi krem favoritnya. Naeun meringis jengkel tetapi tetap membantu abangnya itu.

“Oppa, kau harus belajar mengikat dasi. Aish, menyusahkanku saja.” Rutuknya.

 

*

“Jangan mencari masalah denganku lagi, Wol. Aku sudah ratusan kali mengatakannya padamu.” Jongin mendorong wajah seorang lelaki yang sudah babak belur. Lelaki itu segera memeluk kaki Jongin, memohon ampun.

“Aku minta maaf, Kim Jongin. Maafkan aku.” Ujarnya—memohon.

“Aku tidak peduli. Jangan muncul dihadapanku lagi.” Ujarnya dingin. Sehun menepuk pundaknya, membuatnya segera berpaling. “Apa?”

“Sudah hampir jamnya.” Ujar Sehun datar, lalu kemudian berpaling kepada Hoo. “Berikan mereka uang. Dan setelah itu, pastikan mereka tidak akan mengganggu kami, maksudku, kita semua.” Ujar Sehun.

 

*

“Selamat ulangtahun pernikahan, Ayah! Ibu!” ujar Naeun, memeluk kedua orangtuanya sambil tersenyum lebar. Ayah dan Ibunya tersenyum dan memeluk anak gadis mereka. “Aku membelikan hadiah untuk ibu dan ayah.” Ujarnya—merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Dua boks berwarna putih dan hitam.

“Ini untuk Ayah.” Ujar Naeun, memberikan boks hitam kepada ayahnya. “Ini untuk ibu!” ujarnya lagi, memberikan boks putih kepada ibunya. “Apa kalian suka?” ujarnya. Kedua orangtuanya membuka boks mereka berdua masing-masing dan tersenyum senang.

“Ayah sangat menyukainya.” Komentar ayahnya. Ibunya mengangguk setuju dan mengecup pipi putrinya itu.

“Itu Tuan Kim dan Tuan Oh!” ujar salah satu tamu. Semua mata berbalik, begitupula Tuan Son dan istrinya. Tak terkecuali Naeun. Tuan Kim dan Tuan Oh yang dimaksud adalah Kai dan Sehun.

Kai sendiri tidak bisa menyembunyikan kekagetannya melihat gadis bernama Son Naeun berada didepan bersama dengan Tuan Son dan istrinya. Mencoba menghilangkan sedikit kekagetannya, ia tersenyum senang sambil menjabat tangan Tuan Son.

“Ah, Kai! Sudah lama tak bertemu denganmu. Bagaimana kabar perusahaanmu, anakku?” ujar Tuan Son—Kai sendiri tahu ada maksud dibalik itu, tetapi masa bodoh—sambil memeluknya hangat. “Dan Oh Sehun, lelaki muda yang memiliki potensi sangat besar!” ujarnya. Kai hanya memangut senyum.

“Aku dengar kau juga masuk SNU, Kai? Jurusan apa?” tanya Tuan Son, berbasa-basi. Kai mengendikkan bahu.

“Fakultas Kedokteran.” Komentarnya singkat.

“Ah, benarkan?! Kau tidak jadi mengambil bisnis managemen, nak?” tanya Tuan Son—sedikit senang dengan pilihannya.

“Tidak. Aku sudah belajar bisnis sejak SD, dan menurut semua pegawai perusahaan dan para senior lainnya aku sudah expert. Aku ingin mendalami ilmu kesehatan, sebagai bahan referensiku.” Komentar Kai asal.

Tawa Tuan Son menggelegar di lingkaran bangku itu. “Putriku juga mahasiswi kedokteran. Lulusan wanita satu-satunya yang mendapat nilai sempurna.” Ujar Tuan Son—berpura-pura bangga, dan menunjuk putrinya yang duduk tepat diseberang Kai. “Son Naeun.”

“Aku mengenalnya, Tuan. Kami duduk bersebelahan saat mata pelajaran pertama.” Jawab Kai sopan.

 

*

Son Naeun harus mengakui kelihaian Kai dalam mengganti-ganti topeng. Nyata saja—lelaki itu sangat ramah dihadapan semua tamu, terlebih didepan ayahnya. Dan ayahnya sangat menghormati dan menyayanginya, begitupula kepada Sehun.

“Kau sendirian terus?” Naeun terlonjak dan segera berbalik ke belakang. Kai sudah berada dibelakangnya—dengan segelas wine ditangan.

“Apa kau sudah cukup umur untuk minum itu?” tanya Naeun, curiga. Kai menggeleng. “Lalu?”

“Apa salahnya? Toh juga supir yang akan mengantarku nanti.” Komentarnya singkat. “Rumahmu bagus.” Komentarnya.

“Pasti rumahmu jauh lebih bagus, bukan?” Kai mendengus mendengar pertanyaan gadis itu. “Kenapa?”

“Itu terdengar seperti pernyataan dibandingkan dengan pertanyaan.” Ujarnya, meneguk wine yang ada ditangannya.

“Aku hanya penasaran.” Gumam Naeun—meresponnya singkat. Kai menyengir.

“Kau disayang oleh ayahmu, ya?” tanya Kai—sedikit terdengar nada ejekan didalamnya. “Tidak dalam arti posesif.”

“Ayah sangat mengagumi kejeniusanku. Katanya aku harus terus mengasahnya, supaya aku bisa melanjutkan perusahaan. Tetapi, aku memilih jurusan kedokteran. Oppa jauh lebih pintar dalam bisnis dibandingkan diriku.” Jawabnya. “Jenius.” Rekanya sinis.

“Lagipula, kau memang jenius.” Ujar Kai—tersenyum. Untuk pertama kalinya, Naeun beranggapan saat Kai tersenyum, ia menjadi lebih tampan.

“A-Aku memang jenius.” Ujarnya, sedikit kaku. Ingin menyombongkan diri awalnya. Kai tergelak, yang disusul oleh tawa Naeun.

“Hitam.” Kata yang akan dilontarkan Kai terhenti saat sebuah suara memanggilnya. Sehun. Lelaki itu memandang mereka berdua tanpa ekspresi, tetapi menatap  tajam Kai.

“Kenapa?” tanya Kai—air mukanya berubah serius. 180 derajat berbeda dengan Kai yang tadi. Sehun mengangkat handphone-nya, menunjukkan pesan teks dari seseorang tanpa nama.

“Anak-anak lain…” ujarnya pelan. Kai segera mengucapkan sumpah serapahnya dan segera melemparkan gelasnya—semua orang segera memandangnya saat mendengar suara pecahan kaca.

Larinya sangat cepat, disusul oleh Sehun yang membungkuk sebentar kepada Tuan Son dan istrinya dan menyusul Kai. Suara mobil yang distarter cepat terdengar dan melaju sangat cepat hingga Naeun sedikit kaget—juga bingung.

Hanya satu kata yang bisa ditangkap Naeun saat mencoba keras membaca pesan itu.

Dongdaemun 15th street.

Kai, kau… kenapa?

Advertisements

One response to “CRUEL [PART 1]

  1. Pingback: CRUEL [PART 5] | jolie fille·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s