Goodbye Summer

goodbyesummer

Goodbye Summer

 Title : Goodbye Summer

Cast : Oh Sehun / Seol Hanna

Storyline idea : zeya

BGM : Goodbye Summer – F(Amber,Luna,Krystal) ft. EXO-K’s D.O

Length : Oneshot / 3047

Storyline is mine. Character (except Seol Hanna) belong to theirselves and God.

 

The photos that can’t define our relationship is a heartbreaking story

“Oh, kau murid baru itu?” tanya pria itu. Gadis itu hanya mengangguk. “Aku Oh Sehun.”

“Seol Hanna.” Ujarnya. “Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?” tanya gadis itu.

“Dua minggu kemarin aku diluar negeri, lomba baseball.” Ujarnya—sedikit menyombongkan diri. “Kau tidak masuk kelas?”

“Guru yang mengajar tidak masuk. Aku tidak suka suasana kelas, terlalu bising.” Ujarnya. “Kau sendiri?”

“Aku berpura-pura minta izin ke toilet.” Tawa Sehun, diselangi tawa gadis itu. “Kau kerasan disini?” tanya Sehun, lagi. Hanna hanya mengendikkan bahunya.

“Belum terlalu, mungkin sebentar lagi.”

“OH SEHUN!” Lelaki itu berbalik dan berjalan mundur dua langkah saat melihat Yoon Saem mendekati mereka. Seol Hanna juga ikut melangkah mundur—takut dengan Yoon saem, dan takut juga ditimpa oleh Sehun.

“Kalian berdua sedang apa diluar?! Ini belum jam istirahat!” ujar Yoon saem galak. “Dan kau!” ujarnya, menatap Hanna—matanya membulat sangat besar hingga menurut Hanna matanya bisa saja keluar. “Kau ini masih murid baru tapi sudah berani melanggar peraturan!”

“Tapi saem!” ujar Hanna, mencoba membela diri. “Orang-orang dikelas saya ribut, saya tidak terlalu suka suasana ribut jadi saya keluar saja.”

“Kalian berdua!” ujar Yoon saem, dengan amarah yang masih di puncak kepalanya. “Berdiri di lapangan sampai jam istirahat berakhir. SEKARANG!” Teriak Yoon saem yang membuat Sehun dan Hanna segera berlari menuju lapangan sambil tertawa-tawa.

 

*

Oh Sehun masih mencuri-curi pandang pada gadis yang mulai mengipas-ngipas wajahnya yang terkena terik matahari. Dia sendiri masih bisa menahan terik panas, sedangkan kedua tangannya ia letakkan dalam kantung celananya.

“Saem! Apa hukuman kami sudah selesai?” teriak Sehun. Yoon Saem menghentikan fokusnya pada koran yang sedang dibacanya, dan menatap mereka berdua dengan teliti.

“Kalian berjanji tidak akan membolos kelas lagi?” tanya Yoon saem, yang hanya diangguki malas-malasan oleh mereka berdua. “Baiklah, kalian boleh istirahat.” Hanna segera berjalan sambil menghela napas dan mengipas-ngipas wajahnya yang memerah karena panas.

“Kau mau ke kantin?” tanya Sehun seraya menyejajarkan langkah kakinya dengan gadis itu. Hanna hanya mengangguk, masih mengipas-ngipas wajahnya. “Wanita memang terlalu lemah.” Ejeknya. Hanna memukul lengannya sambil berpura-pura merengut.

“Kalian saja yang tidak mengerti perasaan wanita.” Ejek Hanna. “Kau mau makan apa? Hari ini aku yang traktir.” Ujar Hanna. Oh Sehun tertawa terbahak. “Ya! Kenapa kau tertawa?” tanyanya.

“Kau baru mengenalku tadi.” Ujar Sehun. Hanna mengendikkan bahu.

“Kau orang pertama yang bisa tahan lama bicara denganku. Ini pujian dan hadiah selamat untukmu.” Ujar Hanna, berjalan mendahului Sehun menuju penjual ttokppoki. “Ahjuhssi, ttokppoki-nya satu.” Ujarnya. “Kau mau apa?”

“Sama saja denganmu.”

Sehun kembali memperhatikan gadis itu. Menarik, pikirnya.

 

*

“Hanna-ya, Sehun sudah menunggumu.” Hanna—yang baru saja memasukkan buku Fisikanya kedalam tas berbalik dan melihat Soojung sudah menunjuk seorang pria yang bersandar di pintu kelasnya. Gadis itu tersenyum. “Melihat kalian seperti ini, kalian memang benar ya?” ujar Soojung.

“Benar apanya?” ujar gadis itu, mengambil dompet dalam tasnya, lalu berdiri.

“Kalian berdua pacaran.” Ujar Soojung. Hanna tertawa.

“Kami tidak pacaran, tau.” Ujar Hanna, menjitak jidat Soojung. “Kami berteman baik, itu saja.” Hanna memamerkan giginya.

“Ya! Seol Hanna! Cepat, aku sudah lapar.” Lelaki yang bersandar di pintu kelas akhirnya angkat bicara. Hanna tertawa, dan segera berjalan cepat menuju pria itu. Lelaki itu mengacak rambut gadis itu gemas lalu merangkulnya.

“Seperti itu kalian tidak bilang pacaran?” sungut Soojung.

Sehun melepaskan rangkulannya saat handphone-ya berdering. “Oh, ya? Aku tidak bisa, ma.” Lalu telepon terputus. Hanna mengernyit. “Ibuku.” Ujarnya. Bibir gadis itu membentuk o bulat. “Menyuruhku ikut kencan buta. Sangat tidak berguna.”

“Memangnya kau punya pacar?” sindir Hanna, mengejeknya. “Selama ini gadis-gadis itu tidak berani mendekatimu karena kau selalu menempel padaku, Sehun. Kau butuh pacar.” Ujar Hanna, akhirnya. Sehun tidak merespon.

“Aku sudah nyaman denganmu. Biar saja aku tidak punya pacar. Daripada aku tidak bisa jalan bersamamu lagi.” Dalam artian aku menyukaimu bodoh, batinnya.

Hanna mencoba mengatur detak jantungnya yang mulai tidak beraturan. Sudah berapa kali ia merasakan jantungnya berdetak tidak normal setiap bersama dengan Sehun. Kali ini, ia harus mengakui badannya terasa panas dan paru-parunya seperti kekurangan oksigen.

Ia tidak mungkin menyukai sahabatnya sendiri, bukan?

“Kau kosong malam ini?” tanya Sehun, Hanna menggeleng. “Ada film premiere malam ini, shall we?” ujarnya, menggunakan bahasa inggris seadanya—yang selalu menjadi tawaan Hanna.

“Bahasa inggrismu. Masih jelek sekali.” Ejeknya. “Jam berapa? Aku tidak boleh sampai malam, seperti kemarin. Ayahku sempat marah.” Ujarnya. Sehun tertawa mengingat kejadian itu. Mereka terlambat pulang karena keasyikan bermain di tempat bermain di salah satu mall.

“Tenang saja, jam 9 tepat kau akan sampai dirumah. Aku jemput jam 5 nanti, filmnya jam 6 saja ya?” ujarnya. Hanna hanya mengangguk.

“Ahjuhssi, yang biasa dua!” ujar Hanna, lalu memandang Sehun dan membentuk tadi peace sambil tersenyum memamerkan giginya. Sehun hanya taertawa dan kembali merangkul gadis itu sambil menariknya menuju bangku duduk mereka yang seperti biasa.

 

*

Kenapa kami harus bersahabat?

Pertanyaan ini menempel dikepala Sehun berbulan-bulan setelah ia berkenalan dengan Hanna. Seharusnya, ia bisa saja menyatakan perasaannya pada Hanna lalu mereka sekarang ada ditahap berpacaran yang bisa saja berlanjut ke jenjang apapun.

Tapi, kenapa mereka menjadi bersahabat?

“Persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu rata-rata tidak akan ada yang berhasil, Sehun.” Ujar kakak dormnya, Joonmyun. “Salah satu, atau keduanya akan berharap lebih, nantinya.”

Sialnya, hal itu benar. Lelaki itu berharap lebih. Ia berharap ia tidak hanya menjadi sahabat Hanna.

“Sudah lama menunggu?” suara gadis itu membuyarkan lamunannya. Seol Hanna mengenakan celana hotpants favoritnya dan juga tanktop kesukaannya—hijau. “Udara terlalu panas. Summer memang melelahkan.”

“Tapi ini malam, Hanna. Nanti kau masuk angin.” Ujarnya—berusaha menyembunyikan rasa khawatirnya.

“Aku kuat. Ayo!” ujarnya, naik ke jok belakang motor lelaki itu. “Ngebut, ya?” ejeknya. Sehun mendecak kesal sambil tertawa.

“Jangan salahkan aku kalau nanti kau akan jantungan.” Ujarnya. “Pegangan erat-erat, Hanna!” ujarnya. Hanna memeluk pinggangnya, erat.

Sehun merasakan bahwa ia memang harus melindungi gadis itu.

 

*

“Filmnya membosankan.” Komentar Hanna setelah menyeruput habis mochacinno-nya. Sehun menyerahkan punyanya, yang disambut bahagia oleh gadis itu. “Aku pikir ceritanya akan mengerikan seperti poster filmnya.” Komentarnya lagi. Sehun hanya tertawa.

“Padahal kau tadi berteriak dan menutup mata saat bagian pembunuhannya.” Ejek Sehun, Hanna tertawa hambar sambil menyeruput minuman—milik Sehun, lagi. “Tapi, kau tampaknya tidak marah karena kutipu menonton film horror tadi.”

“Aku tau ujung-ujungnya akan berakhir ke film horror, Sehun.” Ujarnya jengkel.

“Hanna-ya.” Panggilnya. “Bulan depan kita sudah ujian akhir, bukan?” tanyanya, mengubah topik. Hanna hanya mengangguk. “Kau akan melanjutkan kuliah dimana?”

“Seoul.” Ujarnya—mantap. Sehun tau itu. Gadis itu selalu bercita-cita menjadi sutradara film. Nilai seninya selalu bagus, disekolahnya di Jepang dulu, dia pernah menang kompetisi film pendek dua kali berturut-turut. Seoul Academy of Film, pasti ia bisa mencapainya.

“Kau sendiri?” tanyanya, membuang kedua botol minuman mereka.

“Aku… akan keluar negeri.” Hanna terdiam beberapa saat. Sehun merutuk dirinya sendiri karena memberitahu gadis ini terlalu cepat. “Bisnis. Melanjutkan perusahaan Ayah. Dan selesai.” Lanjutnya—sedikit terbata.

“Itu bagus.”Komentarnya. “Selamat berjuang, Oh Sehun!” ujarnya, menepuk pundak lelaki itu dengan sedikit berjinjit.

Kalau kau memintaku untuk tinggal, aku bersedia, batinnya.

Sedikit perasaan di hati Hanna menciut, ia belum terlalu pantas untuk Oh Sehun. Kodrat keluarganya yang tinggi dan otaknya yang cemerlang membuatnya berbeda dari lelaki itu.

Tapi, perasaan tidak memandang apapun.

 

*

“Sehun-ah, cepatlah. Nanti acaranya mulai!” Kai memukul punggung Sehun sambil berjalan cepat menuju gerbang sekolah, dengan kumpulan murid laki-laki kelas mereka berdua.

“Tunggu sebentar!” ujarnya, menunduk untuk memperbaiki tali sepatunya.

“Kau sudah lama menunggu?” Sehun segera berdiri tegap dan tercengang. Seol Hanna berdiri dihadapannya memakai dress pendek berwarna putih dan sepatu heels—yang Sehun belikan dengan paksaan darinya untuk Hanna.

“Uwa, kau bisa berdandan seperti perempuan juga.” Ujarnya—berusaha menutupi kegugupannya.

“Ergh, aku benci heels.” Ujar Hanna, yang sebenarnya menyindir Sehun. Benar saja, Sehun menariknya ke bermacam toko sepatu kemarin hanya untuk membelikan gadis itu high-heels hanya untuk hari ini.

“Kau harus belajar menjadi perempuan, Seol Hanna.” Ejek Sehun sambil menarik lengan gadis itu.

“Ya! Pelan-pelan, aku tidak tau jalan dengan heels!” rontanya. Sehun hanya tertawa sambil tetap menarik gadis itu menuju gerbang sekolah.

Seol Hanna, kita berpisah di musim panas kesukaanku.

*

Saat pengumuman kelulusan selesai, Sehun dengan cepat mencari keberadaan Hanna. “Soojung-ah, kau lihat Hanna?” tanyanya.

“Oh, dia kebelakang tadi.” Ujarnya, kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Sehun. “Dia sepertinya menangis. Cepat kesana.” Bisiknya.

Seol Hanna menghembuskan napasnya. Ia sudah lulus, ia mendapatkan beasiswa ke Seoul Academy of Film. Ia mendapatkan pekerjaan menjadi ‘anak kacang’ pada sebuah proyek film. Ia mendapatkan yang ia inginkan, tapi ia masih mengerucutkan bibirnya.

“Kau meninggalkan aku dikerumunan itu.” Hanna berbalik dan melihat Sehun sudah berdiri dengan tangan dikantong celananya. Hanna hanya tersenyum kecil dan kembali menunduk. Ia bisa mendengar Sehun melangkah dan duduk disebelahnya.

“Selamat, Oh Sehun.” Ujarnya.

“Kau juga, Seol Hanna.” Hening terjadi diantara mereka berdua. Hanna meneteskan airmatanya secara tiba-tiba, dan terisak. Oh Sehun segera merangkul gadis itu. “Hanna-ya, kau kenapa?”

Hanna menggigit bibir bawahnya. Ia tidak bisa mengatakan pada Sehun bahwa ia tidak ingin lelaki itu pergi keluar negeri. Ia ingin lelaki itu ada disini menemaninya.

“Mian.” Bisik Sehun. “Mian. Mian.” Tangis gadis itu pecah semakin keras. Oh Sehun menahan airmatanya sekuat tenaga.

Aku ingin sekali mengaku, Seol Hanna.

 

*

“Seol Hanna! Kau disuruh menyanyi untuk penutupan acara kelulusan!!” ujar Soojung. Hanna mendongak karena bingung.

“Kenapa aku?”

“Kaeun dan Dongho mengecek mapmu dan menemukan piagam juara 1 lomba menyanyi saat kau SMA di Osaka.” Kikik Soojung.

“YA! SHIN DONGHO!” Hanna memukul punggung temannya itu yang tertawa-tawa. Kaeun segera menghindar dan bersembunyi dibelakang pacarnya, Hyunwoo.

“Aish, Hyunwoo-ya, minggir! Aku mau memukul pacarmu itu. Dia menjengkelkan!” ujar Hanna protes. Lehernya segera dirangkul oleh Sehun. Murid-murid segera berseru-seru.

“Kau diam dan maju saja. Atau nanti aku akan menyebar foto kecil mu.” Ujar Sehun sambil mengacak-acak rambut Hanna.

“Aish, baiklah baiklah. Aku akan maju. Kalian ini benar-benar menjebakku.” Ujar Hanna sambil berjalan maju. Meminjam gitar dari salah seorang temannya, ia duduk dan mulai memetik gitar.

 

Gieokhae bokdoeseo tteodeulda gachi honnadeon uri dul
Beolseomyeonseodo wae geurido jeulgeowonneunji arasseo
Geunal ihuro (yeah yeah) urin neul (yeah yeah)
Ssangdungi byeoljaricheoreom neon na naneun neoyeosseo

Joreophagi jeonnal manhi uldeon neo namjarago kkuk chamdeon neo
Hago sipeotdeon mal motago tteugeowotdeon geu yeoreumcheoreom annyeong

Chinguraneun ireum eoneusae miwojin ireum
Gamchudeon gamjeongeun jigeumdo apeun bimirui gieogil ppun
Uri sain jeongnihal su eomneun sajin bomyeon gaseum arin story,
I’m sorry yeoreuma ijen goodbye yay-yeah

*

“Kau kapan akan berangkat?” tanya Hanna saat mereka berdua berjalan bersama menuju rumah mereka. Sehun mengendikkan bahunya.

“Tidak tau. Aku belum memesan tiket sama sekali.” Respon Sehun. Hanna hanya mengangguk-angguk. “Kau sendiri? Kau akan liburan ke Jepang sebelum masuk kuliah, bukan?” tanya Sehun.

“Entah. Aku tidak tau. Mungkin aku akan disini saja.” Gumamnya. “Selamat, Oh Sehun. Sekali lagi.” Ujarnya. Merentangkan tangannya, menunggu lelaki itu memberinya pelukan. Dengan cepat, gadis itu sudah berada dipelukan lelaki itu. Dipeluk dengan eratnya.

“Selamat, Seol Hanna.” Bisiknya. Aku akan merindukanmu, bisiknya dalam hati.

“Ya! Aku tidak bisa bernapas.” Ujar Hanna, memukul punggung lelaki itu pelan. Sampai jumpa, Oh Sehun, batinnya.

“Kau pulang saja, ya. Aku sisa belok ke kiri, bukan?” ujar Hanna, merapikan bajunya. “Sampai bertemu nanti, Oh Sehun.” Gadis itu berjalan menuju gerbang perumahan disamping kirinya. Pelan dan tanpa semangat. Pria itu hanya bisa memandang punggung gadis itu yang semakin menjauh dan semakin menghilang.

“Seol Hanna, neon na joha. Jinjja joha. (Seol Hanna, aku menyukaimu. Sangat menyukaimu.)”

 

*

Puluhan kertas yang diremas terserak dilantai bertambah lagi. Oh Sehun kembali menulis. Uri yeppeun Seol Hanna, begitu awal dari surat tersebut. Oh Sehun menggigit ujung pensilnya, berpikir. Kemudian jemarinya kembali menulis dengan style tulisannya yang termasuk sedikit hancur.

 

Aku tidak jujur padamu selama ini Hanna. Tampaknya aku memang terlalu bodoh. Tetap mempertahankan status sebagai seorang teman denganmu, sedangkan peluangku sebenarnya sangat besar untuk mendapatkan status lebih daripada seorang teman ataupun sahabat darimu. Tapi tampaknya aku terlalu takut.

Seol Hanna, kalau sekarang aku mengatakan aku menyukaimu, apa yang akan kau lakukan? Kau mau menungguku? Sampai aku selesai kuliah nanti? Aku janji akan kembali kesini saat musim panas. Supaya aku bisa melihat dirimu dengan cahaya matahari yang teraaang benderang.

Niga jaeil joha, Seol Hanna. (Kau yang terbaik, Seol Hanna). Aku menunggu jawaban darimu, kau tahu? Aku menunggunya.

Oh Sehun melipat surat itu dan memasukkannya dalam amplop. Dengan cepat ia keluar rumah dan memasukkan surat itu ke kotak pos, berharap surat itu segera dikirim esok pagi.

 

*

“Hanna-ya, surat untukmu.” Ujar ibunya. Seol Hanna segera turun dan mengambil surat dari tangan ibunya, kemudian masuk ke kamarnya.

From : Oh Sehun

For : Seol Hanna

PS: Ini supaya aku terdengar lebih romantis dari sebenarnya. Kkk.

Seol Hanna membuka surat tersebut dan segera membacanya. Gadis itu tersenyum-senyum sendiri seperti orang kesurupan. Ayahnya yang tidak sengaja melewati kamarnya sedikit bingung melihat putrinya, kemudian tau apa yang putrinya sedang alami.

 

Seol Hanna, besok aku akan berangkat ke Australia (kau tau bahasa inggrisku hancur, aku pasti akan sulit beradaptasi). Tapi, kau mau mengantarku ke bandara? Ucapan perpisahan? Kau bisa mengajak yang lain kalau kau mau.

Aku serius. Aku ingin kau ikut.

Aku menunggumu dirumahku besok. Kau mau kan?

 

Oh Sehun, xoxo.

Seol Hanna segera mengambil handphone-nya dan menekan speed dialnya. “Ya! Soojung-ah! Kau harus ke rumahku sekarang, aku ingin membuat kejutan untuk keberangkatan Sehun besok… Umm, dia akan berangkat besok. Kau bisa kan? Ajak Jongin dan teman-teman yang lain. Okay, arasseo. Mmm, aku tutup.”

Seol Hanna segera bersiap dan membuat projectnya. Sebuah pesan masuk. Dari Oh Sehun.

 

Kau mau jalan?

Hanna segera membalasnya singkat.

Ani, bappa. (Tidak, aku sibuk.)

Hanna tertawa melihat balasannya pada Oh Sehun. Soojung memasuki kamarnya, bersama dengan teman-teman yang lain. “Oh, kalian sudah datang. Jadi, kita akan melakukannya seperti ini…….”

 

*

Oh Sehun segera memasukkan koper terakhirnya ke mobil. Seol Hanna belum datang, tetapi Soojung, Jongin, dan teman-temannya yang lain sudah ada disana—dengan mobil milik Hyunwoo—tetapi gadis itu belum menampakkan batang hidungnya.

“Ya! Kau harus berangkat sekarang. Nanti kau ketinggalan pesawat. Ayo.” Ujar Jongin memukul pundaknya pelan, lalu masuk ke mobil Hyunwoo. Sehun hanya mengangguk lalu masuk ke mobil.

Jongin dan Soojung saling meng-highfive satu sama lain, merasa sudah hampir berhasil.

Kedua mobil berjalan menuju bandara. Disisi lain, Hanna sudah bersiap dengan kejutannya. Ia akan muncul tiba-tiba dari arah lain. Mengejutkan laki-laki itu dengan lantunan gitarnya.

Telepon genggamnya berbunyi. Pesan dari Soojung.

 

Kami hampir sampai, bersiap!

Seol Hanna segera berpamitan dari relatifnya yang bekerja di bandara, yang memberinya kesempatan melakukan kejutan ini.

Kejutan ini harus berhasil, pikirnya.

 

*

Sehun mendorong troli kopernya sambil memperhatikan pengunjung, berharap salah satunya adalah Hanna. Tapi, lelaki itu tidak menemukan siluet wajah gadis itu sama sekali. Membuat lelaki itu kecewa.

“Annyeong haseyo.” Oh Sehun segera terdiam mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. “Seol Hanna imnida.” Suara dari speaker kembali terdengar. “Maafkan saya karena mengganggu aktivitas yang anda lakukan sekarang. Saya hanya ingin menyampaikan satu pemberitahuan. Oh Sehun, kau berani mencariku sekarang?”

Oh Sehun menatap teman-temannya yang tiba-tiba menghilang dari tempat mereka semula berada. Lelaki itu menitipkan trolinya pada orangtuanya, lalu kemudian masuk kedalam.

“Aku harus menjawab pertanyaanmu. Tapi, kau harus mencariku. Waktumu hanya sampai waktu boardingmu, Oh Sehun. Kau berjanji akan melindungiku, ‘kan? Artinya, kau harus bisa menemukanku. Hwaiting, Sehun!”

Senyum laki-laki mengembang. Ia tau gadis itu akan kemana nantinya. Terbiasa berlari, lelaki itu segera berlari dan mencari gadis itu. Memperhatikan orang demi orang, tempat demi tempat.

Gadis itu memang ada disana. Bersama teman-teman yang lain. Menatapnya sambil tersenyum. Mengenakan dress yang dipilih lelaki itu dengan cardigan paling feminim yang dimilikinya. Rambutnya tergerai. Laki-laki itu melangkahkan kakinya setapak demi setapak. Gadis itu mulai menyanyi.

 

What do i say we didn’t have to play no games
I should’ve took that chance i should’ve asked for u to stay
And it gets me down the unsaid words that still remain
Sijakhajido anko kkeutnabeorin iyagi

Chukje majimak nal neoui noraedo areunhan yeoreum badado
Hamkkeraseo sojunghaetdeon mam neujeoganeun bam haneulcheoreom annyeong

Chinguraneun ireum eoneusae miwojin ireum
Gamchudeon gamjeongeun jigeumdo apeun bimirui gieogil ppun
Uri sain jeongnihal su eomneun sajin bomyeon gaseum arin story,
I’m sorry yeoreuma ijen goodbye yay-yeah

 

“Apa ini?” ujar Sehun, tertawa. Hanna segera melepaskan gitarnya dan tetap memadangnya. Para penumpang yang sedang menunggu memperhatikan mereka berdua, berkumpul.

“Aku berjanji akan menjawab pertanyaanmu.” Jawab Hanna, terkekeh pelan. “Aku harus menyesuaikan penampilanku dengan keinginanmu, sebenarnya. Agak melelahkan tapi setidaknya aku mencoba.” Tawa gadis itu.

Oh Sehun segera memeluk gadis itu, membuat semua orang menyeru-nyerukan nama mereka berdua. Hanna hanya tersenyum-senyum. “Johahae, Seol Hanna.” Ujar lelaki itu.

“Na do.” Balasnya, memeluk lelaki itu erat.

Seruan semua orang tidak berhenti. Banyak orang yang berteriak meminta jawaban Hanna, banyak meminta mereka berciuman, banyak yang meminta mereka berhenti. Tapi mereka berdua masih disana.

 

*

“Uwah, anak kalian lucu sekali.” Ujar Hanna, menggendong Su-in, putri Soojung dan Jongin. “Untung dia tidak mewarisi wajah ayahnya dan ibunya, malah mewarisi wajah kakakmu.” Ejek Hanna. Soojung segera memukul pundak sahabatnya itu gemas.

“Kau sendiri?” ejek Soojung.

“Aku dan Sehun masih fokus sekolah. Tidak seperti kalian yang—” mulut Hanna terbekap oleh Soojung sedangkan Jongin menutup telinga putri mereka.

“Ya! Jaga mulutmu!” ujar Soojung. Hanna tertawa. “Kapan kalian menikah?” tanyanya. Hanna mengeluarkan udangan dari tas kecilnya dengan cepat. “Uwah! Jongin-ah!” ujar Soojung.

“Bulan depan. Setelah aku dan dia wisuda bulan ini. Kami pintar, bukan? Setelah itu mungkin kami akan membuka bisnis bersama.” Ujar Hanna.

“Hanna-ya, kami ada kejutan untukmu.” Ujar Soojung. Hanna mengernyit. “Tutup matamu. Jongin-ah!” ujarnya—menginstruksikan suaminya untuk segera keluar. Hanna menghela napas sambil berusaha menormalkan detak jantungnya. Ini aneh, pikirnya.

“Saengil chukha hamnida, saengil chukha hamnida! Saranghaneun uri Hanna, saengil chukha hamnida!” gadis itu membuka matanya cepat. Seorang lelaki bersosok tinggi tegap, dengan kaus sleeveless yang menjadi favoritnya dan celana puntung berada didepannya. Tersenyum sambil menenteng kue tart yang bernyalakan lilin ‘23’ diatasnya.

“Saengil chukha, Seol Hanna?” ujar lelaki itu—memindahkan kue ketangan Jongin dan melebarkan tangannya. Dan selang beberapa detik, gadis itu sudah ada dalam pelukannya.

Lalu, Oh Sehun membisikkan barisan kalimat untuk gadis itu.

If only our long-time hidden secrets were revealed

I would hold you in my arms

Hanna membalas—seraya memperat pelukannya.

Its already revealed.

You can hold me forever now

*

“Eomma!” seorang anak lelaki berumur 6 tahun segera memeluk ibunya.

“Jun-ah, bagaimana sekolahmu hari ini?” ujar ibunya—mengusap rambut putranya. Anak lelaki itu tersenyum—memamerkan giginya yang ompong disebelah kiri.

“Aku ingin memperkenalkan eomma dan appa teman baruku.” Ujar anaknya. Hanna segera berpandangan dengan suaminya—Sehun. Seorang anak perempuan yang sedari tadi berdiri 4 langkah dibelakang Jun hanya diam sambil memandang kejalan.

“Sena-ya, kemari!” ujar Jun—melepaskan pelukannya, dan menarik gadis itu. “Ini eomma dan appa-ku.” Ujarnya—bangga.

“Annyeong haseyo, Han Sena imnida.” Ujar anak perempuan itu, membungkuk hormat.

“Eomma, Appa. Aku suka Sena.” Ujar putranya polos. Hanna dan Sehun berpandangan dan tertawa, tampaknya berpikiran sama.

“Kembali berulang?” ujar mereka berdua bersamaan, lalu kembali tertawa.

 

The End

Jalur ceritanya agak absurd, dipercepat. Menyebabkan Sehun agak nista disini ((padahal kamu ganteng loh, Sehun)). Pasti kecewa sama fic saya yang ini. Saya aja kecewa /apa. Ya, ini percobaan menggunakan member EXO, soalnya saya gatau mau pake cast siapa lagi. Yang agak booming sekarang soalnya EXO kan ya, jadi begitulah. Albumnya f(x) yang Pink Tape benar-benar membantu dalam pembuatan fanfic ini ((walaupun lagu Goodbye Summer yang paling berperan tentunya)). Semoga menyukai fanfic ini. Tunggu fanfic selanjutnya ;;)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s