Be With You

bewithyou

Be With You

Title : Be With You

Author : Zeya

Length : Ficlet/Oneshot

Genre : Angst/Romance/AU

Casts: Do Kyungsoo (EXO-K) | Lee Sunhye (OC)

Disclaimer : I own the storyline and the ocs. All the artists that contained in this fanfic weren’t mine, but they’re belong to theirselves and their agencies and families. Do not copying without permission!

Backsound : The Seeya – Be With You

**

To me, you’re a dream and pain as well

Semilir angin musim semi. Kesukaan lelaki itu.

Lee Sunhye mengetuk kepalanya, keras. Merasa bodoh dengan ucapannya. Tidak boleh mengingatnya! Gadis itu kembali menggerakkan joystick kursi rodanya kearah timur, meraba bunga-bunga yang baru bermekaran.

Klik!

Gadis itu menghela napas panjang. Ia tau itu lelaki yang sama yang datang. Lelaki yang ia harapkan tidak muncul lagi dihadapannya.

“Hasilnya cantik.” Ujar lelaki itu, tersenyum menurut gadis itu. Sunhye mendengus.

“Biarpun kau bilang bagus, aku tidak bisa melihatnya, Do Kyungsoo.” Ujar Sunhye, suaranya bergetar.

“Kau bisa melihat.” Ujar Kyungsoo, sedikit dingin. “Kau pasti bisa!” ujar lelaki itu lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras.

“Aku sudah bilang berkali-kali, Do Kyungsoo! Aku buta! Aku bukan lagi Lee Sunhye, seorang model fresh dari Korea Selatan! Aku Lee Sunhye, mantan model yang sudah buta dan lumpuh!” bentak gadis itu, menangis.

Hening sejenak. Gadis itu hanya menikmati terpaan angin kewajahnya. “Tapi…” gumam Kyungsoo, memecah keheningan.

“Do Kyungsoo, aku buta. Kau tidak. Aku tidak sempurna lagi, kau masih sempurna. Cari saja gadis lain diluar sana. Aku tidak bisa, Kyungsoo. Gadis lain bisa.” Ujar Sunhye, mendengus.

“Tapi aku menyukaimu—mencintaimu tepatnya… Bukan menyukai ataupun mencintai gadis lain.” Ujar Kyungsoo, datar. Sunhye dapat menilai lelaki itu tengah menatapnya, seperti memohon.

“Jangan menyukaiku, ataupun mencintaiku.” Ujar gadis itu datar, kemudian menggerakkan joysticknya, yang ditahan oleh lelaki itu.

“Didepan itu kolam. Ayo, kuantar ke kamarmu.” Ujar lelaki itu, ramah. Tidak ada respon dari gadis itu, gadis itu hanya diam.

 

*

“Aku akan ke Amerika, Lee Sunhye.” Ujar Kyungsoo, berusaha menutupi keraguannya didepan gadis itu. Gadis itu mungkin tidak bisa melihat, tapi gadis itu pasti tau apa yang ia sedang rasakan sekarang.

“Oh.” Respon singkat, tapi senyum berkembang di sudut bibir lelaki itu. Air muka gadis itu berubah, sedikit tertekuk.

“Apa kau akan merindukanku?” tanya Kyungsoo. Gadis itu terdiam. Tidak memberi respon. “Lee Sunhye?” panggil lelaki itu.

“Tidak, aku tidak akan rindu padamu.”

Ia baru saja ditikam dengan jutaan pisau dan diiris oleh belasan pisau iris. Gadis itu tidak akan merindunya. Do Kyungsoo melangkah maju, kemudian mendekap gadis itu dipelukannya, lembut dengan penuh kasih sayang.

“Apa yang sedang kau lakukan, Kyungsoo? Lepaskan.” Ujar gadis itu dingin, meraba tangannya, mencoba melepaskan dekapan lelaki itu darinya. Tangan gadis itu tidak sekuat dekapan lelaki itu padanya.

“Aku menyayangimu. Larang aku pergi, kumohon.” Bisik lelaki itu, pelan tapi penuh dengan pengharapan.

 

*

Suasana cafe Rumah Sakit terlihat santai dengan alunan musik jazz dari speaker. Sunhye dan dr. Park, Chanyeol—sahabat lamanya tengah berbincang. Sunhye meraba meja dan mencari cappucinno-nya. Chanyeol, dengan sigap mengambilkan cappucinno gadis itu.

“Ini.” Ujarnya, tersenyum. Sunhye hanya mengangguk, lalu kemudian menyesap cappucino-nya dan meletakkannya dimeja.

“Aku tidak butuh donor mata. Toh juga, sebentar lagi aku akan mati.” Tegas gadis itu, lagi.

“Sunhye-ya, kau bisa sembuh. Kumohon, jangan keras kepala.” Ujar Chanyeol, meraih tangan gadis itu, tertepis.

“Bisa melihat, tapi tidak bisa berjalan. Untuk apa, Chanyeol?” dengus Sunhye, kesal. “Aku tidak perlu donor mata, Park Chanyeol.” Ujar Sunhye, tersenyum kearahnya—mungkin.

“Kita bisa memberikanmu kaki baru, Sunhye. Kumohon cobalah.”

“Siapa pendonor matanya?”

“Do Kyungsoo.”

Napas Sunhye tertahan.

 

*

“KAU BAJINGAN!” Bentak Sunhye tepat saat Do Kyungsoo masuk. Tidak perlu ditanya, itu pasti Kyungsoo. Aroma burberry dari tubuh kurusnya selalu tercium, dan hanya dia yang berbau burberry sepanjang hidup Sunhye mencium bau.

“Apa… maksudmu?” tanya Kyungsoo.

“JANGAN BERTINGKAH SEPERTI KAU TIDAK TAU, DO KYUNGSOO! KAU BAJINGAN! BRENGSEK!” bentak Sunhye lagi, tidak menatap kearah lelaki itu, malu terlihat menangis. Tapi Kyungsoo berpikir lain, ia meraih dagu gadis itu, membuat gadis itu menatap kearahnya, walaupun ia tidak bisa. Ia bisa merasakan desahan napas lelaki itu beberapa senti didepannya.

“Ada apa, Lee Sunhye?” ucapan Kyungsoo itu menyadarkannya. Segera ia menepis tangan Kyungsoo lalu tertawa sinis.

“Amerika? Kau bilang ke Amerika? Ke Amerika untuk apa? Memberikan kornea matamu padaku?” pertanyaan Sunhye menjadi skakmat untuknya. Darimana gadis itu tau?

“D-darimana….”

“Aku tau? Kau tidak pintar berbohong, Do Kyungsoo. Kau tidak menyuruh Park Chanyeol menyembunyikannya dariku, bukan?” sindir gadis itu. Kyungsoo mengerjapkan matanya. Benar! Kenapa ia bisa melupakan detail sekecil itu, Chanyeol.

“Kenapa, Kyungsoo? Aku tidak butuh rasa kasihan. Sama sekali tidak. Bukannya kau mempunyai cita-cita? Menjadi fotografer? Raih saja cita-citamu, jangan libatkan aku dalam kehidupanmu.” Lirih Sunhye. “Aku tidak bisa masuk kedalam cerita hidupmu, Kyungsoo. Tidak sama sekali.”

 

*

Selama ini, Lee Sunhye berbohong. Ia tidak pernah membenci Do Kyungsoo. Ia tidak pernah sedikitpun membeci lelaki itu. Profesi menjadi teman menjadi rasa suka itu, membuat gadis itu tidak berpisah dengan lelaki itu. Membuat gadis itu perlahan-lahan mencintai lelaki itu.

Ketika ia mengalami kecelakaan saat berumur 16 tahun, kebutaan ¾ permanen yang dideritanya, kakinya yang patah, terjadinya pembengkakan di otak kanannya, membuat gadis itu kehilangan harapannya disemua hal. Ia tidak bisa menjadi desainer seperti yang diimpikannya, ia tidak bisa bersama-sama dengan lelaki itu lagi.

Ia memutuskan ia harus membenci lelaki itu. Ia memutuskan lelaki itu harus melupakannya. Karena walaupun lelaki itu selalu menyebutnya seorang sleeping beauty—karena hobi tidurnya—ia tidak bisa menjadi sleeping beauty yang akan terbangun saat prince charming mengecup bibirnya. Ia akan tetap tertidur nantinya.

“Benci aku semampumu, Kyungsoo.”

Gadis itu mendengus kesal mengingat kata-katanya pada lelaki itu. Ia menjilat ludahnya sendiri. Ia saja tidak mampu membenci lelaki itu, tapi ia meminta lelaki itu membencinya, sangat tidak adil.

“Sedang memikirkan apa?” suara lembut itu membuat gadis itu tersadar. Kakak perempuannya, Lee Sunhee menepuk pundaknya.

“Oh eonnie.” Gumamnya, meraba—mencari tangan kakaknya. “Sunhye hanya melamun, tidak memikirkan apa-apa kok.” Dustanya, kembali tersenyum entah diarah yang benar atau salah.

“Sunhye, kau berbohong.”

“Aku menyukai Kyungsoo, eonnie.”

 

*

Pengakuan termanis wanita itu disaat ia membohongi Kyungsoo.

Sunhee terenyak mendengar pengakuan adiknya, senyum manis dibibir adiknya itu menghilang. Adiknya terkekeh kecil. “Aku menyukainya. Sejak kali ketiga aku bekerja sama dengannya, pemotretan majalah Chic. Eonnie masih ingat?”

Sunhee  meneguk ludah. Dia tidak mungkin lupa. Adiknya adalah seorang yang dingin dan tidak suka menampilkan senyum, kecuali saat menjadi tugasnya saat pemotretan dengan tema cheerful, bukan tema kesukaannya, tetapi menantang.

Do Kyungsoo adalah fotografer terkenal yang jam terbangnya cukup banyak diumurnya yang masih terbilang muda. Lelaki itu menjadi fotografer tetap adiknya yang ditunjuk oleh agensi Sunhye. Membuat gadis itu sedikit risih karena ia tidak sudah berlama-lama dengan satu fotografer. Membosankan, katanya.

Adiknya menelan ludahnya sendiri. Sejak dari awal ia melihat Kyungsoo, ia berpikir lelaki itu agak menarik perhatiannya, sesuatu dari lelaki itu menariknya. Lelaki itu terus mengajaknya mengobrol, Sunhee—yang notabene adalah manager Sunhye—hanya bisa mengernyit tiap melihat lelaki itu mengajak adiknya berbicara. Mencoba membuat adiknya tertawa, walaupun selalu gagal.

“Kenapa kau mengajak adikku berbicara?” tanya Sunhee saat mengahampiri Kyungsoo yang sibuk memperhatikan hasil jepretannya di kamera kesayangannya. Lelaki itu menoleh.

“Aku menyukai adikmu, noona.” Jawabnya singkat, ditambah dengan senyuman yang terbentuk diwajahnya yang lucu. Jawaban singkat itu tidak pernah terbayangkan oleh Sunhee sebelumnya. Esoknya, adiknya mengatakan hal yang sama.

Tapi, kecelakaan itu merubah segalanya.

 

*

“Sunhye-ya.”

Gadis itu terperanjat. Ia menoleh kearah kiri yang menurutnya merupakan asal suara yang sangat dikenalnya itu.

“Aku minta maaf.”

Gadis itu dengan susah payah menahan airmatanya. Ia meremas selimut dikasurnya, berusaha terlihat marah walaupun sebenarnya ia merasa sedih.

“Untuk apa? Karena mau bersikap pahlawan dengan memberikan matamu padaku? Aku tidak butuh dikasihani.” Ujarnya dingin. Maafkan aku, maafkan aku.

Aroma burberry itu semakin menyengat. Kyungsoo sedang melangkah menuju dirinya. Rengkuhan hangat Kyungsoo adalah favoritnya. Dan ia mendapatkannya, hangat. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

“Aku mencintaimu.”

“Itu kalimat ambigu. Tidak berarti apa-apa, Do Kyungsoo.” Lirih gadis itu.

“Apa aku harus menidurimu, supaya kau percaya?” suaranya terdengar pasrah. Gadis itu meneteskan airmatanya. “Jangan menangis, kumohon.” Bisiknya, mempererat pelukannya.

 

*

Mereka berdua berhadapan. Lee Sunhee dan Do Kyungsoo. Hanya keheningan diantara mereka berdua, cokelat panas mengeluarkan asap yang mengepul menjadi saksi bisu diantara mereka berdua.

“Chanyeol hyung berhasil menemukan donor mata.” Ujar Kyungsoo, membuka pembicaraan. Mata Sunhee membulat.

“Benarkah?!” ujarnya, bersemangat. Matanya terlihat berkaca-kaca.

“Ya, noona. Aku akan mengatur jadwal operasi Sunhye nantinya. Sunhee noona….” ujarnya, meragu.

“Ya?” respon Sunhee, sedikit bingung dengan perubahan ekspresi Kyungsoo.

“Aku benar-benar akan ke Amerika nantinya. Tapi, setelah operasi mata Sunhye berhasil. Noona, apa aku dan Sunhye masih bisa bersama?” tanyanya.

“Bukankah harusnya kau bertanya padanya langsung, Kyungsoo-ya?” Sunhee menghela napas panjang. “Aku tidak bisa memberimu kepastian apa-apa. Bukan aku yang merasakannya, tapi kalian.” Ujar Sunhee, mencoba tersenyum.

“Kyungsoo..” Sunhee menahan napas. “Apa kau rela bersanding dengan gadis cacat seperti adikku?”

 

*

Do Kyungsoo tidak peduli apabila Sunhye cacat. Ia mencintai Sunhye, dan tidak ingin kehilangan gadis itu. Do Kyungsoo terdiam beberapa saat, dan mengangguk.

“Ya, aku rela.”

“Maka noona akan merelakanmu bersanding dengannya.”

Jawaban singkat dari Sunhee membuat bibir Kyungsoo membentuk senyum.

Ia akan melamar Sunhye. Cepat atau lambat.

 

*

“Chanyeol-ah, donor mata?” ujar Sunhye lagi. Chanyeol menggumamkan kata ‘ya’ sebagai jawaban kepada gadis itu. “Apa ini Kyungsoo lagi?” tanya gadis itu, dingin.

“Tidak, bukan dia. Aku yang menemukan pendonor ini. Seorang laki-laki bernama Junhyun seingatku, sebayamu, ia mengidap kanker otak dan seminggu yang lalu meninggal. Orangtuanya mengatakan, semua organ tubuhnya masih baik, dan ia ingin membantu orang lain.”

“Mereka setuju?” tanya Sunhye.

“Ya, tentu saja. Mereka sering memperhatikanmu. Dan mereka mengatakan, kau sangat cantik.” Guyon Chanyeol, Sunhye terkekeh.

“Karena aku mantan model, kau tau?” ujarnya, meledek Chanyeol. “Baiklah, aku mau. Apa kau bisa menjamin itu bukan Kyungsoo?” ujar Sunhye sekali lagi.

“Dokter tidak boleh berkata bohong, bukan?” Chanyeol tertawa. “Kenapa kau begitu mengkhawatirkan dia, Lee Sunhye?”

“Karena……” Sunhye terdiam. Alasannya? Ia tidak punya alasan untuk tidak mengkhawatirkan lelaki itu. “Karena ia penting.”

“Penting?”

“Aku mencintainya. Itu saja.” Ujar gadis itu, tersenyum.

“Dan aku tau ia juga mencintaimu.” Balas Chanyeol, tertawa renyah.

 

*

Aroma burberry lagi.

“Aku dengar kau menemukan pendonor mata?” tanyanya. Gadis itu mengangguk. “Aku turut senang.” Ujar lelaki itu. Gadis itu hanya tersenyum, tidak tau harus merespon apa. “Aku akan ke Amerika.” Ujarnya. “Setelah operasimu selesai, tentunya.”

“Apa kali ini kau berbohong lagi?” ujar gadis itu sinis. Lelaki itu menghela napas pelan.

“Aku tidak berbohong. Aku benar-benar akan ke Amerika.” Ujarnya. Gadis itu terdiam, merasakan perbedaan dari ucapan lelaki itu. Ia tau lelaki itu mengatakan yang sebenarnya.

“Kapan?” ujarnya, suaranya menciut.

“Sehari setelah operasimu. Sunhye-ya…” ujarnya, duduk disamping gadis itu, dan meraih tangannya. “Boleh aku mengatakan sesuatu?” ujarnya. Sunhye mengangguk. “Tunggu aku. Apa kau mau?” gadis itu tertegun. “Aku tidak peduli kau itu cacat. Aku tidak peduli kau itu tidak sempurna.”

“Apa maksudmu?” desisnya.

“Saat aku kembali nanti, aku akan melamarmu. Jadi, kau harus menungguku sampai saat itu tiba.” Sunhye tertegun. Melamar? Do Kyungsoo akan melamarnya? Mimpi?

“Maksudmu?” tanyanya, bodoh.

“Aku akan menikah denganmu, Lee Sunhye. Tapi, maukah kau menungguku sampai waktu itu tiba?” ujarnya. Jemari lelaki itu menuju kantong celana, mengambil kotak kecil dan membukanya. Cincin berlian itu ia ambil dan dengan sekejap tersemat di jemari gadis itu.

Lee Sunhye sedikit terkejut, tapi ia mengangguk. Bukankah ia juga mencintai lelaki itu?

Kyungsoo memeluknya, erat. Merapikan rambutnya pelan, mengusap wajahnya. Bibirnya ia dekatkan ke telinga gadis itu, membisik mesra. “Gidarilkkae(tunggu aku).” Dan mencium bibir gadis itu, lembut dan manis.

 

*

Gadis itu membuktikan bahwa ia sendiri tidak bisa hidup tanpa lelaki itu. Operasi berjalan dengan sukses, dan lelaki itu benar-benar ke Amerika, melanjutkan studi fotografinya, 2 tahun.

Lee Sunhye bisa melihat kembali, hal pertama yang dilihatnya adalah video call dari Kyungsoo, yang menunggu perban matanya dibuka.

“Sudah bisa melihatku? Aku makin tampan, bukan?”

“Ya. Sangat tampan.”

Kursi rodanya masih ia gunakan, ia mulai belajar berjalan dengan tongkat. Lumpuh total tidak masalah untuknya, toh juga ia masih bisa melihat.

Lee Sunhye terus menunggu kedatangan lelaki itu. Do Kyungsoo. Cincin berlian itu masih menjadi tanda janji pria itu padanya. Dan ia tau lelaki itu akan memenuhinya.

 

*

Incheon Airport, April 2015

 

Seorang pria dengan kamera yang bergantung dilehernya keluar dari bandara dengan 1 koper yang didorong dengan tangannya, wajahnya terlihat santai dengan balutan kaus dan celana panjang. Langkahnya terhenti dan tangan kanannya merogoh saku celananya, mencari alat komunikasi smartphone yang ia miliki.

Tangannya menari menuliskan digit demi digit nomor, dan meletakkan ponsel itu ditelinganya. “Oh, hyung, ya, aku sudah sampai……. benarkah? …….. ah, baiklah. Aku akan kerumahnya nanti…….. ne, arasseoyo(ya, aku mengerti)…. nee..” ujarnya, memasukkan smartphone-nya kesaku celana dan kembali berjalan.

Do Kyungsoo tersenyum sepanjang perjalanannya menuju mobil, membayangkan gadis itu duduk didalam mobil, dan tersenyum saat melihatnya. Kakinya melangkah lebih cepat, dan ia membuka pintu mobil.

“Oh….” ia sedikit terkejut, tidak melihat figur gadis itu. Hanya Chanyeol—sahabatnya, dan Sunhee, kakak gadis itu. “Sunhye tidak ikut, noona?” tanyanya, sedikit kecewa. Sunhee hanya tersenyum kecil.

“Masuklah.”

 

*

Melukis merupakan hobinya sekarang, kanvas kecil, sedang, dan besar ada diruangan itu. Puluhan hasil dari lukisannya berada diruangan itu, beberapa dipajang dirumahnya. Kali ini, kanvas ukuran sedang yang masih terlukis 45% itu dilanjutkannya. Warna-warna kalem seperti peach, hijau turquoise, abu-abu dicampur jadi satu, membentuk figur seorang pria.

Lee Sunhye begitu merindukan lelaki bermarga Do itu. Kebanyakan lukisannya hanya untuk melupakan rindunya dari lelaki itu. Gadis itu bahkan tidak ikut menjemput lelaki itu karena lupa akan waktu. Ia berpikir ia menunggu saja.

Pintu ruangan itu berdecit, tetapi gadis itu tidak mengindahkannya. Matanya tetap terfokus pada kanvas. Tapi, ia begitu mengenal bau ini.

Burberry.

“Hobi yang selalu berubah-ubah. Itu benar-benar Lee Sunhye.” Suara itu membuat senyum gadis itu berkembang. Tempo olesan cat pada kanvas semakin melambat.

“Bau burberry yang sama terus menerus. Itu benar-benar Do Kyungsoo.” Balasnya, tersenyum. Pergerakan tangan gadis itu terhenti. Ia meletakkan kuas catnya, dan mendorong kursi rodanya, kemudian berputar.

“Bogoshippo(Aku merindukanmu).” Ujarnya, melangkah maju kedepan.  “Kau menungguku?” tanyanya. Sunhye tersenyum dan mengangguk.

“Menunggumu untuk menepati janji.” Balasnya. “Kau mengingat janjimu?” tanyanya. Do Kyungsoo terkekeh, dan merogoh saku celananya. Cincin dengan batu safir.

“Kyeoreonaejullae(Maukah kau menikah denganku)?” ujarnya, serius.

“Ne, kyeoro kaja.(Ya, aku mau)”

Kyungsoo merengkuh gadis itu dalam pelukannya, dan mencium bibir gadis itu untuk kedua kalinya, manis.

 

PS: OMGOSH INI FANFIC APA! Maafkan dirikuuu /nangis/ Fanfic ini kejer-kejeran banget. Aku ada bikin fanfic tapi karna ga kelar-kelar yaudah ini aja dulu ;A; maafkan saya T_T Jangan hina saya plis, apalagi Kyungsoo dipake disini namanya ;A; Anw, aku ga gitu suka EXO jadi Kyungsoo adalah kelinci percobaan saya ToT. Habis ini saya bakal bikin fanfic EXO lagi kalo banyak yang suka fanfic ini. Manhi saranghaejuseyo 😀 –zeya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s