Like A Dream [2]

 

 

Title : Like A Dream

Author : zeya

Genre : romance-slight of angst-alternative universal-fluff

Rating : G / PG-13

Length : Chaptered

Cast : Byun Baekhyun | Ryu Hyoyoung | COED School’s member | EXO’s member | Will be added.

Disclaimer : All characters in this story are not mine! But the plot, the storyline, all beside the casts and poster are mine, so don’t try to plagiarize without my permission!

Poster Credit : azuraveur (PS: Jangan terkecoh dengan poster yang agak happy, mungkin saat kalian baca, kalian bakal nangis(?))

 

So I kept praying to the stars, to God, that all of it are not a dream. – zeya

ZEYA©2012

.

.

 

It’s not time for us to break up yet, we still have a bit of time – Break Down, B2ST

 

Kedua insan itu kembali bertemu, dengan tuntutan kerja. Masing-masing mereka didampingi oleh manager mereka yang saling mengenal. Gadis itu hanya menunduk, terkadang memperbaiki sweaternya yang terlihat cocok untuknya, bagi lelaki itu.

“Kau sudah enakan? Mau minum obatmu sekarang?” manager menepuk bahu gadis itu, membuat gadis itu tersentak dari lamunannya. Gadis itu tersenyum.

“Aku akan meminumnya nanti, oppa. Letakkan saja disini.” Ia tersenyum, seraya menepuk bangku disebelahnya yang merupakan bangku managernya.

Lelaki itu memperhatikan gadis itu, tepat diseberangnya. ‘Dia sakit apa? Ada apa dengannya?’ banyak pertanyaan yang muncul dibenak lelaki itu. Melihat gadis yang masih dicintainya itu pucat, terlihat kurang tidur.

“Konferensi Pers akan dimulai. Ayo.” Napas lelaki itu tertahan. Cerita masa lalu mereka berdua harus dibongkar.

“Baiklah.” Ujar mereka berdua serempak, membuat mereka saling menatap. Gadis itu dengan cepat melangkah didepan, lebih dulu darinya, menyamakan langkah dengan managernya.

Baru saja melangkah masuk, gadis itu sudah diserbu dengan jutaan makian dari penggemar grup dan penggemar pribadi lelaki itu, yang membuat lelaki itu hanya bisa menatap gadis itu sendu. Gadis itu hanya bersikap biasa, berjalan tanpa memperdulikan hinaan dan cacian itu.

“Dasar wanita jalang! Bisa-bisanya kau menggoda Baekkie oppa! Kau memangnya dibayar berapa hah?! Biar kubayar kau dua kali lipat agar aku bisa menyiksamu hingga mati!” ujar seorang fans dengan kencang, disetujui dengan tepukan penggemar lain.

Baekhyun mengepalkan tangannya, menahan amarah. Hampir ia berbicara, managernya menahan tangannya. Mengisyaratkan belum saatnya ia berbicara. Membuat lelaki itu menggertakkan giginya, perlahan menoleh kearah gadis itu yang hanya tersenyum miris.

Mantan pemenang Miss Chunyang 2010, model, mempunyai saudara kembar yang sama berbakatnya dengannya, walaupun ia lebih cantik karena kembarannya adalah seorang yang tomboy. Seorang Byun Baekhyun takluk dengannya.

Gadis itu adalah cinta pertamanya. Gadis itu adalah gadis yang ia harapkan akan berada disisinya saat pelaminan nanti. Tapi…

Gadis itu jugalah yang harus ia sakiti dan harus menerima rasa sakit itu.

 

 

Gadis itu benar-benar berusaha keras menahan airmatanya. Makian dari penggemar pujangga hatinya itu benar-benar menyayat hatinya dalam. Ia tidak berani menoleh kearah lelaki itu, ia tau bahwa pada saat ia menoleh, pertahanannya akan runtuh.

“Baiklah, anda bisa memberi pertanyaan kepada Nn. Ryu. Mohon untuk tenang dan jangan didengar makian.” Ujar moderator konferensi pers itu. Gadis itu menghela napas panjang, menelisir penjuru ruangan dan menemukan kembarannya duduk dengan topi yang sangat ia kenali.

“Benarkah ada pernah berpacaran dengan Byun Baekhyun, member dari grup rookie di Korea Selatan ini?” tanya salah seorang wartawan.

“Ya. Itu benar.” Jawabnya.

“Lalu? Kenapa anda bisa putus dengannya?” sambung yang lain.

“Tuntutan profesinya.” Gadis itu menekankan kata ‘-nya’.

“Menurut artikel yang ada ini adalah tuntutan profesi anda. Jika demikian yang manakah yang benar?” tanya seorang wartawan muda.

“Kalau artikel mengatakan yang sebenarnya, bukankah seharusnya konferensi pers ini tidak ada?” ujar gadis itu tenang.

“Berapa lama… Anda berpacaran dengan Byun Baekhyun?”

“Entahlah, setauku, kami berpisah….” napasnya tertahan. “Sehari sebelum hari jadi kedua kami.” Gadis itu tersenyum datar. Ia tidak sengaja menoleh kearah lelaki itu, hanya untuk mengipas-ngipas wajahnya yang panas ingin menangis.

Lelaki itu membulatkan matanya tidak percaya. Lelaki itu tidak percaya dengan apa yang baru saja gadis itu katakan. Membuat gadis itu terkejut juga.

‘Ia… Bahkan tidak ingat hari jadi kami?’

 

 

Baekhyun berharap apa yang didengarnya ini bohong. Tapi ia mengenali mata gadis itu tidak pernah berbohong. Dan saat ia mendengar gadis itu berujar, ia tau gadis itu tidak bohong.

Dia benar-benar seorang bajingan.

Memutuskan gadis itu karena keegoisannya demi menjadi seorang entertainer, disaat gadis itu baru saja mendapat berita bagus tentang gadis itu akan debut. Dan sekarang? Ia memutuskan gadis itu sehari sebelum hari jadi mereka berdua?!

“Lalu, apa anda tidak marah padanya?” Baekhyun memperhatikan gadis itu.

“Tidak. Dia ingin mengejar cita-citanya bukan? Saya tidak bisa melarangnya. Siapa saya untuk melarangnya?”

“Bilang saja kau tidak mau merusak karirnya! Lalu, saat ia sudah terkenal seperti sekarang kau mau merusak reputasinya!” ujar seorang fans sakratis.

“Anda punya bukti apa?” jawab gadis itu sinis. Byun Baekhyun mengerjapkan matanya. Ini bukan Hyoyoung-nya. “Aku? Merusak karirnya? Untuk apa? Sedangkan aku memiliki karir disini. Dia? Karirnya rusak? Dia berada di naungan SM Entertainment, agency dimana artisnya tidak akan kehilangan REPUTASINYA.” Gadis itu menekankan beberapa kata.

“Sedangkan aku? Aku berada di agency yang memang tidak terlalu terkenal kalau bukan karena T-ARA sunbaenim. Tapi aku bahagia.” Senyum gadis itu menipis. “Bahkan aku bahagia saat masih menyembunyikan hubungan kami.”

“Berarti… Kau melanggar…” managernya menatap gadis itu. Gadis itu mengangguk perlahan. Baekhyun menatap gadis itu tidak percaya.

“Mianhaeyo… Oppa.” Lirihnya. “Apa ini cukup? Aku berbicara terlalu banyak, bahkan menutupi sinar pemain sebenarnya. Maafkan aku.” Gadis itu memberi microphone kepada moderator dan duduk. Ia menunduk kepada managernya, seakan meminta maaf.

“Baiklah sekarang giliran Tn. Byun.” Lelaki itu menghela napas dan berdiri.

“Kenapa anda memilih Ryu Hyoyoung?” pertanyaan pertama itu membuat lelaki itu terdiam. Ia menoleh pelan melihat reaksi gadis itu. Gadis itu hanya tersenyum kecil, memberi isyarat bodoh terhadap pertanyaan yang diajukan.

“Apa perlu alasan?” jawabnya. “Aku sendiri bahkan tidak tau mengapa aku memilih Hyoyoung.” Lelaki itu terkekeh kecil. “Aku tidak punya jawaban.”

“Apa benar anda putus karena tuntuan profesi anda sendiri?” spontan lelaki itu mengangguk.

“Ya. Semuanya adalah salahku. Aku memutuskannya secara sepihak tanpa mengetahui bahwa besok hari jadi kami, ia akan melakukan latihan debutnya. Hanya demi aku menggapai cita-citaku. Aku…”

BRUK

Lelaki itu terhenti. Para wartawan yang sedari tadi mendengar pidatonya tercengang dan segera berhenti. Lelaki itu menoleh kesamping, mendengar jeritan dari banyak orang.

“Nn. Ryu?! Hyoyoung? Hyoyoung? Ireona(bangun)… Ireona..” Byun Baekhyun tidak mampu berucap, ia berharap nama yang disebutkan tadi salah.

Seorang dari antara wartawan berlari maju dan melepas maskernya. Kembaran dari Ryu Hyoyoung berlari maju dan memeluk gadis itu.

“Hyo.. Ireonabwayo.. Hyo..” ujarnya, menitikkan airmatanya. Byun Baekhyun meraih gadis itu dari kembarannya.

“Young… Ireonawa…” ujar pria itu, mengusap pipi gadis itu pelan. Wajah gadis itu begitu pucat, membuat lelaki itu semakin ketakutan.

“Konferensi pers hari ini cukup sampai disini.” Lelaki itu mengangkat gadis itu ala bridal-style dan segera berlari keluar, menuju mobilnya, dan meletakkan gadis itu dibangku penumpang.

Ia tidak ingin kehilangan gadis itu.

 

 

‘Dimana aku?’

Hyoyoung membuka matanya perlahan, melihat dinding diatasnya berwarna putih. Bau sedikit menyengat ini segera menyadarkannya dimana ia berada sekarang. Dengan refleks ia berdiri.

Byun Baekhyun menggenggam tangannya erat dan tertidur pulas tepat disampingnya. Gadis itu hanya bisa menatap lelaki itu tanpa ekspresi dan dengan tatapan kosong. Gadis itu hanya bisa menatapnya, membuat lelaki itu tiba-tiba terbangun.

“Oh, kau sudah bangun?” ujar pria itu membuat Hyoyoung tersadar dan sedikit terlonjak. “Maaf aku tidur disini.” Ujarnya pelan.

“Kenapa bukan Hwayoung saja. Atau member lain?” tanya gadis itu sedikit dingin. “Kenapa kau?” tanya gadis itu lagi.

“Apa kau benar-benar membenciku, Hyo?” lirih pria itu. Dengusan gadis itu terdengar.

“Aku bahkan masih mengingat jelas masa lalu bodoh itu.” Ia tertawa masam. “Andaikan saja….” gadis itu terdiam. “Kau tidak mengejarku saat di Lotte World, kenangan masa lalu itu masih akan tersimpan rapi didalam gudang paling dalam, dan akan terlupakan seiring berjalannya waktu.” Ia tersenyum tipis. “Tapi kau malah membuatku kembali membuka luka lama, padahal luka itu belum sembuh.” Tawanya. “Bodoh bukan, Baek?”

Gadis itu masih menahan airmatanya. Ia tidak mau gagal didepan lelaki itu.

 

 

Baekhyun masih menganalisis ucapan gadis itu.

“Aku masih menyimpan luka lama… Sangat bodoh.” Ujarnya. Baekhyun meringis kecil. “Kenapa kau tidak kembali saja ke-dorm mu? Aku bisa sendiri disini.” Gelengan kuat Baekhyun menjawabnya.

“Aku tidak akan membiarkanmu sendirian.”

“Sendiri? Ada begitu banyak pasien disini Tn. Byun.” Ujarnya.

“Hyo….” lelaki itu terdiam. Hening. “Jika saat itu aku tidak memutuskanmu….” ia dapat merasakan gadis itu mengambil napas panjang. “Apa kita masih berpacaran seperti itu?” ujarnya. Gadis itu mengangkat bahunya.

“Aku tidak tahu. Mungkin saja kita putus karna ketahuan… Atau.. Entahlah. Aku tidak mau memperdulikan apa yang tidak mungkin terjadi. Benar bukan?” pernyataan gadis itu menghujam dirinya. Seperti pisau yang begitu banyak sedang menghujam dirinya.

“Jigeum dasin saranghanda(sampai sekarang aku masih mencintaimu)” kata-kata yang selama ini ia ingin ucapkan sudah terucap lirih.

 

 

Hyoyoung hanya menatap lelaki itu dengan tatapan terkejut. Ia tau arti dari kata-kata itu dengan jelas. Byun Baekhyun hanya menatapnya dengan tanpa beban.

“Jangan berucap yang tidak-tidak.” Ujar gadis itu akhirnya, dingin, setelah mendapat kesadarannya kembali. “Bukankah kau yang menghentikan hubungan kita? Tidak ada gunanya.” Dengan sekuat tenaga Hyoyoung berusaha menyembunyikan suaranya yang bergetar.

“Aku minta maaf.” Ujar Baekhyun.

“Tidak ada gunanya lagi kata maaf itu.” Ujar gadis itu, mendengus. “Pergilah. Bukannya kau sibuk? Konferensi pers akan kita lanjutkan saja besok.” Gadis itu melanjutkan ucapannya, memalingkan wajah dari Baekhyun.

“Takdir kita… Sudah jelas, bukan?” lirih gadis itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s