Like a Dream [1]

 

 

Like A Dream

 

Title : Like A Dream

Author : zeya

Genre : romance-slight of angst-alternative universal-fluff

Rating : G / PG-13

Length : Chaptered

Cast : Byun Baekhyun | Ryu Hyoyoung | COED School’s member | EXO’s member | Will be added.

Disclaimer : All characters in this story are not mine! But the plot, the storyline, all beside the casts and poster are mine, so don’t try to plagiarize without my permission!

Poster Credit : azuraveur (PS: Jangan terkecoh dengan poster yang agak happy, mungkin saat kalian baca, kalian bakal nangis(?))

 

So I kept praying to the stars, to God, that all of it are not a dream. – zeya

ZEYA©2012

.

.

 

 

I really can’t live without you, I just need you – Trouble Maker, The Words I Don’t Want to Hear

 

Hal yang bohong adalah saat Ryu Hyoyoung berucap ia membenci seorang pria yang bernama Byun Baekhyun. Hal yang bohong saat Ryu Hyoyoung berucap ia tidak merindukan Byun Baekhyun. Ia mencintai Byun Baekhyun, bukan membencinya. Ia merindukan Byun Baekhyun, bukan tidak merindunya. Tapi, ia begitu pandai menyembunyikan semuanya. Bahkan dengan mudahnya ia menyembunyikan rahasia masa lalunya bersama lelaki itu.

“Dia baru saja debut lho.” Hyoyoung menghentikan aktivitas membaca bukunya dan menatap adik kembarnya yang tengah sibuk mengganti-ganti channel televisi. “Jangan berlagak bingung. Aku tau kau memantau beritanya tiap hari.” Hyoyoung mendesis.

“Aku tidak peduli.” Dustanya dan segera membaca bukunya lagi. Ia kembali membohongi dirinya yang sangat merindukan lelaki itu. Sudah berapa tahun semenjak mereka menutup buku tentang kisah mereka? Sudah berapa lama ia hanya bisa memandangi lelaki itu lewat siaran-siaran yang menyebut-nyebut namanya sebelum ia melakukan debutnya?

“Tidakkah itu hal yang bohong, Hyo? Kau selalu memantau perkembangannya, bagaimana debutnya. Oh, bukankah kau men-download setiap performance debutnya?” ujar Hwayoung, adik kembarnya.

“Dia masa laluku, Hwa. Hanya masa lalu.” Gumam gadis itu sambil tersenyum miris. “Aku tidak boleh membuka lembaran masa lalu konyol itu lagi.” Dustanya lagi.

“Tapi.. Kau masih mengingatnya, bukan?” tanya Hwayoung perlahan, buku yang sedang ia baca tertutup.

“Ya. Masih sangat jelas.” Bisiknya. Ia tidak berbohong kali ini.

 

==

 

“Kau kenapa, Baek?” tanya Chanyeol yang sedang men-dreeble bola basketnya di dalam dorm. Gerutuan dari Suho sudah tak ia gubris tatkala melihat wajah couple-nya terlihat kusut dan bingung.

“Aniyo. Hanya…. Berpikir.” Jawabnya singkat. Chanyeol meletakkan bola basketnya dikeranjang dengan cara men-shoot masuk dan duduk disampingnya.

“Dia?” tebak Chanyeol to the point yang hanya dijawab dengan anggukan pelan Baekhyun. Chanyeol menghela nafasnya panjang.

“Aku menyesal, Yeol. Aku masih mencintainya, sampai sekarang. Aku menyesal telah meninggalkannya. Bayangan tentangnya kerap muncul dalam benakku, membuatku gila!” geramnya. Chanyeol menepuk pundaknya.

“Jangan biarkan yang lain tau. Temui dia.” Bisiknya perlahan dan meninggalkannya. Byun Baekhyun menghela nafasnya panjang dan menatap awan dilangit.

‘Mianhaeyo, Hyo…’

 

==

 

“Eoh? Comeback?” ujar kelima gadis itu serempak. Manager mereka mengangguk mantap.

“Bukankah sudah lama sejak kalian tidak melakukan comeback? Ini atas nama CoEd School kok, tenang saja.” Senyum manager mereka yang lain mengembang. Member pria yang lain ikut bersorak senang.

“Kapan?” tanya Hyoyoung sedikit meragu. Kang Inoh menepuk pundaknya, merangkulnya.

“Dalam 2 minggu kedepan. Maaf Hyoyoung, ini bukan permintaanku.” Lirih manager mereka. Inoh mempererat rangkulannya, mengerti perasaan gadis yang menjadi sahabatnya sejak dulu.

“Aku…. Mengerti.” Gumamnya kemudian melepas rangkulan Inoh. Langkahnya menggontai, berjalan menuju sofa di ruang latihan mereka.

“Eonnie, kau tidak apa?” tanya Eungyo, menghampirinya dan duduk disebelahnya.

“Mereka sedang melakukan debut, Eungyo-ya. Aku… Tidak siap.” Lirihnya. Ia masih belum siap bertemu dengan lelaki yang membuatnya jatuh dulu.

“Kau harus siap, eonnie. Ini resiko menjadi seorang entertainer. Kami selalu ada untukmu.” Ujar Eungyo mengusap bahu gadis itu.

“Aku siap… Aku… Mencoba.” Lirihnya lagi. Matanya berkaca-kaca. Inoh yang melihatnya, mengepalkan tangannya, tidak kuat melihat tingkah Hyoyoung.

‘Bisakah kau pergi darinya?’

 

 

Perasaan Hyoyoung mulai membaik. Latihan CoEd School berjalan dengan lancar, dan hari ini hari terakhir mereka shooting di Lotte World.

“Eonnie-ya!” ujar Hyewon merangkul Hyoyoung tiba-tiba.

“Ya! Aku kaget, kau tahu?” tawanya. Mereka berdua meraih kamera SLR milik manager+mereka dan mengambil beberapa selca bersama.

“Hyewonnie, mimik mukamu lucu sekali!” tawa Hyoyoung seraya mencubit gemas pipi adiknya. Inoh datang menghampiri mereka berdua, merangkul mereka.

“Kalian tidak mengajakku?” ujarnya, terlihat jengkel. Hyoyoung dan Hyewon tertawa. “Ya! Alchan Sungmin!” teriaknya. Lelaki yang dipanggil tadi menatap mereka dan menghampiri mereka.

“Mwoya, hyeong?” ujarnya. Hyewon menyalakan kembali kameranya dan memposisikannya menghadap mereka berempat.

“Hanaa… Dul… Set!”

Mata Hyoyoung berkedip. Ia berharap apa yang baru saja dilihatnya ini salah.

“Eonnie?” tanya Eungyo.

 

 

Liburan pertama EXO dipergunakan mereka berjalan ke Lotte World. Member EXO-M menghadapinya dengan semangat, terkecuali Xiumin dan Chen, mengingat mereka berdua sebenarnya adalah orang korea.

“Hyung! Aku mau naik itu!” ujar Tao dengan aegyo-nya yang aneh pada Kris. Kris mengangguk menyetujui dan mereka berdua beranjak dari perkumpulan mereka.

“Sehun-ah, kau mau ke tempat belanja disana? Aku lapar. Lay, ayo!” ujar Luhan, mengajak adik-adiknya. Suho, Kyungsoo, Xiumin, dan Chen berjalan bersama menuju kafe terdekat yang diikuti oleh Kai dengan berlari cepat menghampiri mereka, menyisakan Baekhyun dan Chanyeol berdua.

“Kau mau kemana?” tanya Chanyeol, memasukkan kedua tangannya di kantong celana, memperhatikan sekelilingnya. Baekhyun mengangkat bahunya, dan memperbaiki jaketnya. Berusaha menutup penyamaran mereka.

DEG

Langkah Baekhyun terhenti, begitupula Chanyeol  yang terkaget. “Ada apa?” tanya Chanyeol. Tak ada jawaban dari Baekhyun. Mata Baekhyun menatap lurus kearah jam 1. Ia tau itu adalah proses shooting dari grup, dan ia kenal persis anggota grup itu. Salah satu dari mereka.

Matanya tidak berkedip. Dan gadis itu menyadarinya. Itu benar-benar dia.

“Tidak mungkin. Chanyeol-ah…” desisnya tertahan. Chanyeol mengerti.

“Itu dia, Baek. Itu dia.” Gumam Chanyeol. Mata Baekhyun dan gadis itu bertemu. Semuanya serasa hening. Keramaian itu seperti kuburan sepinya. Teriknya matahari itu seperti gelapnya malam. Berputar.

“Hyo…” dengan tekad yang kuat, Baekhyun melangkahkan kakinya, mendekati gadis itu. Tidak demikian dengan gadis itu. Ia melangkah mundur.

‘Apa kau begitu membenciku?’

 

 

Hyoyoung melangkahkan kakinya mundur, menyadari bahwa ia benar mengungkapkannya. Itu benar dia.

“Baek..” nafasnya tertahan. Eungyo—yang mendengar persis perkataan Hyoyoung membulatkan matanya.

“Inoh-ah..” lirih Hyoyoung. Lelaki itu tetap berjalan mendekatinya, bersama seorang kawannya yang ia yakini Chanyeol, temannya dulu. Ia tetap melangkahkan kakinya mundur, tak sengaja menabrak salah seorang staff.

“Mianhaeyo, PD-nim.” Bungkuknya hormat, PD itu hanya menepuk bahunya pelan, tertawa seakan menerima permintaan maafnya. Dengan cepat gadis itu berbalik, dan mencoba berlari menjauhi lelaki itu. Dengan jelas ia mendengar derap langkah orang lain mengikutinya, berlari mendekatinya.

GREB.

Tangannya tertahan. Nafas Hyoyoung tertahan, ia hafal bagaimana kulit member lain dan kembarannya saat menyentuh kulitnya. Tapi ia mengingat diluar kepala bagaimana lelaki itu menyentuh kulitnya.

“Lepaskan aku….” ujarnya yang terdengar seperti bisikan. Airmatanya jatuh perlahan, kepalanya berputar, mengenang memori-memori masa lalu mereka. Ia mencoba berbalik dan menutup kedua matanya, menarik lengan lelaki yang menggenggamnya erat.

“Ini memang kau….” Hyoyoung menggigit bibir bawahnya pelan. Bukankah ia rindu suara lelaki ini? Tapi… kenapa ia menyembunyikan matanya?

Perlahan, ia membuka matanya, bersamaan dengan tetesan airmata yang turun lagi ke pipinya. “Baekhyun-ah, lepaskan….” lirihnya.

 

 

Byun Baekhyun hanya bisa bergeming saat melihat gadis dihadapannya menangis. Ia sudah menjadi orang ter-brengsek bagi gadis ini. Melihat gadis itu menangis saja sudah seperti jutaan pisau menusuknya.

“Uljima(jangan menangis)..” ujar lelaki itu, mencoba meraih wajahnya.

“Pergilah…” ujar gadis itu, menjauhi tangan lelaki itu darinya. Ia menyeka airmatanya. “Pergi, Baekhyun. Jebal..”

“Apa kau… Begitu membenciku?”

“Tidak. Aku tidak membencimu. Aku berusaha untuk itu.” Lirih Hyoyoung. “Karena itu, pergilah.” Ujarnya. “Aku ingin membencimu, Byun Baekhyun.”

“Bisakah kau… Jangan membenciku?” lirihnya. Badan gadis itu melemas. Baekhyun menghela nafasnya panjang. “Kumohon.. Jangan benci aku. Aku…”

“Jangan ganggu dia.” Kalimat nicis Baekhyun tertahan oleh suara berat Inoh, yang menyuruhnya berhenti. Baekhyun berbalik.

“Apa urusannya denganmu, Kang Inoh?” ujar Baekhyun dengan penuh penekanan. “Bukankah kau hanya berstatus sebagai temannya?” sindir Baekhyun.

“Kau tidak memiliki hak apa-apa atas dia lagi. Kau meninggalkannya, ingat?” desis Inoh dengan penuh amarah. Genggaman Baekhyun merenggang, membuat Hyoyoung melepaskan genggaman lelaki itu dan menjauh.

“Bisakah kau membiarkanku hidup sendiri, Baekhyun-sshi?” lirih Hyoyoung padanya.

 

 

Gadis itu memintanya untuk membiarkannya hidup sendiri. Gadis itu membencinya. Gadis itu sangat membencinya.

“Aku tidak bisa melanjutkan apa-apa lagi denganmu. Hubungan kita memang sudah berakhir.” Lelaki itu kembali mendapati gadis itu tengah menahan tangisnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, tubuh yang bergemetaran.

Byun Baekhyun tidak tau apa yang harus ia lakukan saat itu juga. Ia hanya bisa melihat gadis itu menunjukkan wajah pilunya.

“Aku mencintaimu, Hyo.” Bisiknya.

“Kata-kata basi darimu yang begitu manis di telingaku dulu.” Senyum Hyoyoung. “Inoh-ah, ayo.” Ujarnya, meninggalkan Baekhyun dengan Chanyeol.

Baekhyun hanya bisa melihat bayangan punggung gadis itu yang naik-turun. Ia tau gadis itu sudah menahan tangis didepannya, berusaha terlihat tegar didepannya. Berusaha terlihat membencinya. Tidak, ia tidak yakin mengenai gadis itu tidak membencinya. Gadis itu mungkin memang benar membencinya. Tapi, apa lelaki itu memiliki pilihan lain?

Tepukan Chanyeol menyadarkan lelaki itu dari lamunannya. Siluet gadis itu sudah menghilang. Orang lalu-lalang yang sedari tadi memperhatikan mereka, sepertinya mulai menyadari bahwa kedua orang itu adalah artis, apalagi status Hyoyoung yang tengah melakukan syuting.

“Penyamaran kita bisa terbongkar kalau kita tidak pergi sekarang.” Ujar Chanyeol. Senyum Chanyeol terkesan miris, seperti berusaha menyembunyikan simpati terbesarnya pada Baekhyun.

Kedua tangan Baekhyun terkepal. Bekas botol softdrink yang ada didekatnya, ia tendang sekeras mungkin sehingga menabrak tong sampah.

Ia bersalah.

 

 

Ryu Hwayoung menggerling. Bunyi nada ini berarti ada berita terbaru mengenai artis-artis. Jarang ia mendapatnya jika hal itu tidak penting. Dengan cepat ia membuka handphone-nya, membuka email. Nafasnya tertahan.

EXO-K’s Byun Baekhyun dan COED SCHOOL’s One Light Hyoyoung pernah Berpacaran?!

 

Hwayoung menutup tab emailnya, segera menekan beberapa digit angka yang ia hapal diluar kepala dan segera meletakkannya ditelinganya.

“Hyo..” nafasnya tercekat. “Media sudah mengetahui hubungan lamamu dengan Baekhyun.”

Disisi lain, Baekhyun duduk diantara 11 hyeong dan dongsaengnya yang menatapnya penuh selidik. Chanyeol—yang sudah lama mengetahuinya—hanya duduk tenang seraya menyesap ocha-nya. Suho, yang merasa bertanggung jawab sebagai leader dari kedua sub-grup itu duduk ditengah member lainnya, berhadapan tepat didepan Baekhyun.

“Ryu Hyoyoung?” ujar Sehun. “Bukannya dia artis yang dirumorkan sedang berpacaran dengan salah seorang artis terkenal, yang aku juga tidak tau?” ujarnya, menatap hyeong-hyeongnya.

“Jawab kami, Baek.” Ujar Xiumin, yang akhirnya turun tangan karena merasa ialah yang paling tua dan harus bertanggung jawab. “Kau tau kita tidak pernah berjanji akan terbuka satu sama lain, bukan?” lanjut pria berwajah anak kecil itu lagi.

“Ya. Aku pernah berpacaran dengannya dulu.” Senyum Baekhyun miris. Matanya mengerjap, membuka kembali kenangan-kenangannya dengan Hyoyoung.

“Kapan tepatnya?” ujar Suho, melipat kedua tangannya.

“Dua tahun sebelum aku menjadi trainee disini. 3 tahun yang lalu.” Helanya. Chanyeol hanya menyesap ocha-nya dalam diam. Ia memperhatikan gerak-gerik dari member lainnya.

“Dan… Kenapa kalian bisa putus?” tanya Suho, pelan.

“Peraturan nomor 10 disini: Pada saat menjalani trainee, tidak boleh menjalani hubungan.” Mata lelaki itu berkaca. “Padahal..” ia menarik napas.

“Padahal?” ujar Luhan, menyipitkan matanya.

“Padahal pada saat itu, ia juga menjadi trainee di Core Contects, ia melanjutkan hubungannya denganku, ia tetap berpacaran denganku padahal ia tidak boleh juga pada saat itu.” Baekhyun tertawa hambar. “Tapi aku?” ia mengepalkan kedua tangannya.

“Baek..” ujar Chanyeol.

“Aku malah memutuskannya, mengatakan agensiku tidak bisa menerima orang yang berpacaran. Bahwa aku harus menurutinya agar aku bisa menjadi seorang entertainer.” Lelaki itu mendengus kesal. “Bahwa aku tidak memikirkan perasaannya yang berjuang menutupi hubungan kami dulu.” Pandangan Baekhyun sedikit memudar, mengingat dengan jelas kejadian hari itu.

 

“Sudah lama menungguku? Pihak agensiku men-interogasiku tadi. Sulit sekali membohongi mereka.” Gadis itu menghela nafas panjang dan duduk disamping Baekhyun, mengamit lengan lelaki itu.

“Oya? Apa kita ketahuan?” goda Baekhyun, mencubit hidung gadis itu mesra. Gadis itu tertawa kecil dan mengedipkan matanya.

“Tentu saja tidak. Aku kan pintar.” Guyonnya. Ia dan Baekhyun tertawa. “Tapi, tumben sekali kau mengajakku bertemu hari ini. Ada apa?”

Baekhyun meringis kecil. “Aku… Aku..”

Ryu Hyoyoung menyipitkan matanya. Terlihat bingung. “Ya! Byun Baekhyun. Ada apa?” tanyanya. “Kau bersikap sedikit aneh.”

“Aku diterima di SM Entertainment.” Ujar lelaki itu. Senyum gadis itu mengembang.

“Benarkah?! Itu hal yang bagus!!” ujar gadis itu. “Tapi… Kenapa wajahmu kusut begitu?” ujar gadis itu.

“Hyo… Geumanhalkkae(ayo kita putus).” Mata gadis itu mengerjap. Ia berusaha menganalisis ucapan lelaki itu.

“Maksudmu…” perlahan gadis itu terdiam. Ia mengerti.

“Agensiku melarang trainee… Berpacaran.” Bisik Baekhyun parau. Ia tau persis apa yang Hyoyoung pikirkan saat ini.

“Benarkah? Baiklah.” Mata Baekhyun membulat. Tidak mungkin! Ini bukan Hyoyoung yang ia kenal. Hyoyoung ia kenal akan mencarinya, akan menunggunya. Bukan Hyoyoung yang akan melepasnya. Ia melihat Hyoyoung hanya tersenyum padanya. Mata gadis itu sedikit bergetar.

“Aku akan merelakanmu pergi.” Ujarnya, tersenyum sedikit miris. “Bukankah ini cita-citamu? Masuk ke SM, menjadi seorang entertainer terkenal? Catch your dream, Baek. Aku tidak akan mengekangmu untuk bertahan bersamaku.” Ia tersenyum.

“Oh, tampaknya aku harus kembali. Aku akan melakukan latihan debutku dalam 2 bulan kedepan. Aku ingin memberitahumu hal ini awalnya. Yah, mungkin.” Ia terus berbicara. “Selamat tinggal, Baekhyun.” Gadis itu berbalik dan melangkahkan kakinya pergi.

 

“Bahwa aku hanya terlihat seperti seorang bajingan yang masih mencintainya. Orang yang sudah mendepaknya dengan tidak hormat dari hidupku, dan aku masih mencintainya? Tentu saja dia membeciku!”

Kesebelas lelaki lainnya hanya terdiam. Lelaki juga mempunyai perasaan yang sama dengan wanita. Tapi, memang benarlah wanita lebih memiliki perasaan yang peka, dan lebih mudah tersakiti oleh perlakuan mereka.

“Dan lelaki bernama Kang Inoh itu…” mata Baekhyun berubah geram. “Apa dia berusaha merebut Hyoyoung dariku?”

“Baek!” suara bass Chanyeol yang membentaknya membuat Baekhyun tersadar. “Jangan emosi.” Ujarnya.

“Artikel tentang Baekhyun hyung dan Hyoyoung sudah dimuat oleh beberapa situs internet.” Kyungsoo berujar seraya membolak-balik tab browser iPadnya.

“Kebenarannya sudah terkuak. Ia pasti akan benci sekali padaku akibat kejadian tadi.” Byun Baekhyun meremas rambutnya frustasi. “Aku tau ia akan sangat membenciku.”

 

 

Tubuh Hyoyoung melemas. “Kapan?” desisnya parau. Ia tidak pernah menyangka akan secepat ini.

“Satu jam yang lalu.” Ujar Hwayoung diseberang sana. Adik kembarnya selalu aktif dalam mengetahui info terbaru dunia entertainer Korea Selatan yang sedang maraknya dibicarakan. Tidak dengan ini. Hubungan antara dirinya dengan Baekhyun tidak pernah terkuak infotaiment. Bukankah gadis ini mengunci rapat-rapat segala jenis memori dan kenangannya bersama lelaki yang bernama Byun Baekhyun itu?

“Apa isi artikelnya, Hwa?” gadis itu tetap berusaha bernafas dengan normal, walaupun ia yakin ia takut dengan konsenkuensi yang akan datang nantinya.

“Kalian pernah berpacaran dulu, lalu kalian putus karena tuntutan profesi…mu.” Napas gadis itu tercekat. Profesinya? Bukankah seorang Byun Baekhyun yang memutuskannya hanya karena aturan ‘dilarang berpacaran’ yang bodoh itu?

“Dunia memang sudah mau kiamat.” Airmata gadis itu mulai jatuh perlahan. “Terbalik, bukan, Hwa?” gadis itu menghela napas panjang. “Aku sudah tidak peduli. Biarkan saja..” hubungan telepon terputus. Gadis itu melangkahkan kakinya lemas ke kasurnya, menekukkan kakinya, menenggelamkan kepalanya diantara kakinya dengan penahan kedua tangannya.

Gadis itu menangis. Menangis sejadi-jadinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s