Seven Springs [First Spring]

Seven Springs

Title : Seven Springs

Author : zeya

Genre : romance-slightofangst-fiction-au

Rating : G-PG13

Length : Chaptered

Cast : Kim Jonghyun | Jung Jessica | Cho Kyuhyun | Find in story

Poster Credit : Awhsum Rara eonnie :* @bananajuice03

Disclaimer : All casts aren’t mine, but the plot, storyline, is mine. Do not take it without permission or it’ll count as plagiarism.

And I look again towards the sky, but I see nothing. – zeya

First Spring

Karena saat kecil, kita tumbuh bersama, menyebabkan dewasa tumbuh perasaan cinta itu, tapi sayangnya, terkadang kehadiran orang lain membuat cinta itu goyah. – Zeya.

2005.

‘Jessica.. Eomma memanggil kita.’ Seorang anak laki-laki kecil mengguncang lengan perempuan yang tengah berpura-pura tidur, berusaha tidak bangun untuk tertawa mendengar suara anak lelaki itu.

‘Jonghyunnie, ini hari pertama musim semi, bukan?’ ujar anak perempuan itu seraya membuka salah satu kelopak mata indahnya, menunjukkan bola mata indahnya yang berwarna kecoklatan.

Anak lelaki itu mengangguk perlahan. ‘Memangnya kenapa?’ tanya anak lelaki itu polos. Anak perempuan itu bangkit dan duduk bersila, memandang mata anak lelaki itu.

‘Aku menyukai musim semi. Bau dari bunga yang baru saja bermekaran. Kicauan burung yang bahagia.’ Ujar anak perempuan itu. Dari sorot matanya, memang ia sangat bahagia.

‘Sica, kau aneh. Ayo, eomma sudah memanggil.’ Ujar anak lelaki yang bernama Jonghyun. Jessica mengerucutkan bibirnya. Tampak jengkel. Jonghyun terbahak.

‘Aku benci Jonghyun.’ Ujar Jessica singkat lalu berjalan duluan, meninggalkan Jonghyun yang tidak diam dan langsung mengejar Jessica, menyeimbangkan langkah kakinya.

‘Jessica, aku hanya bercanda. Jangan marah.’ Ujar Jonghyun, seraya mencoba meraih tangan kanan perempuan manis itu.

Perempuan itu tergelak dan tersenyum pada Jonghyun. Jonghyun mengerti satu hal diumurnya yang baru 15 tahun, senyuman gadis itu bagaikan bunga sakura yang baru tumbuh. Ya, seperti musim semi.

‘Aku tau, Kim Jonghyun.’ Ujarnya. Tangannya meraih tangan lelaki yang agak terpana dengan hanya menatapnya. ‘Aku ingin mengetes, apa kau akan mengikutiku, dan aku berhasil.’ Tawanya.

Jonghyun ikut tertawa. Didepan gadis ini, ia tidak perlu sok menjadi orang dewasa, ia cukup menjadi dirinya sendiri. Cukup menjadi Kim Jonghyun, lelaki yang hanya lebih muda setahun daripada gadis didepannya ini.

==

‘Aku akan pindah.’ Kata-kata itu bagaikan duri yang menusuk-nusuk hati Jessica. Matanya mengerjap beberapa kali, menatap lelaki yang didepannya. Senyum lelaki itu dipaksakan, matanya sayu.

‘Kapan? Kenapa?’ hanya pertanyaan itu yang terlontar dibibir merah mudanya. Ia menggigit bibirnya, matanya memancarkan binar-binar pahit—ia berusaha menahan tangisnya.

‘Sabtu ini.’ Suara anak lelaki itu memelan, tampak ia lelah. Senyum terpaksanya membuat gadis itu tertusuk. Tangan lelaki itu meraih jemari tangan Jessica.

‘Kita berdua, mungkin masih anak-anak. Mungkin belum saatnya, tapi aku harus mengatakannya. Sebelum aku pergi. Sebelum aku menyesal.’

‘Aku menyukaimu.’ Kata itu terucap bersamaan. Mata mereka bertaut, senyum kecil dan rona merah tampak di wajah mungil mereka.

‘Berjanjilah kau akan menungguku?’ ujar Jonghyun. Tersenyum samar, Jessica mengangguk.

‘Baiklah. Tapi, cepatlah pulang.’ Ujar Jessica. Anak lelaki itu mengangguk mantap.

‘Janji.’

==

Hari terakhir musim semi membuat bulu Jessica merinding. Ia tidak siap dengan berakhirnya musim semi.

‘Jessica, liat keluar. Tampaknya ada tamu.’ Gonta, gadis itu melangkahkan kakinya dari ruang tamu dan berjalan kepintu depan, lalu membukanya. Sepasang suami-istri tersenyum padanya.

‘Permisi, nak. Apa ibumu ada?’ tanya pria yang usianya mungkin sebaya dengan ibu atau ayahnya. Jessica mengangguk pelan.

‘Tapi… Tuan dan Nyonya ini siapa?’ tanyanya polos. Lalu, ia bisa mendengar derap langkah kaki berlari.

‘Eomma, appa! Aish…’ anak lelaki itu berlari menghampiri mereka. Jessica mengerjapkan matanya.

‘Sebentar, akan saya panggilkan. Oh, silahkan masuk.’ Ujarnya tersenyum manis. Ia berbalik, berlari-lari kecil kebelakang. ‘Eomma, ada tamu.’ Ujarnya.

‘Oh, apa orang yang akan pindah itu sudah datang?’ Jessica mengeryitkan dahinya. Pindah?

‘Maksud eomma?’ tanyanya, mencoba mengambil kesimpulan. Tidak ada rumah kosong di perumahan ini, kecuali…

‘Rumah Jonghyun kan dijual. Jadi mereka pindah. Ohya, temani anak lelakinya ya. Anaknya itu pemalu.’ Ujar ibunya lalu berjalan meninggalkan dapur. Jessica segera melangkahkan kakinya mengikuti ibunya keruang tamu.

‘Nyonya Jung!’ ujar sang istri. Ibunya tersenyum dan segera memeluk dan melakukan hal ibu-ibu, lalu bersalaman dengan suaminya.

‘Dan ini pasti Kyuhyun, anak anda?’ ujar ibunya. Anak lelaki itu tersenyum dan mengangguk.

‘Annyeong haseyo, eomonim.’ Ia tersenyum. Jessica menunduk dan menyalami pasangan suami-istri itu dan tersenyum pada anak lelaki itu.

‘Jessica.’ Ujarnya, memberi tangan kanannya. Anak lelaki itu mengangguk dan membalas jabatan tangannya.

‘Kyuhyun.’ Saat tangan mereka terpisah, sedikit senyum Kyuhyun menghilang. Jessica duduk disebelah ibunya, dan kembali menatap kosong ke jendela.

==

Kim Jonghyun men-dreeble bola basketnya dan melemparnya masuk ke-ring. Sepasang tangan merebut bola itu dan ia segera berbalik. Kim Kibum.

‘Kau harus stop.’ Ujar Kibum. Jonghyun membuka tangannya, menyuruh Kibum melemparkan bola basket itu padanya.

‘Urusi saja urusanmu.’ Ujarnya sedikit jengkel. Kibum terkekeh dan melempar bola basket yang dengan sigap ditangkap Jonghyun.

‘Kim Jonghyun, kau disini hanya 2 tahun. Setelah itu kau akan pindah lagi ke Korea dan bisa bersama siapa-itu-namanya.’ Ujarnya, meledek Jonghyun.

‘Darn, Key. Darn.’ Ujar Jonghyun jengkel dan melempar bola itu hingga menjatuhkan Key.

‘Ya! Apa masalahmu. Ck, Jonghyun-ah, kau gila.’ Ujarnya, lalu men-shoot bola itu masuk ke ring.

‘Aku takut ada pria lain yang menyukainya, Key.’ Key tertawa terpingkal. ‘Ya! Mana dukunganmu terhadap sepupumu ini?’

‘Apa salahnya kalau dia berpacaran dengan pria lain, Jjong? Gadis-gadis disini juga banyak yang menyukaimu. Kau lihat gadis yang disana itu?’ ujarnya menunjuk gadis berambut pirang pendek yang menatapnya diam-diam.

‘Siapa namanya lagi? Luna?’ tanya Jonghyun yang diberikan anggukan dari Key.

‘Dia menyukaimu semenjak kau ada disini, babo!’ ujar Key. Jonghyun mengacak-acak rambutnya.

‘Aish… Terserahlah. Aku mau tidur.’

==

‘Musim apa yang paling kau sukai?’ ujar Kyuhyun membuka pembicaraan kepada gadis yang berjalan disebelahnya. Hari pertama di musim panas, ibunya meminta tolong gadis disampingnya untuk menemaninya jalan-jalan mengenali Seoul.

‘Musim semi.’ Ujar gadis itu, tersenyum. ‘Kau sendiri?’ tanyanya.

‘Tidak ada.’ Ujar Kyuhyun pelan. Gadis itu tersenyum simpul. ‘Kenapa musim semi?’ tanyanya lagi.

‘Tidak ada alasan khusus.’ Jelasnya. ‘Menyukai sesuatu tidak memiliki sebuah alasan. Sama seperti menyukai seseorang.’ Ia tersenyum kecil.

‘First love?’ tanyanya. Gadis itu terkekeh.

‘Bukan first love. Menyukai seseorang. Siapa saja, yang keberapa saja. Apa perlu ada alasan?’ Kyuhyun tertawa kecil.

‘Kau benar.’ Ujarnya. Lalu kembali hening. ‘Aku sudah 5 tahun tidak ke Seoul. Banyak yang berubah.’ Ujarnya.

‘Benar. Sama seperti manusia, selalu berubah.’ Gadis itu tersenyum samar. ‘Oh. Kyuhun-ssi..’

‘Jangan panggil aku dengan –ssi, Jessica.’ Ujarnya, membuat lelucon. Jessica tertawa.

‘Kyuhyun-ah..’ ujarnya. ‘Kau mau makan apa? Aku traktir.’

‘Ddukbboki!’ ujarnya, tersenyum lebar. ‘Aku tau dimana tempat yang nikmat.’ Ujarnya, menggenggam tangan Jessica dan menariknya berjalan bersamanya.

Pipi Jessica bersemu merah. Ia tidak menyangka Kyuhyun akan menggenggam tangannya.

‘Mashitaaa(enak sekali).’ Ujar Kyuhyun seraya menyuapkan ddukbboki yang masih hangat kemulutnya. Jessica tersenyum sesekali saat melihat Kyuhyun makan dengan lahap. ‘Enak bukan?’

‘Eung, enak.’ Ujar Jessica tersenyum. Seorang pria keluar dari toko dan tersenyum saat melihat mereka.

‘Kyuhyun!’ ujarnya. Kyuhyun berbalik dan senyum menghiasi bibirnya.

‘Teukie hyung!’ ujarnya dan memeluk lelaki itu. Aku mengerjapkan mataku, tidak tau siapa pria itu.

‘Oh ya, hyung. Ini tetanggaku. Jessica.’ Ujarnya, memperkenalkanku. Segera aku berdiri dan membungkukkan badanku pada pria tadi.

‘Aku Leeteuk. Sahabat dekat dari Kyuhyun.’ Ujarnya. Aku tersenyum dan berjabat tangan dengan Leeteuk tadi.

‘Ohya hyung. Bagaimana, apa klub masih berlanjut?’ tanya Kyuhyun seraya duduk dan menepuk bangku disebelahnya, menyuruh Leeteuk untuk duduk. Aku kembali menyibukkan diri dengan ddukbboki-ku, tidak berniat mendengar pembicaraan mereka.

‘Tentu saja. Kau tau Henry?’ Kyuhyun mengangguk.

‘Dia sudah masuk ke klub kita. Ia juga mengajari kami bahasa inggris, dan Ryeowook sekarang sudah mulai bisa bermain piano dengan lincah.’ Kyuhyun terkekeh.

‘Aku masih ingat 5 tahun yang lalu ia sama sekali tidak tau tentang piano.’ Mereka berdua tertawa, aku terkekeh kecil, tetapi mereka berdua menyadarinya

‘Mian.’ Ujarku singkat dan menutup mulutku.

‘Tidak apa. Dengar saja.’ Ujar Kyuhyun, tersenyum padaku.

‘Tidak apa, lanjutkan saja pembicaraan kalian.’ Ujar Jessica perlahan. Tak selang beberapa lama, Kyuhyun bangkit.

‘Jessica, ayo.’ Ujarnya. Gadis itu berdiri dan segera mengangguk. Kyuhyun menatap Leeteuk dan berpelukan dengannya. ‘Aku akan kembali ikut klub setelah data-data pindah sudah kuurus. Aku akan menghubungimu, ok hyung?’ ujarnya.

‘Tenang saja. Spot untukmu selalu ada. Tidak akan ditempati orang lain.’ Ujar Leeteuk.

==

Laman facebook, twitter, blog Jessica seperti laman yang tak pernah dibuka. Jonghyun kerap kali mengecek, apakah ada tanda-tanda baru dari Jessica, status, tweet, blogpost terbaru, tetapi nihil. Hingga ada satu email yang membuat hidup Jonghyun kembali. Email dari Jessica.

Jonghyunnie!

Bagaimana kabarmu disana? Aku harap kau baik-baik saja. Sudah lama aku ingin mengirimkan email padamu. Tetapi aku sangat sibuk diakibatkan ada tetangga baru. Ya, dia menempati rumahmu dulu kau tahu. Tn. dan Ny. Cho sangat baik. Begitupula anaknya, namanya Kyuhyun. Jadi, aku harus menemani anaknya kesemua tempat di Seoul, karena ia melihat banyak perubahan disini.

Musim semi sudah berakhir. Apa yang akan kau lakukan selama liburan musim panas? Lakukan hal-hal yang tidak ektrem oke? 😉 Aku sangat merindukanmu. Aku harap kau cepat pulang. Balas email ini.

Kecup sayang,

Sica

xoxo

Jonghyun tersenyum dan segera membalas email Jessica, lalu mengirimnya. ‘Ah, kalian berdua romantis sekali.’ Ledek Key saat melihat email mereka.

‘Ya! Aish, aku menyesal meminjamkan laptopku padamu. Kau mengutak-atik file-file ku.’ Ujar Jonghyun jengkel.

‘Aku tidak peduli. Tapi… Siapa Kyuhyun?’ Jonghyun terdiam. Ia tidak bertanya tentang Jonghyun diemail tadi!

‘Aku tidak tahu. Katanya orangtua dari Kyuhyun itu membeli rumahku, dan sekarang mereka yang menempatinya.’ Ujarnya sedikit jengkel.

‘Bisa tercium bahwa seorang Kim Jonghyun sedang cemburu.’ Ujar Key lalu terbahak. ‘Sudah kubilang kan, pacari saja Luna, siapa tau kau bisa melupakan si Jessica itu.’

‘Ya! Aku hanya menyukai Jessica, kau kan tau itu.’ Ujar Jonghyun, melemparkan bantal kecil ke Key.

‘Aku tau, aku tau. Tapi kan tidak ada salahnya mencoba.’ Ujarnya, lalu berjalan keluar. ‘Jangan sampai salah langkah.’ Ujarnya sebelum menutup pintu.

Jonghyun memeluk bantalnya dan menggigit bibirnya. Kim Jonghyun payah.

==

‘Aku tidak tau cara bermain basket.’ Ujar gadis itu.

‘Kenapa ada ring basket disini, kalau begitu?’ ujar Kyuhyun. Gadis itu tersenyum kecil.

‘Aku sering diajari Jonghyun dulu saat dia masih disini. Tapi sampai sekarang aku tidak bisa.’ Ia terkekeh pelan.

‘Jonghyun. Siapa dia?’ tanya Kyuhyun.

‘Oh, itu pemilik rumah yang kau tempati sekarang.’ Ujar Jessica. Kyuhyun mengangguk seraya men-dreeble bola basket yang sedari tadi dipegangnya.

‘Kau bisa bermain basket?’ tanya Jessica akhirnya. Kyuhyun terkekeh.

‘Tidak dan Iya. Keduanya.’ Ia tersenyum. Jessica duduk disalah satu bangku. ‘Mau kuajari?’ tanyanya.

‘Lebih baik jangan. Nanti kau akan menyesal.’ Canda Jessica. Kyuhyun ikut tertawa dan duduk disampingnya.

‘Kau pernah menyukai seseorang?’ tanya Kyuhyun. Jessica mengerjapkan matanya.

‘Pernah. Saat SD, hingga sekarang.’ Tawanya. ‘Entahlah, mungkin memang benar dia.’

‘Siapa?’ tanya Kyuhyun—sorot matanya terlihat penasaran. Tangannya men-dreeble bola santai, tetapi Jessica terdiam beberapa saat.

‘Kim Jonghyun.’ Ia menghela nafas panjang. Kyuhyun terdiam beberapa saat.

Gadis itu menyukai Kim Jonghyun, Kyuhyun terdiam. Pernyataan polos Jessica Jung membuatnya sedikit kaget—sedih karena ia mulai menyukainya.

‘Apa dia akan kembali?’ suara Kyuhyun memberat—sedikit rasa kecewa terbersit dihatinya.

‘Entah.’jawaban Jessica Jung. Ia melirik Jessica Jung yang menerawang ke langit. ‘Yang pasti, ia sedang mengejar mimpinya disana. Aku yakin.’ Ia tersenyum menatapnya.

‘Kau mempercayai akan takdir?’ tanya Kyuhyun—berhenti mendreeble bola dan menatapnya, tersenyum.

‘Ya dan Tidak. Terkadang takdir membuat kita bodoh.’ Jessica mengulum senyum—matanya kali ini memandang kelangit jingga-kekuningan. ‘Suatu saat nanti—entah kapan, kau akan menyadari bahwa takdir bermain denganmu.’

‘Kenapa melankolis sekali?’ ujar Kyuhyun—tertawa.

‘Ini aku. Aneh, ya?’ tanyanya—senyumnya terbentuk kecil. Kyuhyun terkekeh pelan.

‘Tidak. Itu menarik.’ Kyuhyun bersua. Jessica tersenyum.

‘Gomapta.’ Ujarnya. ‘Aku… Masuk dulu.’ Ujarnya—melangkahkan kaki menuju rumahnya, meninggalkan Kyuhyun dilapangan basket, masih mendreeble bolanya.

Fall or not?

‘Apa?!’ nada suara Jonghyun meninggi. Ibunya menatapnya sedih. ‘Tapi, eomma bilang hanya setahun!’ ujarnya—nada suaranya marah, emosi.

‘Maafkan eomma, Jonghyun. Appa juga baru tahu tadi.’ Suara ayahnya mencoba menenangkannya. Jonghyun mengerucutkan bibirnya, marah.

‘Ayahmu sedang berusaha agar kita cepat pulang.’ Ujar Ibunya. Jonghyun mendelik kesal.

‘Setelah setahun, aku akan kembali ke Korea. Tidak mau tau.’ Ujarnya datar.

‘Jonghyun, eomma mohon. Jangan.’ Ibunya mulai menangis.

‘Keputusanku sudah bulat.’ Ujarnya—melangkahkan kakinya menuju kamarnya. ‘Aku tidak akan merubahnya.’

Sudah 6 bulan sejak kepergian Jonghyun, Jessica mulai kembali bersemangat dengan hadirnya Kyuhyun. Hari-harinya mulai kembali seperti semula—seperti saat Jonghyun ada.

‘Ya! Sica!’ Jessica berbalik, melihat Kyuhyun tersenyum lebar—menenteng sekarton belanjaan.

‘Cho Kyuhyun? Apa maksudmu?’ ujar Jessica—mendapati smirk Kyuhyun yang aneh. ‘Aku tidak bisa memasak. Dan kau juga tidak bisa.’ Elak Jessica.

‘Eomonim akan memasak untuk kita! Apa kau belum tau orangtuaku menitipku disini selama mereka ke London?’ tanya Kyuhyun dengan wajah polosnya.

‘Eommaaa!!!!!!!!!’ teriak Jessica kesal.

‘Ya eonnie! Suaramu keras sekali!’ ujar Krystal—menjulurkan badannya dari kamar. ‘Oh, Kyu oppa! Annyeong!’ ujarnya—tersenyum ramah.

‘Kryssie! Annyeong!’ balas Kyuhyuk tidak kalah ramah—lalu kembali menatap Jessica. ‘Jadi, aku membeli bahan-bahan memasak ini sebagai tanda terima kasih eomonim mau menerimaku menumpang disini.’

‘Ya! Kau itu sudah 17 tahun! Kenapa masih harus menginap sih?’ ujar Jessica—nada suaranya terdengar jengkel.

‘Karena aku satu-satunya anak mereka, jadi mereka takut aku mengikuti pergaulan yang jelek dan sejenisnya.’ Ujar Kyuhyun polos.

‘Arrghh, terserah! Aku mulai gila!’ ujar Jessica, berbalik dan berjalan menuju kamarnya seraya mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa inggris yang sempurna.

‘Jessica, Kyuhyun akan menempati kamarmu, jadi tolong dibersihkan, ya?’ ujar Ibu Jessica. Kyuhyun dapat melihat persis raut muka Jessica tetap yang sama—jengkel.

‘Tidak usah eomonim. Saya tidur di ruang-tamu saja.’ Ujar Kyuhyun sopan.

‘Ya, itu lebih baik.’ Ujarnya. Kyuhyun tahu ia tidak jengkel karena mereka adalah teman yang cukup dekat sekarang, tapi Kyuhyun mengerti dan ia suka menggoda Jessica.

‘Jessica!’ ujar ibunya. Jessica menatapku jengkel.

‘Ah, terserah! Aku sudah selesai makan.’ Ujarnya—melangkahkan kakinya menuju ruang TV. Kyuhyun terkekeh kecil bersama Krystal.

‘Ya! Oppa!’ ujar Krystal. Kyuhyun menatapnya bingung. ‘Kau menyukai Sica eonnie ya?’ Kyuhyun tertawa.

‘Mana mungkin aku menyukai icy princess seperti dia. Aku menyukai gadis yang bisa menerima keadaanku. Pencinta game!’ ujar Kyuhyun—tertawa lepas. Hatinya berdenyit. Ia membohongi perasaanya.

‘Ya! Aku kan sudah bilang aku tidak mau pergi bersama Luna! Ya! Kim Kibum!’ teriak Jonghyun protes. Key tetap menariknya keluar rumah.

‘Kau butuh udara segar kawan! Gadis itu juga menyetujuinya!’ ujar Key dengan senyum khas andalannya.

‘Darn Key. Darn! Aku tidak mau!’ ujar Jonghyun—memaksakan tangannya terlepas dari genggaman super Key.

‘Oh come on, Jjong! This is just a blind date! Aku tidak memaksamu berpacaran dengan Luna.’ Ujar Key—melipat kedua tangan kekarnya didepan dada.

‘Aku tidak mempermasalahkan itu, tapi aku tidak mau!’ gertak Jonghyun. ‘Aku hanya mau Jessica Jung.’ Ujarnya. Ia berbalik, melangkahkan kakinya keatas dan masuk ke kamarnya. Jonghyun membuka website mengecek email.

No new email.

Jessica masih belum membalas surelnya.

Advertisements

One response to “Seven Springs [First Spring]

  1. Pingback: Seven Springs [Second Spring] | Safe and Sound·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s